Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Kandidat Kepala BIN, Mengusik Ketenangan Sutiyoso

Kandidat Kepala BIN, Mengusik Ketenangan Sutiyoso - Aksi.co

Penulis Aksi | Monday 15 June 2015

rama yantiDalam usia yang sudah uzur, 70 tahun (lahir Desember 1944), tiba-tiba ketenangan Letjen (Purnawirawan) Sutiyoso terusik oleh informasi bahwa dia jadi kandidat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Salah satu lembaga bergengsi yang ‘user’nya langsung oleh Kepala Negara atau Presiden.

“Seharusnya Sutiyoso menikmati ketenangannya, karena saat berkuasa dia diganggu oleh sejumlah masalah, termasuk dikejar-kejar oleh kepolisian Australia,” kata pengamat dari Universitas Trisakti, Rama Yanti.

Menurut Rama Yanti, setelah Sutiyoso ‘istirahat’ dari kegiatannya di pemerintahan praktis tidak pernah terdengar kecaman dari pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh Sutiyoso.

“Awalnya orang sudah lupa, tetapi begitu ada informasi mau diaktifkan lagi di organ pemerintahan, orang jadi ingat lagi. Terutama mereka yang merasa pernah terlukai oleh Sutiyoso,” ujar Rama Yanti dalam siaran pers kepada AKSI, Senin (15/6/2015).

Sarjana psikologi itu mengatakan, sesuatu yang menyakitkan dan sudah terlupakan akan diputar kembali dalam memori di otak manusia manakala ada pemicunya. “Dalam ilmu psikologi itu disebut sebagai Ingatan Episodik dan Ingatan Semantik. Para ahli di bidang ingatan ini membagi ingatan jangka panjang menjadi ingatan episodik dan ingatan semantik. Ingatan episodik adalah ingatan tentang peristiwa-peristiwa, sedangkan ingatan semantik adalah ingatan atau pengetahuan kita tentang fakta-fakta,” ujarnya.

Terkait masalah Sutiyoso, yang muncul adalah ingatan episodik yang menyimpan informasi dalam bentuk gambaran (bayangan) yang diorganisasikan berdasarkan pada kapan dan di mana peristiwa-peristiwa terjadi. “Itu bagi mereka yang merasa sebagai ‘korban’. Sedangkan ingatan mereka yang cuma ikut bersuara tanpa pernah mengalami peristiwanya, masuk dalam golongan semantik,” kata Rama Yanti.

Selanjutnya, selama masa ‘berkuasanya’, kata Rama yanti, Sutiyoso digiring oleh serentetan peristiwa traumatik. Walau pun dibantah oleh Sutiyoso bahwa tidak terlibat, namun peristiwa Balibo telah membuatnya kerepotan saat digerbeg oleh polisi Australia di kamar hotel di Sidney tahun 2007, ketika dia menjadi Gubernur DKI. Dalam peristiwa itu tiba-tiba polisi masuk ke dalam kamar Sutiyoso menggunakan kunci cadangan, mereka membawa surat untuk menyeret Sutiyoso ke pengadilan Australia. Sutiyoso pun langsung pulang ke Jakarta. Penembakan terhadap lima orang wartawan Australia tahun 1975 di Balibo, Timtim dikenal dengan peristiwa Balibo Five, menyeret Yunus Yosfiah sebagai salah satu tersangka.

“Lalu peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996). Salah satu yang disorot sebagai aktor kerusuhan ini adalah Mayjen Purnawirawan Sutiyoso. Kala itu, Bang Yos, panggilan akrab Sutiyoso, menjabat Pangdam Jaya. Bila tidak ada rencana pengangkatan Sutiyoso sebagai Kepala BIN, peristiwa itu tidak ramai dibicarakan saat ini, tapi nanti pada 27 Juli,” kata Rama Yanti.

Kudatuli adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI. Peristiwa ini meluas menjadi kerusuhan di beberapa wilayah di Jakarta, khususnya di kawasan Jalan Diponegoro, Salemba, Kramat. Beberapa kendaraan dan gedung terbakar.

“Nah sekarang ada dua pilihan: Pak Sutiyoso mau tetap tenang menikmati hari tuanya bermain bersama cucunya, atau menjadi Kepala BIN dengan konsekuensi peristiwa-persitiwa masa lalunya akan diungkit-ungkit terus. Siapa yang bisa menjamin bila dia ke Australia lagi, tidak digerbeg pihak keamanan?” ujar Rama Yanti.[gun]

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply