Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Kapolri Pemimpin Muda atau Penguasa Muda?

Kapolri Pemimpin Muda atau Penguasa Muda? - Aksi.co

Penulis Aksi | Friday 15 July 2016

Kapolri Pemimpin Muda atau Penguasa Muda?Dalam kehidupan kebangsaan Indonesia tidak akan lepas dari apa yang disebut budaya atau cultur. Dimana kita tahun bahwa budaya itu sendiri ada dan terbentuk karena ada sejarah dan catatan masa lalunya. Apa yang didapat dari masa lalu ? Pembelajaran, pengajaran, dan pelajaran serta tuntunan agar kita dalam menjalani hidup ini tidak masalah. Dengan hadirnya Tito Karnavian sebagai Kapolri Baru kita berharap semoga dapat memimpin Polri dengan baik selaras dan harmonis dengan perjalan hidup bangsa sesuai dengan arah tujuan Nasional Hidup Bangsa Indonesia. Tanpa harus dihiasi dengan peristiwa gaduh dan perselisiha serta silang pendapat yang menghabiskan energi dan menyita waktu khususnya dalam penegakkan hukum.

Tito Karnavian baru dikenal dan diperkenalkan dengan sebutan pemimpin muda yang berprestasi dan mumpuni dalam segala bidang tugas yang dibebankan kepadanya. Maka dari itu seyogyanya dia bukan sebagai Penguasa Muda atau Pemimpin Muda? Seorang Penguasa hanya mampu melaksanakan perintah dan memberikan hukuman tanpa bisa mengelola dan mengembangkan situasi dan tugas serta dinamika yang dihadapi. Tidak sesuai marah, tidak sesuai mencopot, dan tidak sesuai dengan perasaan pejabat diganti. Tidak bersedia melakukan pembinaan dan pengarahan sehingga seorang penguasa jarah dilihat kelebihannya tetapi lebih banyak kekurangannya. Sedangkan pemimpin muda akan selalu berusaha dan bisa untuk diakui oleh generasinya, sehingga keberadaan sikap muda justru menjadi penyebar keharuman dan kesejukan batin dalam kehidupan organisasi dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.
Tulisan ini hanya sebagai pandangan seorang warga negara Indonesia yang menginginkan adanya kehidupan organisasi Polri tetap berkelanjutan, permanen, dan fundamental sebagai komponen bangsa yang menopang dan menjaga kelangsungan hidup negara dan Bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 Dalam Bingkai NKRI. Masih banyak kekurangan dan perlua adanya penyempurnaan dalam ulasan ini.

Peranan Polri Sebagai Katalisator
Perananan ini sebenarnya secara sefesifik tidak ada dalam konteks doktrin dan tugas polisi namun bila dihadapakan dengan kekhasan Polisi dalam budaya Indonesia maka Polisi memiliki tugas lain yang abstrak namun dapat berdampak pada suksesnya pelaksanaan tugas pokok yakni sebaga Katalisatorn. Dimana tugas ini identik dengan tugas TNI dan komponen bangsa yang lain. Kekhasan tersebut adalah kerjasama TNI Rakyat.
Bersikap sebagai Katalisator akan Polr akan dapat menampilkan diri sebagai sosok yang tidak menakutkan di dalam kehidupan masyarakat namun juga tidak dilecehkan peranannya. Polr mampu membuat garis batas hubungan komunikasi dan kerjasama serta larangan sedangkan masyarakat mengerti dan paham tentang batas itu sehingga masing masing dapatr menempat diri sebagai penegak hukum dan sebagai obyek hukum.
Batas tersebut bukan berupa garis mutlak atau bentuk abstrak yang kaku dan kokoh namun batas tersebut hanya berupa membram yang kenyal, liat, dan ulet, Terkoneksi dengan semua unsur tetapi tidak membatasi gerak dan ruang dalam pelaksanaan tugas sebagai abdi negara.

Sosok Pemimpin Muda
Pemimpin muda akan banyak dihiasi dengan segudang ide dan inovasi serta kreativitas yang menyegarkan dan memantapkan rancangan kerja yang telah disusun oleh generasi pendahulu tatapi juga diakui oleh pemuda dimasanya. Bukan sebalik tampil sebagai pemimpin muda membuat gaduh bagi generasi muda dan membuat bingung bagi generasi tua. Kepemimpinan seperti itulah bukan yang menampilkan kepemudaan. Terlebih lagi sosoknya tampil muda tapi berpikirnya menjiplak konsep dan pemikiran generasi tua atau masa lalu, sudah itu program itu pernah gagal masih diulang lagi.
Muda dan kepemudaan identik dengan konsep, komitmen, kosisten, dan integritas, serta idialisme. Tak kalah pentingnya adalah energik dan tanggung jawab, Karena pemuda adalah harapan bangsa dan tulang punggung negara, demikian ajaran yang kita terima dari para leluhur kita. Dari semua yang diuraikan diatas tersebut maka perlua adanya penyeimbang dalam dalam pemikiran yakni realistis. Misal idealisme yang realistis, konsep yang realistis, dan kemampuan yang realistis. Oleh karena itu sikap Polri akan ada koridornya dan ada batasnya.

Memantapkan Polri Sebagai Komponen Bangsa
Yang dimaksud adalah lembaga Polri adalah sebagai lembaga yang permanen, independen, dan fundamental. Secara umum Polri dibentuk didasarkan pada kepentingan dan kebutuhan negara bukan kebutuhan politik atau pemerintahan sehingga dapat berubah setiap ada pergantian pemerintahan dan kekuasaan politik, yang lebih penting Polri dibentuk juga didasarkan pada pemikiran sejarah Nasionalisme Indonesia bukan berdasarkan konsep kepolisisan negara asing atau negara yang membantu ekonomi Indonesia. Untuk itu Polri akan keberadaannya akan menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan memiliki jatidiri yang menampilkan tegak kokohnya Nasionalisme Indonesia.
Mekanisme kerja tetap menampilkan sebagai Katalisator. Polri mampu menempatkan diri sebagai sebuah lembaga milik bersama dari semua kekuatan legislatif, eksekuti, dan Yudikatif serta menjadi patner kerja TNI yang baik kuat dan kokoh sepanjang hayat dikandung badan, dalam bingkai NKRI. Oleh sebab itu tidak akan ada satupun kekuatan kekuatan politik dan bagian kekuasaan yang mampu mendominasi Polri untuk melakukan sesuatu hanya demi kepentingan kelompoknya saja. Tetapi senantiasa akan menjadi cermin kerja yang mewujudkan persatuan dan kesatuan serta kleharmonisa dalam kehidupan kebangsaan Indonesia di masa sekarang ini.

Bagaimana dengan Polisi Hugeng?
Memang idealnya sikap polisi seperti Bapak Polisi Hugeng. Yang dalam cacatan sejarah dikenal jujur, tertib, dan benar serta suci kepribadian, sikap dan perilakunya. Apakah dimasa sekarang in masih diperlukan ? Jawabnya adalah masih sangat diperlukan karena perilaku baik dan benar tidak boleh hilang dari kehidupan polisi. Tentu tidak seluruh dari kepribadian Bapak Polisi Hugeng diadopsi mutlak seluruhnya tanpa harus disesuaikan dengan kondisi saat ini, karena lain zaman lain permasalahan dan lain waktu sudah lain situasinya. Untuk itu diperlukan Bapak Polisi Hugeng masa kini yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan tuga sesua dengan perkembangan zaman dan tehonlogi serta permasalahan yang dihadapi Polri sendiri. Langkah yang diperlukan adalah Kapolri perlu memberikan pencerahan tentang penting pengetahuan Sejarah Kepolisian Republik Indonesia sehingga polisi memiliki pengetahuan sejarah tentang leluhurnya serta pengabdian polisi terhadap penegakkan NKRI dan pengabdiannya kepada masyarakat. Anggota Polri tidak hanya paham menangkap penjahat saja atau memproses hukum saja tetapi juga mampu menjadi penyejuk kehidupa kebangsaan Indonesia.

Oleh Eko Ismadi

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

www.aksi.co @Copyright 2018