Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Zulkifli Hasan Respon Kasus Pembakaran Oleh Banser

Zulkifli Hasan Respon Kasus Pembakaran Oleh Banser - Aksi.co

Penulis Aksi | Saturday 27 October 2018

Zulkifli Hasan Respon Kasus Pembakaran Oleh BanserKetua MPR RI Zulkifli Hasan merespon kasus pembakaran bendera oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut, Jawa Barat, pada Senin (22/10/2018) lalu. Zulkifli berharap agar pihak kepolisian segera menuntaskan kasus ini agar konflik tidak merembet. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terpicu oleh tindakan ormas.

“Ormas alat perjuangan dan agama kita Islam, jangan di balik ormas menjadi agama”, ujar Zulkifli saat berada di Lapangan Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur, Lampung, pada Selasa (23/10/2018) lalu.

“Kalau ribut soal ormas, kapan kita majunya?” lanjutnya.

Ia mengatakan, masyarakat memiliki hak dan kebebasan untuk menjadi anggota ormas selama bisa menjaga kesatuan dan persatuan serta saling menghormati satu sama lain. Di hadapan ratusan masyarakat, Zulkifli menjelaskan bahwa tugas MPR RI adalah menjaga kesatuan, kekompakan, dan kerukunan masyarakat, terutama pada tahun politik seperti sekarang ini.

Tentu saja ada sebagian masyarakat yang sudah menentukan pilihan presiden, wakil rakyat, dan juga kepala daerah. Oleh karena itu, Zulkifli ingin agar perbedaan pilihan maupun pendapat bisa disikapi dengan wajar.

“Pemilu rutin digelar jadi peristiwa itu hal yang biasa. (Kandidat) yang maju adalah saudara sendiri”, kata Zulkifli.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak semua masyarakat untuk menjalankan nilai-nilai Pancasila. Adapun nilai yang terkandung di dalamnya adalah sikap saling menghormati, menghargai, dan menyayangi satu dengan yang lain.

“Jadikan Pancasila sebagai perilaku”, ujarnya.

Sebelum menyampaikan materi sosialisasi pada masyarakat Purbolinggo, Zulkifli melakukan hal yang sama di lembaga pendidikan Darun Nasyi’in, Desa Bumi Jawa, Kecamatan Batanghari Nuban, Lampung Timur. Di hadapan siswa dan siswi sekolah yang menggunakan kurikulum Kementerian Agama itu, Zulkifli menceritakan tentang sejarah kesultanan Islam yang besar dan makmur. Namun, kesultanan tersebut akhirnya runtuh akibat perang antar saudara yang dipicu oleh adu domba bangsa Belanda.

Sejak saat itu, Indonesia dijajah oleh bangsa lain selama 350 tahun lamanya. Berkaca dari masa lalu, Zulkifli mengingatkan kembali masyarakat agar tidak mudah diadu domba.

“Bila kita mau diadu domba maka kita hidup seperti jaman dulu”, ungkapnya.

Agar tidak mudah diadu domba, Zulkifli mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus pandai dan cerdas. Oleh karena itu, ia menegaskan betapa pentingnya belajar dan memperluas wawasan.

Kemajuan bangsa menurutnya bukan ditentukan oleh kekayaan alam yang melimpah, tetapi kualitas sumber daya manusianya. Ia menyebutkan dan membandingkan satu wilayah yang terbagi menjadi dua negara, yaitu Korea Selatan dan Korea Utara. Dalam hal ini, negara yang telah diakui sebagai negara maju adalah Korea Selatan yang sebagian besar penduduknya dibekali ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan serta kemajuan teknologi menjadi menjadi modal utama mereka untuk menciptakan berbagai produk bermutu, mulai dari smartphone, mobil, hingga kapal laut.

“Kalian yang sekolah di madrasah sangat beruntung, karena selain mendapat ilmu agama juga mendapat ilmu pengetahuan umum,” ujar Zulkifli.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply