Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Peranan BIN bagi Bangsa Indonesia dalam Perspetifk Sejarah

Peranan BIN bagi Bangsa Indonesia dalam Perspetifk Sejarah - Aksi.co

Penulis Aksi | Monday 5 September 2016

Peranan BIN bagi Bangsa Indonesia dalam Perspetifk Sejarah Kita UcapkanSelamat Bertugas Dan semoga Sukses Kepada Bapak Komjen Pol Budi Gunawan, atas jabatan baru dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara Indonesia sebagai Kepala Badan Intelejen Negara Indonesia. Harapan saya dan kita semua bangsa Indonesia tentulah Kepala BIN yang bagus lebih profesional dan meningkatnya peranan BIN bagi tegah kokohnya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Saya berpendapat bahwa seluruh rakyat Indonesia setuju dan tidak mempermasalahkan jabatakepala BIN dari TNI atau dari Polri. Tetapi yang dipermasalahkan apakah kalau pejabat kepala BIN dari Polri memiliki pemikiran yang sejalan dengan idiologi pancasila dan UUD 1945 atau sejalan dengan pemikiran dengan idiologi pki dan komunis seperti yang sudah berkembang saat ini?.

Kita berharap dengan pejabat kepala BIN yang baru pelaksanaan tugas dan fungsi BIN dapat dititk beratkan pada pemahaman sejarah Nasional Indonesia. Sebagaimana yang dilakukan oleh negara lain yang lebih maju dan modern dari bangsa indonesia.

Tujuan penulisan ini bukan untuk membaut gaduh atau mendeskreditkan kelompok masyarakat dan kepemimpinan saional Indonesia saat ini. Tetapi saya hanya menyarankan agar bangsa indonesia tatp konsisten dan memegang teguh serta taat dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam memajukan bangsa Indonesia memelihara kepentingan Nasional Indonesia yaitu menuju masyarakat adil makmur dan sejahtera.

KEPALA BIN KEDUA DARI POLRI

Dalam sejarah Indonesia Polri pernah menjabat sebagai Kepala BIN adalah Jenderal Pun Sutanto, dimasa pemerintahan SBY pada tahun 2009 hingga 2011, tepatnya berakhir jabatan 19 Oktober 2011. Pada masa itu diakhir masa Jabatannya sebagai Kepala BIN banyak teror bom bergentayangan diwilayah Indonesia termasuk teror yang mengancam keselamatan Presiden SBY. Kemudian banyak pihak yang menyarankan kepada Presiden agar segera mengadakan pergantian Kepala BIN.

Tentu berbeda dengan Presiden SBY berbeda pula dengan Presiden Jokowi, berbeda dengan Bapak Sutanto berbeda pula dengan Bapak BG. Dari latar belakang pemilihan, kondisi politik, dan kepemimpinan nasional Indonesia. Saya hanya mengajukan fakta dari beberapa pernyataan Presiden yang berulang kali diutarakan antara lain lain,”Kita belum memiliki penjabat yang dari pihak kita.” Apakah karena dilatar belakangi oleh pemikiran tersebut Bapak Presiden Jokowi mengangkan Jenderal POL Budi Gunawan sebagai Kepala BIN?. Nanti perjalan waktu yang akan menjawabnya dengan jujur dan jelas berserta faktanya.

Namun patut untuk kita hargai keputusan presiden Jokowi sebagai pemimpin nasional Indonesia tersebut. Pastilah bukan dari kekuarangan belaiu yang menjadi pertimbangan Presiden untuk menempakan pejabat sebagai Kepala BIN. Karena posisi jabatan ini adalah posisi strategis yang menentukan dan memerlukan wawasan dan pemahaman yang integral tentang kemampuan dan kondisi dari seluruh komponen bangsa yang dimiliki oleh Indonesia.

INTELEJEN DAN SEJARAH

Dalam Intelejen ada yang disebut Intelejen strategis. Kemudian dalam intelejen strategis meliputi 9 (sembilan) komponen yakni Idiologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Hankam, biografi, demografi, dan sejarah. Yang terurai tersebut adalah merupakan bahan acun bagi Intelejen untuk mengalisasi situasi dan kondisi negara yang menjadi bidang tugas pokoknya.

Penilaian tersebut hanya memiliki satu ukuran yaitu kekuatan, kemampuan, dan kerawanan sebuah negara. Oleh karena itu tugas pokok BIN adalah menilai, mengukur, dan memperkirakan kemampuan kerawanan yang terjadi dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, melalui 9 unsur komponen intelejen strategis.

Apakah BIN saat ini sudah menentukan atau memberikan pertimbangan kepada kepemimpinan nasional, TNI, dan Polri tentang kerwanan tersebut ? Kalau memang sudah berupa ? Bagaiaman mengatasinya? Apa yang diperlukan ?. Dan dasar pemikirannya ? semua bersifat rahasia tetapi tujuan dan arah sasarn ketahui oleh Bangsa Indonesia. Contoh dimasa Soekarno disintegrasi yang mengganggu persatuan dan kesatuan menjadi kerawan dan ancaman bagi Indonesia, dimasa Soeharto gangguan terhadap kekokohan idiologi Pancasila dan UUD 1945 menjadi ancaman, SBY ancaman gangguan konflik agama dan masyarakat menjandi ancaman kehidupan kebangsaan Indonesia. Pemerintahan Jokowi yang mana ekonomi ?. Ekonomi yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 atau ekonomi Komunis ? Ini yang selama ini masih dalam batas kegaduhan politik dan kepemimpinan nasional. Dan ini pula yang harus dipertanggungjawabkan oleh Jenderal Pol Budi Gunawan sebagai Kepala BIN Indonesia. Syukurlah kalau BIN sekarang masih sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945 dan itu yang diharapkan.

PERANAN INTELEJEN YANG BERWASAN SEJARAH

Sebagaimana yang diberitakan selama ini kepemimpinan Nasioanal dan kebijakan pemerintah menempatkan kerawanan negara dari sudut pandang ekonomi. Maka dari itu dalam setiap kesempatan kesulitan ekonomi yang selalu dibahas bukan faktor lain, seolah-olah dengan adanya ekonomi yang maju maka bangsa Indonesia akan sejahtera dan bahagia.

a. Belajar dari Soekarno. Dengan Nasionalisme Indonesia yang kuat berdasarkan Pancasila Dan Undang Undang Dasar 1945, sekalipun Indonesia mengalami kesulitan dan kekurangan namun Soekarno mampu mengembalikan Irian Barat. Dan mempersenjatai negara yang kuat berwibawa dan disegani kawan maupun lawan. Bahkan disebut sebagat sebagai negara ke 5 terkuat di dunia. Ketika soekarno mengubah kerawanan Indonesia dari Nasionalisme menjadi Nasakom yang didominasi PKI maka Indonesia luluh lantah tidak beraturan. Korban jiwa dan kegaduhan politik membawa kesengsaraan bagi rakyat Indonesia selama bertahun-tahun.

b. Belajar Dari Soeharto. Dengan nasionalisme yang kuat yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, tanpa PKI dan komunisme. Soeharto dapat membangun kekuatan ekonomi dan kesejahteraan. Utang luar negeri Indonesia lunas nasionalisasi terjadi diseluruh Indonesia. Rakyat Indonesia terpenuhi papan sandang, semua bisa sekolah dan mudah mencari pekerjaan. Namun ketika Soeharto mengalihkan sasaran kerwanan dari Nasionalisme menjadi single mayority politik dalam kepemimpinan nasional maka Indonesia juga mengalami keterpurukan ekonomi yang hingga kini belum pulih.

c. Belajar Dari Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan Nasionalisme Indonesia dalam Idiologi Pancasila dan UUD 1945, dan menempatkan keimanan sebagai upaya untuk mensekahterakan bangsa. Dapat menyejukan hati bangsa Indonesia melalui program pemerintah yang dapat mengembalikan dan melunasi utang luar negeri Indonesia. Selama dua periode menjabat bukan tidak memiliki kekurangan namun kita bukan melihat kekurangan itu, tetapi saya melihat dari sisi pemikiran idiologi terhadap Pancasila dan UUD 1945. Ancaman pernah terjadi dalam perjalan pemerintahan SBY ketika beliau menyatakan ingin menggelar karpet hijau sebagai landasan program politiknya namun dengan pertimbangan yang matang beliau menerima saran untuk tidak melakukan tindakan itu. Akhirnya SBY dapat mengakhiri pemerintahan dengan manis.

Semoga generasi penerus Indonesia bisa belajar dari sejarah Nasional Indonesia, bukan dari sejarah Amerika, bukan sejarah Eropa, dan bukan pula dari sejarah China. Amerika konsisten dengan sejarahnya, Eropa Konsisten dengan sejarahnya, dan China juga konsisten dengan sejarahnya. Indonesia ? Mari kita merenung apakah kita konsisten dengan sejarah kita ?

Hingga saat ini negara kita masih berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. TNI dan TNI AD pun masih meyakinI sapta marga dan sumpah prajurit masih bersendikan pancasila. maka seharusnya kerawanan itu dihadapkan dengan apa?. Harapan kita semua pejabat BIN yang baru dapat memberikan saran masukan bagi pemerintah dihadapkan kondisi politik sekarang ini tetap konsisten pada Pancasila dan UUD 1945.

BIN DAN KONDISI POLITIK INDONESIA

Seyogya bila kerawan negara dihadapkan ditentukan dengan kesulitan ekonomi. Maka ekonomi yang diselenggarak pemerintah juga harus dihadapkan dengan yang sejalan dengan Pemikiran Pancasila dan UUD 1945. Bukan belajar dari sejarah yang pernah gagal dan bahkan ingin diulang lagi. Generasi muda yang benar dalam bersikap sebagai pemimpin adalah bisa berpikir muda bukan berpikir tua. Artinya berpikir muda adalah bisa diterima di masanya dan bisa diterima oleh orang muda yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya pemimpin muda tetapi sikap kepemimpinannya hanya bisa diterima oleh orang tua. Bisa kita lihat Obama sebagai tokoh muda Amerika Serikat bisa memipin dengan baik, karena berpikir muda dan tidak membuat kegaduhan pemahaman sejarah Nasional Amerikat Serikat.

Organisasi BIN identik dengan TNI dan Polri artinya organisasi tersebut harus permanen dan fundamental tidak berubah ubah arah seseuai dengan selera pemimpin Nasional. Namun diharapkan BIN mampu mengawasi dan bertindak sesuai dengan kepentingan nasional dan arah perjuangan bangsa Indonesia. Bukan berdasarkan perjuangan kelompok politik yang berubah ubah dalam setiap periode tertentu. Tetapi tetap konsisten kokoh dan kuat sesuai dengan komitmen kebangsaan Indonesia yang diproklamirkan pada tahun 1945.

Kerawanan yang selama ini hanya diarahkan pada keslutan Ekonomi kita juga harus dapat mengkorelasikan kerwanan itu dengan hadirnya PKI Dan Komunisme. Sehingga Makna, arti, dan amanh reformasi tidak membangkitkan PKI Dan kegaduhan politik Indonesia dan kehidupan kebangsaan.

a. Landasan Pemikiran Sejarah. Sejarah merupakan kekuatan bangsa Indonesia terlebih sejarah Nasionalisme Indonesia. Berbagai upaya dilakukan oleh golongan tertentu terutama PKI Dan Komunisme yang ingin merubah pemahaman sejarah dengan tujuan agar kelompok dan Idiloginya dapat diterima oleh bangsa Indonesia sekarang ini.

1) Menerjemahkan dan menguraikan sejarah PKI sesuai dengan zamannya. Kalau tahun 1945 PKI sebagai kelompok yang dapat mensejahterakan rakyat. Ditahun 1948 PKI anti kapitalisme Amerika dan anti penjajah. Ditahun 1965 PKI melanjutkan revolusi Indonesia. PKI sekarang menterjemahkan dirinya sebagai pemikiran modern dan bisa memajukan bangsa Indonesia. Dengan mengajak Bangsa Indonesia melihat perkembangan negara China. Padahal kita tahu China bisa maju seperti sekarang itu karena bersedia membuka diri dan bergaul dengan Amerika. Ini bangsa Indonesia justru mengundang China dengan pemikiran komunismenya. Sungguh Ironis dalam pemahaman sejarah.

2) Idiologi Pancasila. Diputar balikan pemahaman kemanusiaan yaitu yang tidak menerima dan memaafkan PKI justru dianggap tidak Pancasilais. Bukan mereka menjadi sadar akan kekeliruannya dimasa lalu tetapi justru menganggap orang lain bermasalah.

3) Kebhinekaan. Kbhinekaan juga mengalami yang sama oleh PKI Dan Komunisme dibalik dari Kebhinekaan dalam Pancasila dibalik menjadi Pancasila dalam kebhinekaan. Bila hal ini diterima maka PKI dan Komunisme akan mendapat tempat dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.

4) Peristiwa G 30 s/PKI 1965. PKI dan komunisme telah menyiapkan Jokowi sebagai Presiden Indonesia melalui Reformasi 1998. PKI mengendap selama 18 tahun baru kemudian bangkit setelah merasa kuat dan mampu. Pada tahun 1965 PKI berkhianat dalam G 30 S/PKI yang dipimpin Aidit dan Untung Ketika Presiden Jokowi menjadi Presiden simbol PKI berani muncul, anak tokoh-tokoh PKI dan Komunisme berani menunjukkan Identitas dirinya sebagai anak DN Aidit, anak Untung, dan anak Soepardjo dll. Apa yang dilakukan PKI dan komunisme dalam memahami sejarah? Diputar balikan sejarah tahun 1965. Pemerintah Soekarno yang memerintah ditahun 1965 disalahkan karena tidak berbuat dan melindungi HAM anggota PKI, padahal Soekarno dan pemerintahannya adalah didominasi PKI dan komunisme. Soeharto yang melaksanakan perintah Soekarno dianggap Kudeta dan menyengsarakan anggota PKI. Sekarang pemerintah yang dipimpin Bapak Presiden Jokowi yang membiarkan kehadiran komunisme dan Bangkitnya PKI mengusulkan permintaan maaf kepada PKI dan Komunisme. Berganti bangsa Indonesia yang disalahkan padahal bangsa Indonesia yang menjadi korban keganasan PKI dan Komunisme sudah itu harus bayar konpensasi pula. Apakah kita TNI, TNI AD, dan Polri serta rakyat Indonesia mau dan bersedia dibohongi oleh PKI dan komunisme ? Bertanyalah kedalam hati sanubari masing masing kita sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

b. Mengembangkan peranan BIN yang berlandaskan Kerja Sama Dengan Rakyat. Berbagai upaya dilakukan untuk memisahkan TNI Dan Polri dengan rakyat. TNI diberi Program TMMD dan Pengamana Perbatasan sedangkan Polri diberi wewenang untuk menindak kejahatan, tidak memiliki kewenangan untuk mencegah. Bila dicermati ini sebenarnya bagian dari upaya untuk memisahkan TNI dengan rakyat sehingga terbuka peluang PKI Dan Komunis serta idiologi lain untuk mengembangkan diri dan menyusun kekuatan. Sekarang kita bangsa Indonesia Dan Generasi muda TNI dan Polri paham mengapa Fraksi TNI-Polri dikeluarkan dari DPR dan status lembaga tertinggi negara dihapus agar mereka dapat leluasa menyusun undang sesuai dengan kehendak mereka yaitu diarahkan untuk kebangkitan komunisme Indonesia Dan PKI.

TUGAS POKOK YANG IDEAL

Secara organisastoris dan doktrin serta aturan dan piranti lunaknya tidak kita ulas dalam tulisan ini karena saya tidak paham secara terperinci dan itu bukan kewenangan saya sebagai waga negara dan profesi. Tetapi secara umum setiap orang boleh berpikir dan memberikan saran serta pertimbangan. Yang ideal bagi BIN adalah tugas pokok mampu menilai dan menentukan kerawan dan ancaman terhadap negara keasatuan Indonesia yang diarahkan pada Idiologi Pancasila Dan UUD 1945 serta kebhinekaan Indonesia.

Ciri khas Intelejen Indonesia adalah berdasarkan pemahaman sejarah bukan atas dasar dukungan peralatan dan sarana prasaran serta modernisasi dan kemajuan tehnologi. Juga bukan pula berdasarkan kepentingan negara lain yang justru menimbulkan permasalahan dancaman bagi bangsa Indonesia sendiri. Mulai dari zaman kerajaan, perang kemerdekaan, Reformasi 1998 dan hingga era SBY selama dua periode.
Karena bila Bin berpikir diluar Pancasila Dan UUD 1945 maka kan muncul ciri ciri intel yang yang lain dari masing masing komponen bangsa yang justru bukan mencermikan kekuatan intelejen tetapi justru menunjukkan kelemahan intejen itu sendiri. Karena sumber informasi yang dimiliki masing masing kelompok merasa benar dan sesuai denga pemikirannya.

PENUTUP

Kesimpulan. Dari uraian diatas maka dapat kita simpulkan bahwa sejarah menjadi landasan yang penting bagi pemikiran intelejen sebuah negara. Karena dengan sejarah maka intelejen dapat menentukan kerawanan bagi kondisi sebuah negara. Lingkup tugas intelejen dipengaruhi oleh 9 komponen yaitu Ipoleksosbudhankan, biografi, demografi, dan sejarah.

Kerawan yang ditentukan oleh pemerintah dan kepemimpinan Nasional sangat ditentukan oleh arah pemikiran sejarah nasional bangsa Indonesia. Alur cerita, perjalan waktu, dan metode yang digunakan harus berjalan secara harmonis dan berkelanjutan serta berkesinambungan tidak berubah ubah dan terputus berdasarkan penilaian terhadap fakta sejarah, Bukan asumsi atau percobaan terhadap sebuah teori yang justru bertentangan dengan sikap hidup bangsa Indonesia yang sudah mapan.

Kepala BIN dari TNI dan Polri tidak masalah yang penting dalam pelaksanaan tugas pokonya tetap searah sejalan dengan arah perjuangan dan tujuan nasional Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, bukan berdasarkan PKI Dan komunisme Indonesia atau idiologi lain.

Intelejen harus memiliki ciri khas keindonesiaan. Karena intelejen personel dan kebijaksanaannya akan paham dan memiliki pakem serta koridor berpikir dan bertindak sebagai yang diamanatkan Undang-Undang Idiologi dan komitmen kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 serta NKRI.

Saran. Kepala BIN yang baru seyogyanya dapat belajar dari perilaku sejarah Nasional Indonesia dan Sejarah Perjuangan TNI-Polri bukan berdasarkan study kelayakan atau pemahaman dari Idiologi lain diluar pemikiran Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Penglaman yang terbaik dan guru yang pintar adalah sejarah. Agar selama Bapak menjabat Kepala BIN tidak terjadi kegaduhan dan permasalahan kehidupan kebangsaan yang diakibatkan dari pemahaman sejarah yang bermasalah dan tidak harmonis.

Harapan saya Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kehidupan kebangsaan indonesia. Hanya satu dengan niat mengutarakan tulisan ini berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat bangsa dan negara melalui pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sekalipun hanya sedikit. Dan jauh dari kata sempurna sehingga tulisan ini masih perlu penyempurnaan.

Saya sebagai penulis menyadari akan kekuarangan dan keterbatasan yang dimliki, sehingga memerlukan pemikiran dan pendapat dari pembaca yang terhormat. Karena yang dipahami secara terbatas oleh penulis yakni ilmu sejarah.

Sekali lagi saya mengucapkan selamat bertugas dan mengabdi kepada Bapak Komjen POL Budi Gunawan semoga sukses.

 

EKO ISMADI

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

www.aksi.co @Copyright 2018