Home Internasional 5 Alasan Biden Bisa Kalahkan Trump

5 Alasan Biden Bisa Kalahkan Trump

by Gun
5 Alasan Biden Bisa Kalahkan Trump

Joe Biden berhasil mengalahkan Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat 2020. Bersama Kamala Harris, pasangan yang diusung Partai Demokrat itu mampu mengungguli perolehan suara elektoral atas petahana.[penci_related_posts title=”Baca Juga” number=”4″ style=”list” align=”none” displayby=”tag” orderby=”random”]

Tak hanya kemenangan, Biden dan Harris juga mengukir sejarah dalam pilpres ini. Biden memecahkan rekor suara terbanyak pilpres dalam sejarah AS. Sementara Kamala Harris menjadi wanita dan kulit hitam pertama yang menjadi wakil presiden di AS.

Joe Biden akan menjadi presiden ke-46 Amerika Serikat di usianya yang memasuki 78 tahun.

Berikut lima alasan mengapa Biden mampu mengalahkan petahana Trump.

Covid-19

Penanganan Trump terhadap pandemi virus corona dan kejatuhan ekonomi kemungkinan menjadi penyebab utama turunnya popularitas petahana.

Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh tim kampanye Biden untuk mencuri suara.
Lihat juga: Tak Terima Kekalahan, Trump Gugat Hasil Pilpres AS

AS terus mengalami lonjakan kasus baru virus corona beberapa pekan menjelang pemilihan, bahkan sang presiden ikut tertular.

Negeri Paman Sam mencatat rekor harian infeksi Covid-19 sebanyak 102.831 kasus baru pada Rabu (4/11) di tengah proses pemilihan umum. Rekor kali ini menjadi catatan tertinggi kasus harian Covid-19 di AS untuk pertama kalinya.

Sampai saat ini AS masih menjadi negara dengan kasus dan kematian akibat corona tertinggi di dunia.

Kepercayaan publik AS kepada Trump tergerus akibat pandemi corona. Jajak pendapat yang dilakukan oleh Pew Research pada bulan Oktober menunjukkan bahwa Biden unggul 17 persen atas Trump dalam hal kepercayaan tentang penanganan terhadap Covid-19.

Dikutip dari Straits Times, Biden selalu memaparkan rencana untuk menangani pandemi sejak awal kampanye.

Dia mengungkapkan kepada para pemilih rencana terperinci untuk memerangi virus, termasuk aturan pemakaian masker secara nasional, meningkatkan pengujian Covid-19 dan memperkenalkan program untuk perawatan kesehatan dan pemulihan ekonomi.

Kampanye apa adanya

Trump terkenal dengan pernyataan kontroversial dan sensasional, bahkan dilakukan selama kampanye.

Dia juga kerap menggelar kampanye yang dihadiri banyak orang tanpa memerhatikan protokol kesehatan di tengah pandemi. Trump melakukan kampanye secara jor-joran.

Trump pernah mengunjungi tiga negara bagian dalam satu hari, Michigan, Wisconsin, dan Las Vegas. Sebaliknya, Biden mengadopsi jadwal kampanye yang tidak terlalu hiruk pikuk.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa Biden bukan tanpa cacat selama hampir 50 tahun menjabat di kantor publik.

Dan mengurangi jadwal kampanye bisa menjadi upaya untuk meminimalisir kesalahan, termasuk kesalahan bicara.

Siapapun asal bukan Trump

Pesan kemenangan Biden hanyalah bahwa dia bukan Trump, tulis reporter BBC Amerika Utara Anthony Zurcher.

“Biden mempertaruhkan keuntungan politiknya pada anggapan bahwa Trump terlalu polarisasi dan terlalu menghasut, dan yang diinginkan rakyat Amerika adalah kepemimpinan yang lebih tenang dan kokoh,” tulisnya.

Sementara itu, komentator politik senior CNN David Axelrod mengatakan kelakar Trump selama menjabat membuat banyak pihak bertekad mengakhiri pemerintahannya yang penuh badai dan memecah belah.

“Joe Biden menempatkan dirinya sejak awal sebagai penawar bagi politik keras Trump, penyembuh, bukan pemecah.”

Tetap di tengah

Sebelum menjadi kandidat capres Demokrat, Biden menggunakan strategi sentris, menolak mendukung perawatan kesehatan universal yang dijalankan pemerintah, pendidikan perguruan tinggi gratis, atau pajak kekayaan.

“Ini memungkinkan dia untuk memaksimalkan daya tariknya pada orang-orang moderat dan tidak terpengaruh dengan Partai Republik selama kampanye pemilihan umum,” tulis Zurcher dari BBC.

Strategi ini tercermin dalam pilihan calon wakil presiden Biden. Dia memilih Kamala Harris meski sebenarnya dia bisa memilih seseorang dengan dukungan lebih banyak dari sayap kiri partai Demokrat.

Lebih banyak uang

Biden memiliki keuntungan finansial atas Trump di minggu-minggu terakhir menjelang hari pemungutan suara, meningkatkan rekor 493,8 juta dolar AS dalam dua bulan sebelum pemilihan 3 November.

Dengan memiliki total 761,2 juta dolar AS, Biden mendapatkan banyak keuntungan atas kampanye Trump yang mengalami krisis uang.

Sementara Trump berhasil mengumpulkan 1,5 miliar dolar AS sejak 2019, namun banyak dihabiskan pada tahap awal pemilihan ketika para pemilih tidak terlalu memperhatikan, lapor Financial Times.

Kampanye Trump dimulai Oktober dengan sisa uang tunai 63,1 juta dolar AS, mengalami penurunan hampir 50 persen dari 121,1 juta dolar AS pada September. Meski demikian keunggulan finansial bukanlah satu-satunya alasan untuk menang.

You may also like

Leave a Comment