Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Warga Harap Ibu Kota yang Lebih Ramah

Warga Harap Ibu Kota yang Lebih Ramah - Aksi.co

Penulis Aksi | Monday 22 June 2015

JakartaBeberapa orang yang tinggal di Daerah Khusus Istimewa Jakarta dan sekitarnya mengharapkan ibu kota yang lebih ramah setelah hari jadi ke-488 Jakarta, Senin ini (22/6).

“Dalam arti memberi kemudahan warganya, terutama soal transportasi publik dan keamanan,” kata Shindu Alpito, 24, yang tinggal di daerah Bekasi namun sehari-hari bekerja di Jakarta.

Karyawan perusahaan swasta di Jakarta Barat ini kerap menggunakan transportasi umum, yaitu bus umum dan transjakarta.

Angkutan umum di ibu kota menurut dia sudah terjangkau untuk masyarakat, baik dari segi akses maupun harga.

“Yang sangat kurang adalah sisi kenyamanan. Selebihnya, persoalan transportasi publik serupa dengan moda yang lain, kecepatan. Itu karena faktor lain, macet,” kata Shindu.

Desi Pratiwi, warga Jakarta Timur, berharap pemerintah lebih giat memperbaiki masalah Jakarta, seperti banjir dan macet.

“Masyarakatnya juga lebih kooperatif sama pemerintah, jadi pembangunan bisa lebih lancar,” kata Desi.

Misalnya, mengeluh macet namun berkendara dengan mobil seorang diri atau tetap membuang sampah ke sungai namun berteriak ketika dilanda banjir.

Masalah membuang sampah sembarangan juga menjadi sorotan Nur Aida yang tinggal di daerah Salemba, Jakarta Pusat.

“Bukan masalah seberapa besar barang yang dibuang. Tapi, kebiasaannya,” kata dia.

Bila sejak kecil dibiasakan membuang sampah pada tempatnya, lanjut dia, akan terbawa hingga besar.

Orang tua menurut dia dapat menerapkan reward and punishment, hadiah dan hukuman, dalam menerapkan disiplin pada anaknya untuk membuang sampah pada tempatnya.

“Yang paling penting dimulai dari yang kecil kayak tisu, bungkus permen, sobekan kertas,” kata dia.

Selain pemerintah lebih serius membangun kota, Syafril yang tinggal di Jakarta Pusat mengharapkan masyarakat pun lebih cerdas hidup di ibu kota dengan segala hiruk-pikuknya, tidak etnosentris, dan lebih saling menghargai antar masyarakat.

“Misal macet mau diklakson ratusan kali tetap saja macet. Biar nggak macet ya berangkat lebih awal, patuhi lalu-lintas dan tidak arogan di jalan,” tambah dia.

Atau, lanjut dia, mengeluh polusi tetapi masih saja membawa kendaraan sendiri dan tidak berusaha mengganti gaya hidup yang lebih hijau.

Septiana, karyawan swasta yang setiap hari pulang pergi Jakarta Timur dan Barat, berharap agar proyek transportasi umum segera selesai karena menurut dia, selain berdampak pada penggunanya, juga berdampak pada mereka yang membawa kendaraan pribadi.

Stella Anggraini yang sehari-hari bekerja di daerah Jakarta Pusat juga berharap pembangunan sarana dan prasarana transportasi di Jakarta dapat membantu mengatasi ciri khas ibu kota yang macet.

“Macet tapi ngangenin,” katanya.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply