Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Ujung Genteng Pantai yang Eksotik

Ujung Genteng Pantai yang Eksotik - Aksi.co

Penulis Aksi | Friday 18 April 2014

Ujung Genteng ternyata jadi destinasi yang tak kalah seru untuk mengisi libur panjang akhir pekan. Di sana, wisatawan bisa bermain di pantai atau sekadar istirahat menikmati udara segar yang belum berpolusi.

Ya tepat 1 tahun lebih 9 hari yang lalu saya dan teman-teman merayakan pergantian tahun 2011-2012 di Ujung Genteng. Mungkin ini untuk pertama kalinya kita merayakan tahun baruan keluar kota, karena dari tahun ketahun biasanya siih kita hanya keliling Kota Bandung saja.

Memang sangat disayangkan tidak semua dari kita yang ikut. Hanya 10 orang yang bisa ikut dan sisanya dengan berbagai alesan tidak dapat meluangkan waktunya untuk berlibur atau merayakan tahun baruan bersama. Memang dari dulu kita semua tidak terlalu kompak untuk perjalanan yang direncanakan seperti ini, dari berbagai hal terutama dalam bepergian berlibur seperti ini. But it’s oke, just enjoy.

Dari jauh hari kita sudah merencanakan untuk Tahun Baru di Ujung Genteng. Katanya Ujung Genteng adalah Lombok-nya Jawa. Rencananya di sana kita akan bermalam di pesisir pantai dengan membuat sebuah tenda yang besar. Kami juga akan membuat api unggun dan bakar-bakar ayam & jagung sambil menunggu pergantian tahun.

Tepat hari Sabtu, tanggal 31 Desember 2011, pukul 2 pagi kita berangkat dua mobil dari rumah “Nggak terlalu pagi broo?”

“Kalau kesiangan takut kemacetan dong, tahukan kalau Tahun Baru macetnya kaya gimana” jawab salah seorang teman.

Sebelum pergi kita pun berdoa bersama meminta keselamatan kepada sang pencipta, dan setelah itu kita pun memulai perjalanan. Kita bersepuluh dibagi dua kelompok, untuk 6 orang yaitu “Kino, Kizul, Agung, Fachrie, Ulil, dan Monchong” di mobil APP. Sedangkan 4 orang lainnya yaitu “Angga, Bonny, Bambang, dan saya sendiri” di mobil Jazz, saya lebih memilih tempat di mobil Jazz.

Selain ruangannya lebih luas karena cuman berempat, dan ketiga teman yang lainnya yaitu si Bonny, Angga dan Bambang yang Easy listening untuk masalah musik. Menurut saya musik itu penting, kalau yang di APP sih beberapa dari mereka kalau dikasih lagu cadas dikit pasti menggong-gong

“Iya ada anjing menggonggong, piss mas broo skalia,”  padahalkan sedikit cadas biar semangat. Masa baru juga berangkat mau diplay lagu Selalu Salah dari Geisha atau Cinta Dua Hati dari Afgan dan musik Indonesia lainnya yang mungkin sedikit lebay yang bisa bikin ngantuk perjalanan. “Bahkan bisa membanjiri perjalanan dengan air mata,”

Untuk menghangatkan suasana sayapun menyalakan musik dari mobil yang sudah saya siapkan dari jauh-jauh hari untuk perjalanan ini. Lantunan lagu The Passing-Lamb Of God cocok untuk mengawali perjalanan ini dengan instrumentalnya yang membuat telinga bikin gregetan. Dilanjut dengan lagu In Your Worlds-Lamb Of God mulai menyemangati perjalanan ini

“Tuhkan, kalau dikasih lagu ginian jadi semangat.”

Bonny yang duduk di depan sebelah kiri tidak henti-hentinya berkicaw dengan banyolannya yang khas sedikit meramaikan perjalanan. Angga sang Driver yang sedikit khusus memfokuskan pada arah jalan sesekali dibuat tertawa dengan banyolan yang keluar.

Bambang yang duduk dibelakang sebelah kanan tidak banyak bersua karena sepanjang perjalan dia sibuk tidur-bangun-ngemil-tidur-bangun-ngemil.

“Wew pemalasan sekali nih manusia yang satu ini,” Sayapun yang duduk di sebelah kiri belakang menikmati perjalanan dengan membuka jendela mobil untuk melihat pemandangan pagi yang masih gelap sambil menyalakan sebatang rokok dan cemilan. Tidak terasa setelah lagu demi lagu dinikmati akhirnya kita hampir sampai di Sukabumi. Sebelum masuk kota Sukabumi kitapun istirahat  elama 20 menit di salah satu supermarket di sana.

Dengan lantunan lagu All Shall Perish dari album Awaken The Dreamers, kamipun melanjutkan perjalanan. Sesampai di Sukabumi kami sempat tersesat 2 kali berputar di tempat yang sama.

“Haha, maklum baru pertama ke Ujung Genteng,”. Akhirnya kita menanyakan jalan ke sebuah kios sambil saya membeli secangkir coffee Goodday Mocachino untuk menghangatkan tubuh.

Setelah mendapat pencerahan kita pun dapat melewati kota Sukabumi dengan lancar. Kurang lebih Jam menunjukan pukul 05.00 WIB, saya memutuskan untuk mencari mesjid untuk sholat shubuh. Kamipun berhenti di Pom Bensin, karena yang lain sedang mengalami menstruasi. Sayapun pergi sendiri ke musala untuk sholat. Setelah 15 menitan kamipun melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian si Bonny yang tadinya banyak berkicau menemani si Angga sang driver mendadak diam tak bersua, beberapa saat kemudian si Angga menghentak tertawa terbahak-bahak mengagetkan saya dan si Bambang yang duduk dibelakang. Kita semuapun tertawa, tanpa disadari ternyata dia sudah munta karena mabuk perjalanan.

Untungnya dia sudah menyediakan kantung plastik, dan kitapun berhenti diwarung untuk membeli obat anti mabuk. Setelah itu sebelum melanjutkan perjalanan Bonny memintaku untuk bertukar tempat duduk supaya katanya sih kalau dibelakang dia bisa menidurkan diri kepangkuannya si Bambang. Kasihan juga sih dia sudah menghabiskan 3 kantung plastik untuk mengeluarkan muntahnya yang hampir 7 kali berselang.

Ketika memasuki daerah perhutanan yang jalannya bekelok-kelok, terasa begitu mengesankan dengan keindahan alam yang diterangi sedikit matahari yang hampir terbit, diselingi lagu instrumentalnya All Shall Perish-From So Far Away dengan beberapa cemilan, secangkir Mocachino dan sebatang rokok, kunikmati moment itu. Beberapa saat kemudian saya meminta berhenti di pinggiran gunung yang membentang alam semesta untuk buang air kecil. Kitapun berhenti dan ternyata beberapa dari mereka juga sudah kebelet pipis.  Ulil sang fotografer dengan camera SLR nya keluar dari mobil APP untuk mengabadikan moment itu. Kitapun berfoto ria sebentar.

Setelah kurang lebih 10 menitan berhenti dan bernarsis ria, kitapun melanjutkan perjalanan. Tidak terasa kitapun hampir sampai di Ujung Genteng. Setelah 4 album dari TOTALFAT-All The Dreamers Light The Dream (2008), For Whom The Rock Rols (2009), Over Drive (2010), Damn Hero (2011) menemani perjalanan.

Tepat pemandangan di sampingku yang penuh dengan pohon kelapa. Dari kejauhan terlihat laut biru yang membentang luas dengan pasir yang putih membuat kita semua semangat dan sudah tidak sabar ingin cepat sampai ditempat tujuan.

esampai di Ujung Genteng, tepat pukul 09.00 WIB kitapun beranjak mengitari kawasan pantai untuk mencari tempat beristirahat. Kami sepakat untuk menetap dikawasan CiBuaya, dikarenakan berdekatan dengan Ci’Panarikan, Pantai Akuarium, dan Pantai Pangumbahan (tempat pembudidayaan Penyu).

Karena tidak membawa tenda dan dari berbagai perbedaan pendapat kitapun keluar dari jalur yang direncanakan sebelumnya, dan mencari vila atau losmen sewaan. Setelah hampir 3 jam kita berputar-putar mencari tempat yang sesuai dengan Budget, kita pun tidak menemukannya karena tahun baru yang harga sewanya melambung beberapa kali lipat.

Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak disalah satu warung yang berada dipinggiran pantai, dan kebetulan disamping warung itu ada tempat gubuk seperti pos hansip yang disediakan kursi dan meja untuk makan oleh si Bapak yang punya warung. Akhirnya, setelah melobbi si bapak yang punya warung akhirnya kita diizinkan untuk menempati gubuk itu, dan meminta listrik untuk keperluan Carger HP, dan laptop beserta speakernya untuk bermusik ria.

Kurang lebih waktu menunjukan pukul 02.00 WIB, sayapun mencari mushola untuk salat. Beruntung musala tidak jauh dari tempat itu, selesai salat saya kembali ke tempat teman-teman berkumpul.

Setelah 40 menit istirahat saya mengajak teman yang lain untuk berjalan-jalan menyusuri pantai dan mencari Pantai Akuarium, karena saya sangat penasaran dengan pantai itu. Dari sumber artikel yang saya baca dari hasil pencarian Google, katanya pantai itu indah dengan air setinggi lutut yang di bawahnya dilapisi kekarangan yang lembut dan dengan air yang jernih kita dapat melihat berbagai macam hewan laut yang terlihat. Karenanya pantai itu disebut Pantai Akuarium dan dikarenakan air sedang surut kira-kira air setinggi lutut jadi saya tidak perlu Snorkling untuk melihat keindahan bawah laut.

Tapi sayangnya tidak ada satupun di antara mereka yang tertarik untuk ikut. Mereka lebih memilih untuk menikmati 1 keindahan pantai yang mereka diami dan berfoto ria menghabiskan waktunya.

Sangat disayangkan jika kita menikmati hanya 1 keindahan, padahal di tempat lain berbagai keindahan menanti untuk dijadikan moment yang takan terlupakan. Karena tidak ingin kehilangan moment tersebut akhirnya sayapun memutuskan untuk pergi sendiri.

Dengan Kaos oblong, celana boxer, sandal jepit dan tas ransel yang saya gunakan, tepat pukul 03.00 WIB sayapun memulai perjalanan menyusuri pantai. Sayangnya pesisir pantai kurang lebih sepanjang 400 meter banyak sampah yang berserakan. Hal ini membuat saya merasa sedikit ilfeel.

Setelah melewati pesisir yang banyak sampah itu, saya singgah ke sebuah warung untuk membeli sebungkus rokok. Sayapun melanjutkan perjalanan.

Berjalan di pesisir pantai dengan sebatang Rokok yang kunyalakan, ditemani lagu Iris Versinya New Found Glory yang kudengarkan dari Headshet yang diputar di ponsel, dan angin pantai yang sepoy-sepoy membuatku terhanyut akan keindahan alam yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Jika Iris Versinya Good Good Dols menjadi soundtrack difilm City Of Angel, maka Iris Versinya New Found Glory menjadi soundtrack perjalananku saat it.

Langkah demi langkah ku lewati tanpa rasa lelah dan entah sudah berapa kilo saya berjalan. Kurang lebih sekitar 45 menit lamanya. Kemudian langit mendadak mendung dan hujanpun turun. Akhirnya saya berteduh ditanaman bakau yang tingginya hampir 2,5 meter, kulihat kanan kiri jauh dari keramaian takut jika ada binatang buas atau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, kuputuskan untuk berlari mencari warung.

Akhirnya sekitar 100 meter jauh dari pantai terlihat warung tukang bakso, dan sayapun menghampirinya berhubung perutku sudah berteriak minta diisi. Karena dari pagi saya belum makan apapun, akhirnya sayapun ngebakso sambil menunggu hujan reda. Setelah 20 menit lamanya saya ngebakso sambil ngobrol sama si ibu tukang bakso itu, akhirnya hujanpun reda, dan sayapun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Tidak terasa 40 menit saya berjalan akhirnya saya sampai di perbatasan Pantai Pangumbahan. Dengan pasir putih yang bersih, dan ombak yang lumayan besar, mungkin di sini juga tempat yang suka dijadikan tempat surfing, suasana alam terlihat begitu indah. Terlihat banyak orang yang sedang bermain air di pinggir ombak yang besar, dan berkerumunan sanak keluarga yang sedang berkumpul. Saat itu kira-kira pukul 05.00 WIB, dan sayapun menanyakan kepada salah satu petugas di sana.

“Pak, jam berapa pelepasan tukik-tukik ini?” (tukik adalah sebutan dari anak penyu). Petugas itu menjawab “Sebentar lagi dek, jam setengah enam”.

Sambil menunggu waktunya tiba sayapun bergegas masuk ketempat penangkaran bertelurnya penyu. Sayapun melihat dua kotak yang dilingkari sebuah pagar kawat, yang di dalamnya banyak lingkaran kawat kecil. Setiap lingkaran kawat tertulis nama-nama petugas yang menanamkan telurnya di sana.

Setelah 15 menit mengitari penangkaran penyu, sayapun kembali ke pantai untuk menunggu pelepasan tukik-tukik itu, dan hujanpun sedikit mengguyur. Orang-orang yang berkerumunanpun berlarian kembali kepenangkaran penyu untuk berteduh.

Dikarenakan hujan yang mengguyur, mungkin pelepasan penyu ini dibatalkan, dengan berat hati sayapun memilih untuk berjalan kembali pulang ketempat peristirahatan teman-teman. Setelah 100 meter berjalan, hujan pun sedikit reda dan orang-orang yang tadinya berteduh dipenangkaran penyu. Satu-persatu mereka semua kembali ke pinggir pantai dan mulai berbaris. Karena penasaran sayapun kembali sambil berlari dan ikut masuk kedalam barisan mereka, dan ternyata pelepasan tukik-tukik itu hampir dimulai, dengan perasaan senang sayapun menunggu petugas untuk menginstruksikan peraturan yang berlaku.

Kulihat ke kanan dan ke kiri barisan yang begitu membentang panjang. Kata si petugas itu kurang lebih ada sekitar 1000 orang yang sedang berbaris. Sedangkan tukik-tukik itu hanya berkisar 750 ekor, dan semua orang sedang menunggu untuk dibagikan satu-persatu tukik untuk setiap orang dan sayapun berharap cemas untuk mendapat bagian pelestarian hewan itu.

Akhirnya, sayapun mendapat 1 ekor tukik yang akan dilepaskan, dan suara keras petugas dari sebuah speaker yang menghitung mundur untuk segera melepaskan tukik itu. Ketika hitungan mundur usai kami semua melepaskannya bersamaan, dan terlihat tukik-tukik kecil itu berlarian saling mengejar satu sama lain menuju perairan pantai yang berombak besar itu.

Setelah melihat semua tukik masuk ke air, sayapun langsung bergegas pulang dikarenakan takut kemaleman diperjalanan sayapun mempercepat langkah perjalanan. Tidak terasa berjalan di sekitar keindahan pantai disore hari menjelang magrib dengan sunset yang tidak begitu terlihat karena awan sedikit mendung.

Akhirnya sayapun tiba diwarung tempat peristirahatan itu, terlihat teman-teman sedang asik bernyanyi dengan diiringi irama gitar yang dimainkan oleh salah satu dari mereka. Saat itu waktu menunjukan pukul 18.20 WIB, dan sayapun bergegas untuk mandi di musala sekalian sholat magrib.

Setelah itu sayapun ikut bergabung dengan teman-teman, dan kebetulannya lagi di saat bersamaan hidangan makananpun telah siap tersaji. Kamipun makan bersama, nasi putih, ayam goreng, sambal, dan kerupuk menghiasi kenikmatan hidangan saat itu.

Tidak lama kemudian hujan turun, dengan dinginnya angin pantai yang begitu besar pada saat itu, kami semua kedinginan dibuatnya dan untuk menghangatkan suasana. Kamipun menghabiskan waktu untuk menunggu pergantian tahun baru dimulai dengan mengobrol dan bernyanyi-nyanyi dengan diiringi irama gitar yang dimainkan oleh si Ulil.

Tidak terasa waktupun menunjukan pukul 11.30 WIB, dan sayapun pergi ke musala untuk salat isya, dan setelah itu kami semua duduk di bangku pinggir pantai untuk menunggu keramaian tahun baru dengan diiringi lagu-lagu remix yang diputar dengan suara keras dari speaker yang sengaja kami bawa.

Nothing On You-BOB feat Bruno Mars, I Don’t Know Why-Moony, I Know You Want Me-Pit Bull, Blanco-Pit Bull feat Pharell, I Got My Eye On You-Nari & Milani, dan The Party Songs lainnya yang menjadikan soundtrack tahun baruan kami pada saat itu membuat suasana semakin meriah. Dengan suara dan kelipan pesta kembang api diatas dengan sorakan dari setiap orang yang memeriahkannya.

Tepat pukul 1.30 setelah tahun 2011 lewat, kamipun memulai tahun 2012 dengan bakar-bakar jagung, ketika sedang membuat api yang membakar setengah dari kayu yang basah, tiba-tiba hujanpun mengguyur, dan kamipun menunda acara tersebut, setelah hujan reda kamipun melanjutkannya, dan setelah sekian lama menyalakan api yang susah menyala dikarenakan kayu yang basah dengan air hujan tadi akhirnya apipun menyala, setelah setengah dari jagung yang dibakar, hujanpun turun lagi. Dan terpaksa kamipun memakan jagung yang belum begitu matang, tapi tetap nikmat dengan cuaca seperti itu.

Setelah kelelahan seperti itu, satu persatu dari kami menghilang entah kemana, mungkin mereka beristirahat untuk tidur dimobil, dan yang tersisa diwarung itu hanya berlima yaitu si Kizul, Bonny, Bambang, Monchong dan saya sendiri, tidak lama kemudian tanpa disadari si Moncong sudah menghilang, bonny tumbeng tidur di meja warung, dan si Bambang tumbeng tertidur di kursi warung. Saya sengaja tidak tidur. Karena ingin menunggu untuk melihat sunset di Pantai Akuarium, dan tepat pukul 5.00 WIB setelah sholat shubuh sayapun membangunkan satu persatu dari mereka mengajak untuk melihat sunrise, tetapi sayangnya lagi mereka tidak tertarik dan lebih memilih untuk tidur. Akhirnya sayapun pergi sendiri lagi dan lagi.

Sesampai di Pantai Akuarium ternyata sangat disayangkan sunrisenya tidak terlihat. Mungkin karena cuaca yang tidak bersahabat, tetapi kekecewaan itu terbayar dengan keindahan Pantai Akuarium itu. Kebetulan air pantai sedang surut, dan tinggi airpun hanya diatas mata kaki, dan sayapun menjelajah perairan pantai akuarium itu untuk melihat hewan yang hidup di sana, tapi sangat disayangkan juga keadaan tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya. Saya membayangkan berserakannya berbagai ragam dan warna keindahan ikan laut.

Tetapi kenyataannya saya hanya menemukan satu-dua ikan yang bagus itupun ikan yang kecil, yang paling banyak saya temukan adalah kumbang dan bintang laut yang bisa kita temukan hampir di setiap perairan itu. Yang bahayanya lagi ada lumayan banyak bulu babi yang saya temukan di sela-sela kekarangan laut itu, katanya bulu babi itu berbahaya jika terinjak, dan sayapun penasaran untuk melihat lebih dekat bulu babi itu.

Karena saya tidak berani menyentuhnya dengan tangan sayapun mengambil sebatang kayu dari pinggir pantai, dan menyeret bulu babi itu kepinggir pantai. Setelah dilihat lebih dekat ternyata dengan tubuhnya yang hitam dikelilingi duri yang tajam. Seluruh bagian tubuhnya itu bergerak-gerak dengan sendirinya, yang katanya jika kita menginjak bulu babi itu, maka duri yang menancap dikaki kita akan dengan sendirinya bergerak masuk kedalam tubuh. Yang katanya juga hanya bisa disembuhkan dengan air kencing.

Setelah itu sayapun melanjutkan penjelajahan perairan lagi, dan saya menemukan ular laut yang besarnya sebesar kelingking jari, dengan hati-hati saya coba tangkap. Tapi sayangnya dengan gesit ular itu menghilang bersembunyi dikekarangan laut itu, dan sayapun melihat berbagai macam binatang yang tidak saya kenal seperti ulat berbulu yang besar, kaki seribu dengan warna ungu, mulut dengan taring tajam yang terbuka dan jika disentuh mulut itu akan menutup layaknya hewan buas yang siap untuk melumpuhkan memangsa, karena tidak mau ambil resiko sayapun menyentuhnya dengan sebatang kayu.

Akhirnya saya memutuskan untuk membawa beberapa kumbang yang menurut saya bagus, dan satu bintang laut yang saya simpan di kantung plastik yang diisi air laut. Beberapa saat kemudian saya melihat udang naga yang sedang hinggap di salah satu karang. Sayapun berusaha menangkapnya, dikarenakan Udang Naga itu lincah dan gesit, maka dengan susah payah setelah beberapa kali gagal untuk menangkapnya, akhirnya sayapun mendapatkannya. Setelah itu sayapun melanjutkan perjalanan.

Beberapa saat kemudian ketika saya sedang berjalan diperairan itu, saya mendengar suara seperti ada yang melompat dari air. Ketika saya melihat kesamping ternyata ada seekor Ikan Buntal yang sudah melebarkan badannya seperti balon yang sudah terjebak diperairan yang sangat dangkal, ketika itu saya berfikir kalau tidak salah dengar ikan buntal ini beracun.

Oleh sebab itu karena tidak mau ambil resiko sayapun tidak berani menyentuhnya dan mengambil ikan tersebut dengan sebuah karang yang berukurang 20 cm untuk dibawa ke tepi pantai. Dan mencari kantung plastik yang lebih besar.

Karena sudah agak siang sayapun memutuskan untuk kembali ke warung tempat kami beristirahat itu, dan sesampai di sana ternyata teman-teman yang lain sedang menyiapkan makanan, merekapun sedikit terkejut dengan apa yang saya bawa, kata si Angga sih ikan buntal itu beracun jika dimakan.

Setelah saya googling, memang benar ikan buntal beracun pada beberapa bagian tubuhnya, dan hewan paling beracun ke2 setelah Katak Emas. Bahkan beberapa nelayan pernah ada yang meninggal 30 menit setelah memakan ikan tersebut.

Waktu menunjukan pukul 08.30 WIB dan sayapun bergegas mandi, setelah itu saya kembali ke warung, ternyata makananpun sudah siap, dan kami semua makan bersama. Tidak lama setelah makan kamipun bersiap untuk pulang dan sayapun membawa hasil tangkapan untuk dipelihara di rumah. Tadinya sihh mau pulang sorean, tapi berhubung kaca mata sang driver hilang dan takut kemalaman kamipun bergegas pulang pada saat itu juga. Jika kemalaman di jalan takut terjadi apa-apa, karena tanpa kacamata dimalam hari penglihatan sang driver akan kabur tidak terlihat jelas arah jalan.

Kurang lebih waktu menunjukan pukul 10.00 WIB kamipun beranjak pulang, diperjalanan sayapun tertidur. Maklum dari kemarin saya sama sekali belum memejamkan mata. Beberapa saat kemudian saya terbangun oleh suara gaduh dan bantingan awak mobil dari belokan pegunungan yang berkelok-kelok.

Ketika saya membuka mata, ternyata sialnya si Angga sedang asik balapan dengan mobil APP yang dikendarai si Agung, dan dengan asiknya pula si Bonny dan si Ulil memanas-manasi para driver agar saling mendahului.

“Sialnya si Angga berani-beraninya ngebut tanpa menggunakan kacamata yang mengakibatkan si Bambang muntah dibuatnya, dan kitapun berhenti sejenak menunggu si Bambang. Kita semua menertawakannya.

Setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan, karena kasihan si Bambang yang sudah tumbeng si Anggapun tidak berani ngebut lagi. Sayapun bisa tertidur pulas sampai rumah.

Sesampai di rumah ketika saya mau memindahkan ikan tersebut ke Akuarium ternyata sangat disayangkan Ikan Buntal dan Udang Naga nya sudah mati. Yang tersisa hanya kumbang dan bintang laut. Saya lupa tidak memberi ruang udara dan mengikatnya dengan keras ketika memasukan kantung plastik yang berisi ikan tersebut ke dalam mobil. Alhasil sayapun membuang kumbang dan bintang laut tersebut ke kolam disamping rumah.

Yeah itulah perjalanan ke Ujung Genteng yang banyak kendala, mulai dari cuaca, tempat istirahat, perbedaan pendapat yang membuat itu semua menjadi tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, mungkin itu menjadi pelajaran bagi kami untuk kedepannya jika kita akan bepergian lagi. Meskipun begitu, saya cukup puas dapat menikmati salah satu keindahan alam yang Tuhan ciptakan, dan sayapun mensyukurinya telah diberi keselamatan selama diperjalanan.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

© Copyright 2018 Aksi.co