Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Lima Tuah Kebahagian Lionel Messi

Lima Tuah Kebahagian Lionel Messi - Aksi.co

Penulis Aksi | Thursday 4 June 2015

MessiBerada di atas bebukitan di bawah naungan rindang pepohonan berdaun hijau, tiada henti Lionel Messi mendaraskan lima tuah bahagia merayakan kemegahan dan kegembiraan final Liga Champions antara Juventus kontra Barcelona di Olympiastadion Berlin pada Sabtu (6/6) atau Minggu dini hari WIB.

Pemain berjuluk La Pulga itu bersiap mengukir prestasi menjulang di jagat bola global. Dalam usia 27 tahun, Messi membuat seluruh dunia bersorak dan bersukacita dipenuhi kegembiraan dan kebahagiaan. Pemain asal Argentina itu merupakan oase yang tak pernah berhenti mengalirkan gelontoran air ceria.

Bagi mereka yang sedang dilanda gersang hati diselimuti berisik berita serba tong kosong berbunyi nyaring silakan menghirup tuah bahagia yang dilantunkan Messi di bawah naungan kubah Olympiastadion Berlin.

Di venue itulah, di pusat kota Berlin, terletak katedral sepak bola global tempat bersujud berharap kepada sang Khalik. “Datanglah sang Messiah, agar kami boleh memperoleh kegembiraan dan menatap pendar syukur sukacita selama hayat di kandung badan.”

Lima ayat bahagia Messi masing-masing berisi kalimat-kalimat bersyukur menyangkut prestasi, klub tempat dia bernaung, sesama rekan di Barcelona, final Liga Champions, dan kesan-kesannya di tahun 2009 dan 2011.

Lima ayat bahagia Messi bersumber dari ziarah akal budi lurus tanpa kelok-kelok digelorakan emosi tanpa tali kekang kendali. Praktisnya, orang bijak bahagia menemukan kegembiraan sebagai ganti dari rasa senang nan nikmat. Orang bijak bahagia memiliki kehendak teguh sebagai ganti rasa iri hati, selalu mawas diri bukan dipenuhi ketakutan.

Lima ayat bahagia Messi itu bersumber dari tanya jawab yang diajukan laman UEFA, soal siapa saja yang mempengaruhi perjalanan hidupnya.

Messi menjawab, “Ayah dan ibu sayalah yang senantiasa ada dalam hidup saya. Mereka selalu mengikuti saya. Mereka selalu menasehati mengenai penampilan dan perkembangan saya, kemudian klub juga banyak mengulurkan bantuan. Di atas semuanya itu, keluarga mendukung dan menyokong saya.”

Setelah Messi menyinggung peran besar dari ayah dan ibunya sebagai ayat pertama, maka ia mengutarakan ayat kedua. Pemain depan Barcelona yang belakangan lekat berkongsi dengan Neymar dan Suarez menjebol gawang lawan itu menyinggung mengenai arti besar dari klub tempat dia sekarang bernaung.

Dalam ayat kedua, Messi mengulang peran luar biasa Barcelona. “Ketika saya mulai berada di sini, itu langkah yang sangat penting yang pernah saya ambil selama perjalanan karier di sepak bola. Klub ini telah menyambut saya dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Saya berkembang dan bertumbuh di sini.”

Pengakuan dalam ayat pertama dan kedua ini merujuk kepada inti hidup bahagia bahwa “yang mengganggu kita bukanlah godaan materi dan segala sesuatunya, melainkan penilaian kita atas hal-hal itu”.

Praktisnya, onggokan uang timbunan materi tidak jarang mendorong manusia bersikap iri hati dan sesal-pahit, serta senang-nikmat, padahal lebih baik sering-seringlah menjawab pertanyaan, apakah di setiap laku setiap hari termuat keteguhan dan ketulusan hati?

Messi mengajak dunia untuk mengobati penyakit jiwa sebagai seteru lawas dari rasa gembira (joy). Dalam final Liga Champions di Berlin inilah, kegembiraan ditawarkan dan sukacita dijajakan.

Caranya? Belajarlah dari bintang Barcelona itu yang tahu menyusun kata-kata dan mengurai kalimat sarat rasa syukur dengan bersumber dari keinginan meraih kemenangan dari asa bertarak atau menciptakan jarak serasi dari keinginan diri sendiri yang tidak beraturan. Magnet uang dan bujuk materi berteman akrab dengan kepentingan diri sendiri.

Persis dalam titik inilah Messi senapas dengan pendapat dari sejumlah pandit sepak bola. Kehadiran Luis Suarez dan Neymar sedikit banyak mengubah gaya bertarung dari Superman asal negeri Tango itu.

Disebut-sebut bahwa penampilan Messi makin nyekrup dengan gaya serang yang dibangun Suarez dan gaya eksplosif melesat dari Neymar. Ketiga pemain ini mengubur egoisme untuk membangun kerjasama apik demi kejayaan Barcelona. Trio MSN (Messi, Suarez, Neymar) telah membukukan 120 gol di semua ajang kompetisi.

“Mengenai peran keduanya (Neymar dan Suarez), kami selama ini menjalin kerjasama padu, tidak hanya di lapangan tetapi di luar lapangan. Saya beranggapan bahwa jika anda bersikap baik di lapangan maka hidup di dunia nyata juga akan berjalan baik,” katanya. Inilah ayat ketiga bahagia Messi.

Ayat keempat menyinggung mengenai kesan Messi jelang laga final melawan Juventus. Bersama Barcelona, penampilan Messi makin tidak terbendung bahkan menyerempat ungkapan: sulit dilukiskan dengan kata-kata tetapi silakan saksikan dan nikmati saja.

Messi bukan makhluk yang jatuh gedebuk dari langit. Penampilan dia mengukir dan mengukuhkan salah satu seni hidup (the art of life) bahwa berlatihlah terus menerus tiada henti dengan kesungguhan untuk memangkas penyakit jiwa bernama “self interest”.

Berbekal self interest itulah tidak jarang orang secara kodratiah selalu mementingkan diri sendiri. Diri sendiri adalah junjungannya, diri sendiri adalah sembahannya. Ketika mendasarkan dan memikirkan perilaku mendasar itulah hikmat filosofis dikemukakan oleh Epictetus dan pujangga Yunani klasik Cicero.

Keduanya merangkum bahwa seluruh kecenderungan hidup manusia bermuara dari keinginan mewariskan segala sesuatu yang telah ia peroleh (self-preservation).

“(Mengenai laga final) nanti, laga final Liga Champions. Kami telah mengerahkan segala upaya dan daya agar sampai ke jenjang final, kami tahu bahwa jalan itu tidaklah mudah.”

“Impian kami tentu saja meraih kemenangan. Kami tahu bakal menghadapi lawan yang bukan tidak mungkin melakukan aksi tipu muslihat, karena mereka tampil sangat kuat. Juventus tim yang besar. Ini laga final dan segala sesuatu bisa saja terjadi, hanya saja kami akan siap meladeni mereka,” katanya.

Di mata Messi, kemenangan dan kekalahan di setiap laga apalagi laga final merupakan tangan-tangan tersembunyi (invisible hands). Inilah saripati ayat bahagia yang diutarakan sang Superman di laga bola sejagat itu.

Ayat kelima lebih memperkaya empat ayat lainnya yang merujuk kepada solusi untuk keluar dari egoisme, yakni hasrat dilawankan dengan hasrat (agere contra). Misalnya, apabila ada orang yang tergila-gila dengan gadget mutakhir, maka bertanyalah dalam diri sendiri, “gadget itu apa sih?”, bukankah itu hanya seperangkat mesin pintar yang dapat memesona diri dengan aneka tayangan gambar dan suara warna-warni.

Apabila ada orang yang terobsesi mencari uang sebanyak-banyaknya, maka bertanyalah dalam diri sendiri, “untuk apa mengeduk uang begitu banyak, sementara tidak sedikit orang masih menjawab pertanyaan:  besok akan membeli makanan apa?”

Ketika ditanya mengenai kesan-kesan ketika Messi menciptakan gol pada laga final 2009 dan 2011, ia menjawab, “Saya selalu mengatakan, dua peristiwa itu begitu penting dalam perjalanan karier saya karena dalam pertandingan itu saya mencetak gol. Gol pertama di Roma, ketika itu kami menang dan mengangkat trofi. Peristiwa itu terjadi di Wembley, ketika pertandingan berakhir 2-1, sebuah laga sarat kenangan. Kedua gol itu begitu istimewa dalam perjalanan hidup saya.”

Lebih atraktif lagi, kelima ayat bahagia itu kemudian dibingkai oleh asa Juventus menghentikan Messi. Bintang Barcelona itu demikian yahud menggiring bola, melepas umpan, kemudian menceploskannya ke gawang lawan. Ini dia peragakan ketika melawan Athletic Bilbao dalam final Copa del Rey.

Kalau Messi memproklamasikan lima ayat bahagia, maka Andrea Pirlo dan kawan-kawan memaklumkan lima ayat menghentikan Messi. Ayat pertama, jelas bahwa lini pertahanan Juventus perlu membarikade benteng untuk menahan gempuran demi gempuran trio MSN yang masuk kategori fantastis.

Neymar dapat diprediksi bergerak dan beroperasi dari kiri ke kanan. Ia konsisten dengan manuver itu. Dibandingkan dengan Messi dan Suarez, bintang asal Brasil ini mampu melepas tembakan jitu. Tinggal sekarang menanti kesigapan dan kesiapan penjaga gawang Juventus, Gianluigi Buffon.

Ayat kedua, pergerakn tanpa bola Suarez tidak jarang mengecoh pemain bertahan lawan. Ia mampu merangsek dari sisi kanan, dan meneror lawan dari lini tengah. Pemain ini punya segudang keleluasan dan kebebasan bergerak. Ia anti-tesis dari kemapanan. Model serupa juga dijalani Messi.

Ayat ketiga yang mendesak dilakukan skuat asuhan pelatih Massimiliano Allegri, yakni jangan sesekali coba berlaku vandal terhadap Messi. Publik sudah terlanjur mencintai La Pulga. Hanya tim naif yang coba berbuat kasar terhadap pemain bintang dari kubu lawan. Gemuruh dukungan simpati dari seluruh stadion bakal mendukung pemain yang menerima perlakuan tidak senonoh di lapangan.

Ayat keempat, Bianconeri telah demikian mengamini kredo bahwa awal yang perlahan belum tentu menghasilkan hasil negatif. Perjalanan menuju semifinal dari klub berjuluk La Vecchia Signora ini bukan tanpa onak berduri berpasir. Sebelum itu, Juventus bertengger di peringkat kedua Grup A di bawah Atletico sekaligus melampaui Olympiacos yang hanya terpaut satu poin di klasemen akhir grup.

Nah, kemenangan atas Olympiacos terbukti membuka gerbang kemuliaan bagi Juventus pada akhir fase grup. Juara Serie A musim 2014/15 ini memerlukan waktu 12 tahun untuk mencapai semifinal Liga Champions.

Ayat kelima, Juventus menyadari bahwa era kejayaan Gentile sebagai bek tengah kokoh serba tanggguh ternyata tinggal kenangan. Mereka memerlukan model pemain bertahan yang mampu menghalau bola dan mengalirkan umpan.

Juventus punya Giorgio Chiellini yang mampu menyetop pergerakan Messi dari sisi kanan, Stephan Lichsteiner yang apik menjalankan tugas di lini sayap, Claudio Marchisio yang ekstra sigap berperan sebagai gelandang eksplosif, serta tidak ketinggalan Paul Pogba yang bisa saja didorong sedikit lebih ke bawah untuk memperkuat sisi kiri.

Roh dari konfigurasi pertahanan khas Italia bermerek “catennacio” alias formasi grendel bukan tidak mungkin diterapkan oleh Max Allegri ketika meladeni gempuran barisan depan pasukan Barcelona di bawah asuhan Luis Enrique.

Allegri punya kejelian meracik strategi khas Italia, yakni menghidupi sepak bola sebagai festival kehidupan. Ia menyiapkan dan membuka hati untuk meneruskan kerja pelatih sebelumnya, Antonio Conte.

Allegri Ia bersedia menepikan pola favoritnya 4-2-3-1, yang nota bene mencatat sukses ketika ia membesut Milan di musim sebelumnya, kemudian memeluk erat-erat formasi 3-5-2 dengan memainkan dua gelandang sayap, di antara Lichsteiner dan Paolo De Ceglie atau Patrice Evra.

Allegri mampu mendaulat Chiellini agar tampil lebih ngotot layaknya gladiator yang terluka oleh pecut lawan. Ia memiliki tandem jempolan dalam diri Leonardo Bonucci, Angelo Ogbonna, Martin Caceres, dan Andrea Barzagli.

Inilah ayat tunggal dari Allegri yang siap-siap berduel dengan lima ayat bahagia Messi. Segala sesuatu bisa saja datang dan pergi tanpa kita kehendaki sebelumnya, dan hanya mereka yang berlaga dalam kegembiraan yang kelak meraih kemenangan. Keinginan akan nikmat uang dan pesona harta benda merupakan dorongan akal budi yang keblinger, salah arah dan salah urus.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

© Copyright 2018 Aksi.co