Username

Password

Remember me

Register

Recover password

5 Alasan Sutiyoso Tak Layak Jadi Kabin

5 Alasan Sutiyoso Tak Layak Jadi Kabin - Aksi.co

Penulis Aksi | Wednesday 17 June 2015

muhamad adnan rarasinaEntah apa yang di bisiki orang-orang lingkar istana kepada Presiden Joko Widodo yang menunjuk Sutiyoso yang mantan Gubernur DKI menjadi calon kepala BIN. Menurut catatan kami ada beberapa kelemahan yang dimiliki oleh Sutiyoso untuk menakhodai jabatan pimpinan tertinggi di BIN.

Begitu yang disampaikan oleh Muhamad Adnan juru bisara Aliansi Masyarakat Untuk Reformasi Intelejen lewat releasenya kepada Aksi, Rabu (17/6).

Pertama, kata Adnan, sebagai ketum PKPI, posisi Sutiyoso menjadi sangat hitam putih dan afiliatif. Badan Intelijen Negara merupakan lembaga yang memiliki kerahasiaan tinggi dan seharusnya lepas dari intervensi politik apalagi yang berbau partai. masyarakat akan mengambil kesimpulan bahwa BIN dijadikan sebagai alat kekuasaan dengan menunjuk Bang Yos sebagai Kepala BIN. Rakyat semakin mencibir janji-janji kampanye Jokowi yang tidak ingin bagi-bagi jabatan.

“Kedua, Sutiyoso adalah (Pangdam) Jakarta Raya yang memimpin langsung penyerbuan ke Markas Partai Demokrasi Indonesia pimpinan Megawati pada tahun 1996 yang kemudian dikenal dengan peristiwa Kerusuhan 27 Juli (KUDATULI). Saat ini statusnya masih tersangka,” terang Adnan.

Yang ketiga, lanjut Adnan, dari segi usia, Sutiyoso saat ini sudah masuk usia 71 tahun yang berarti secara produktivitas sudah sangat jauh berkurang. Kita tahu bahwa beban pekerjaan di Badan berkelas BIN sangat besar menghadapi situasi pertahanan & keamanan saat ini yang begitu kompleks. Perang asimetris yang menjadi ciri peperangan kontemporer hanya akan melumat Indonesia jika institusi BIN dipimpin orang seperti Sutiyoso.

“Keempat, sebagaimana diketahui oleh publik, Mei 2007, saat kunjungan Sutiyoso ke Negara Bagian Australia, New South Wales, Kepolisian Australia mendatangi Sutiyoso dengan maksud meminta hadir keesokan harinya ke Pengadilan New South Wales dan diperiksa dalam peristiwa pembunuhan 5 wartawan Australia pada tahun 1975 saat Sutiyoso masih dinas militer,” katanya.

Kelima, sambung Adnan, mungkin sebagian orang menganggap bahwa Sutiyoso yang mantan Intelijen Kopassus akan sangat hebat, kami justru meragukan kapasitas Sutiyoso yang terlihat tidak lagi up to date pemahamannya mengenai dunia intelijen yang ada saat ini. Kapasitas Sutiyoso sebagai prajurit sesungguhnya lebih tepat sebagai Jenderal Lapangan yang memiliki kemampuan tempur bukan sosok intelijen handal. Jangan-jangan Presiden tak membaca terlebih dulu surat pengajuan dan tak tahu nama yang muncul Sutiyoso sebagaimana yang terjadi pada kasus Perpres No. 39 tahun 2015 lalu yang membuat Presiden kehilangan muka.

“Atas dasar catatan tersebut diatas, maka Presiden Joko Widodo harus menarik kembali nama Sutiyoso sebagai calon Kepala BIN. Presiden hendaknya mempertimbangkan berbagai faktor baik usia, kapasitas, rekam jejak hinga paradigma yang akan diusung seorang calon Kepala BIN,” demikian Muhamad Adnan Rarasina.[gun]

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

© Copyright 2018 Aksi.co