Home Lifestyle Sulawesi Tenggara, ‘Bumi Anoa’ yang Nyaris Nihil Anoa

Sulawesi Tenggara, ‘Bumi Anoa’ yang Nyaris Nihil Anoa

by Gun

Konsep OtomatisSulawesi Tenggara mendapat sebutan Bumi Anoa karena provinsi tersebut menjadi salah satu habitat kawanan anoa di Indonesia.[penci_related_posts title=”Baca Juga” number=”4″ style=”list” align=”none” displayby=”tag” orderby=”random”]

Anoa dipajang dalam lambang provinsi Sulawesi Tenggara, yang juga dibingkai oleh mata rantai, padi, dan kapas. Mamalia yang dilindungi itu melambangkan keuletan dan kegesitan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Banyak yang menyebut Anoa (Bubalus sp.) sebagai kerbau kecil, namun yang jelas hewan ini merupakan fauna peralihan antara benua Asia dan Australia.

Ada dua spesies Anoa yang teridentifikasi, yakni Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis).

Meski mirip kerbau, tapi hewan bertanduk ini sulit dijinakkan menjadi hewan ternak. Oleh sebab itu mereka memilih tinggal di tengah hutan dan menjauh dari pemukiman manusia.

Sebagai hewan herbivora, Anoa memakan tumbuhan air seperti pakis dan rumput. Ia juga gemar menjilati batu yang mengandung garam untuk memenuhi kebutuhan mineralnya.

Anoa paling sering diburu untuk diambil kulit, tanduk, dan dagingnya. Perburuan liar juga diperparah reproduksi yang melambat dikarenakan eksploitasi hutan secara massif.

Sejak tahun 1986, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan Anoa dalam daftar satwa terancam punah.

Mengutip dari ANTARA pada Juli kemarin, Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, mencatat sebanyak 19 ekor Anoa masih berada di kawasan taman nasional tersebut.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Balai TNRAW, Benny E Purnama, mengatakan, data tersebut merupakan data terakhir sejak tahun 2019 lalu.

“Data terakhir 2019 untuk Anoa ada sekitar 19 ekor terbagi atas Anoa Pegunungan 3-4 ekor dan Anoa Dataran Rendah sekitar sekitar 11-15 ekor,” kata Benny yang optimis data tersebut tentu terus bertambah.

Selain Anoa, pihaknya juga mencatat keberadaan puluhan Burung Maleo, Kakatua Kecil Jambul Kuning, Rusa, dan Burung Air sepanjang tahun lalu.

Walau eksistensi Anoa masih tercatat di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, namun Benny mengatakan bahwa Anoa semakin langka dijumpai.

Bahkan jika beruntung, Anoa hanya bisa dilihat melalui kamera pengintai di dalam hutan.

Perburuan dan penebangan liar di Taman Nasional Rawa Aopa hingga saat ini masih terus menjadi kendala pelestarian satwa liar di dalamnya, termasuk Anoa.

“Saat ini upaya yang bisa kami lakukan demi mengantisipasi perburuan liar adalah melakukan patroli rutin pada site monitoring satwa prioritas, patroli mandiri habitat satwa tersebut, dan sosialisasi perlindungan satwa liar,” pungkas Benny.

You may also like

Leave a Comment