Kisah Nabi Shaleh Alaihis Salam

oleh -348 views
Kisah Nabi Shaleh Alaihis Salam

Nabi Shaleh AS adalah satu dari 25 nabi yang wajib kita imani. Nabi Shaleh AS diutus Allah SWT untuk berdakwah kepada kaum yang hidup setelah kaum ‘Aad, yaitu kaum Tsamud.

Kaum Tsamud adalah kaum yang juga menyembah berhala seperti kaum sebelumnya. Mereka hidup dalam kesesatan yang nyata.

Allah SWT kemudian mengutus rasul-Nya, Nabi Shaleh AS untuk menyadarkan kaum Tsamud. Namun, sebagian besar dari kaumnya tetap hidup dalam kekafiran dan tiada hentinya mencaci maki nabi Shaleh AS.

Kisah Nabi Shaleh AS dan kaum Tsamud dijelaskan dalam beberapa surat dalam Al Quran. Seperti surat Al-A’raf: 73-79, surat Hud: 61-68, surat Al-Hijr: 80-84, surat Al-Isyra: 59, surat Asy-Syu’ara’: 141-159, surat an-Naml: 45-53, surat Fussilat: 17-18, surat al-Qamar:23-32, surat Asy-Syams: 11-15, dan surat Ibrahim: 8-9.




Berikut kisah Nabi Shaleh AS:

1. Kelembutan Dakwah Nabi Shaleh AS

Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karangan Ibnu Katsir, Nabi Shaleh AS berdakwah dengan penuh kelembutan. Ia menasihati kaumnya untuk menempati negeri dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah ruah.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Asy-Syu’ara’ ayat 146-152 sebagai berikut,

أَتُتْرَكُونَ فِى مَا هَٰهُنَآ ءَامِنِينَ

Artinya:” Adakah kamu akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kamu ini) dengan aman.” (Q.S Asy-Syu’ara’:146)

فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ

Artinya: “Di dalam kebun-kebun serta mata air.” (Q.S Asy-Syu’ara’:147)

وَزُرُوعٍ وَنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيمٌ

Artinya: “dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang lembut.” (Q.S Asy-Syu’ara’:148)

وَتَنْحِتُونَ مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا فَٰرِهِينَ

Artinya:” Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.” (Q.S Asy-Syu’ara’:149)

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ

Artinya: “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (Q.S Asy-Syu’ara’:150) .

وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَ

Artinya: “dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas.” (Q.S Asy-Syu’ara’:151)




Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menjelaskan bahwa kaum Tsamud mengerjakan semua itu dengan cerdas, terampil, dan ulet. Oleh sebab itu, diperintahkan untuk menerima nikmat Allah dengan rasa syukur serta mengerjakan amal saleh, beribadah hanya kepadaNya, dan tidak menyekutukan-Nya.

Nabi Shaleh juga memperingatkan untuk tidak menentang Allah dan menyimpang dari ketaatan pada-Nya, karena dampak yang ditimbulkan akan sangat buruk bagi kaum Tsamud.

Dalam menyampaikan ajaran-Nya, Nabi Shaleh AS selalu bersikap lembut. Hal tersebut diungkapkan lewat kata-kata indahnya dan penuh keluwesan dalam mengajak kaumnya untuk menuju kebaikan.

Sebagaimana dikatakan dalam firman Allah SWT pada Q.S Hud ayat 63 yang artinya:

“Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian.” (Q.S Hud: 63).

Namun, setelah Nabi Shaleh AS menasihati dengan kelembutan, kaum Tsamud membalasnya dengan mengganggap Nabi Shaleh AS sebagai orang yang terkena sihir. Seperti dijelaskan dalam Q.S Asy-Syua’ra: 153 yang artinya “Sesungguhnya, kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang terkena sihir.”



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *