Home Entertainment Ferry Mursyidan Baldan Bicara Tentang Musik dan Chrisye

Ferry Mursyidan Baldan Bicara Tentang Musik dan Chrisye

by Gun

Ferry Muryidan Baldan Bicara Tentang Musik dan ChrisyeSelama ini Ferry Mursyidan Baldan dikenal sebagai politisi. Pernah menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (2014-2016), pernah menjadi Ketua Umum PB HMI (1990-1992). Boleh jadi, banyak yang belum tahu, bahwa di sisi lain Ferry adalah penggemar musik, khususnya lagu-lagu yang dinyanyikan oleh mendiang Chrisye.[penci_related_posts title=”Baca Juga” number=”4″ style=”list” align=”none” displayby=”tag” orderby=”random”]

Politisi yang ramah dan friendly ini mempunyai atensi besar terhadap musik. Ketika ditemui di studio rekaman “Air Studio”, Cijawura, Kota Bandung, saat take vocal lagu “Hymne HMI” bersama sejumlah alumni HMI Cabang Bandung, Rabu (19/08/20), Ferry mengungkapkan, “Saya di dunia musik itu sebagai penggemar, khususnya sebagai penggemar lagu-lagu Chrisye, mengoleksi lengkap karya-karya rekamannya dan ditandatangani oleh almarhum. Saya mengenal Chrisye sejak saya masih di SMA, saya waktu itu memandang Chrisye sebagai pembawa aliran baru dalam musik Pop Indonesia. Kekuatan lirik dari lagu-lagu yang dibawakan oleh Chrisye mengggugah perasaan saya sebagai remaja. Lama kelamaan saya menggandrungi lagu-lagu Chrisye, menonton konser-konsernya. Kemudian mencoba mengenal sosok Chrisye lebih dekat, difoto bersama. Karena sering mendengar dan menyenandungkannya, saya jadi hafal lagu-lagu Chrisye.”.

Lagu yang pertama kali membuat Ferry menjadi fans Chrisye adalah “Badai Pasti Berlalu”. “Saya sampai tiga kali menonton filmnya,” ungkapnya. Dan lagu Chrisye yang paling sering dinyanyikan oleh Ferry di ruang publik adalah “Merpati Putih”. TVRI Pusat dan Kompas TV pernah menampilkan kebolehan Ferry dalam menyanyikan lagu-lagu Chrisye.

Di mata Ferry, Chrisye adalah sosok legendaris. Karena itu, pasca wafatnya Sang Legenda, Ferry kerap menggelar kegiatan terkait sosok Chrisye, dan mencetak buku memorial Chrisye. “Semua dilakukan dalam perspektif fans, tidak profit oriented. Maksudnya bagaimana agar nama Chrisye tidak terhapus begitu saja dari ingatan masyarakat, jangan hilang begitu saja ditelan waktu. Kelegendaannya harus dijaga,”

Ketika Ferry menjadi Menteri, dikantornya selalu berkumandang lagu-lagu instumental Chrisye. Dan Ferry juga punya kliping berita lengkap wafatnya Chrisye. Kliping tersebut pernah diminta untuk disimpan di Museum Musik Indonesia di Malang. Itulah cara Ferry menjaga dan merawat kelegendaan Chrisye.

Bicara musik terkait dengan profesinya sebagai politisi, Ferry berujar, “Musik bisa menghaluskan perasaan kita terhadap politik. Politik itu sebuah art, sebuah seni. Seni mengkomunikasikan, seni mempengaruhi, seni negoisasi, seni melobby. Disini menariknya, bukan lagi soal kalah atau menang dalam voting tapi prosesnya. Dalam proses itu ada yang bisa diwakili oleh musik atau lagu. Saya mencoba mengawinkan ide-ide dalam lagu dengan profesi yang sedang saya jalani,”.

Menurut Ferry, genre musik boleh berlainan, tapi musik itu universal, menembus batas-batas tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, menghubungkan atas bawah, samping, depan belakang, menghubungkan antar generasi. “Ketika kita menghadiri konser, menikmati musik secara bersama, disitu terjadi silaturahmi lintas generasi. Misalnya saat kita nonton konser Koes Second Generation,” kata alumnus Fisip Unpad tahun 1988 ini.

“Musik juga merupakan tool silaturahmi. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini, orang mengobati rasa kangen dengan konser-konser virtual. Ini sebetulnya, penyanyi itu merawat dan mengokohkan silaturahmi, ketika mereka menyanyi bersama dan menyapa masyarakat dengan bantuan teknologi yang ada,” papar mantan anggota Komisi II DPR-RI (2004-2009) sekaligus Ketua Pansus RUU Pemilu ini.

Belum lama berselang, bersama teman-temannya di komunitas “Rasela”, Ferry rekaman lagu “Damai BersamaMu”-nya Chrisye. Menurut Ferry, kegiatan rekaman itu juga mengokohkan silaturahmi. “Dalam kegiatan rekaman itu kita bisa merasakan kebersamaan, egaliter. Lepas dari semua atribut. Kita semua sama. Mereka yang tidak ikut rekaman suara bisa ikut dalam pembuatan video clipnya. Lewat kegiatan rekaman itu kita juga belajar menghargai profesi orang lain. Tidak pandang siapa, kalau rekaman vokal tentu harus mengikuti arahan dari vocal director,” tutur pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1961 ini. Video clipnya sudah tayang di YouTube (channel Ferry M Baldan). Ini link-nya, https://youtu.be/XT32oYDnCII.

Ketika ditanya apakah ada rencana untuk rekaman solo covering lagu-lagu Chrisye dan menyuguhkannya kepada publik, anak kedua dari empat bersaudara keluarga Baldan Nyak Oepin dan Syarifah Fatimah ini menjawab, “Kemauan sih ada tapi belum confident …hahaha…,”.

 

Yosie Wijaya

You may also like

Leave a Comment