Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Belajar dari Sonya

Belajar dari Sonya - Aksi.co

Penulis Mochammad Gungun | Thursday 14 April 2016

rama yantiSonya Damiri. Nama itu dalam hari-hari yang lalu menjadi viral atau buah bibir di dunia maya. Gara-gara dia mengaku putri seorang jenderal polisi saat ditilang karena melanggar aturan lalu lintas. Dan pengakuannya itu diunggah oleh seseorang ke dunia maya, dengan tujuan agar khayalayak ramai mengetahui peristiwa itu.

Ditambah Setelah kejadian tersebut, ayahanda dipanggil menghadap Tuhan yang maha Kuasa. Remaja 17 tahun itu, jiwanya terkoyak kembali.Sang jenderal yang diakui ayah oleh Sonya pun tampil. Ia mengakui itu adalah keponakannya.

Dan mengatakan, agar khalayak memberhenti membullynya, “Apakah saya harus menamparnya?” Pak Jenderal mengatakan, Sonya adalah anak remaja yang sedang mencari identitas diri. “Mungkin Sonya ingin diakui pahlawan oleh teman-temannya,” kata Jenderal Damiri.

Salahkah Sonya? Ya, Sonya melanggar aturan lalu lintas, tapi di satu sisi, Ia adalah remaja yang sedang tumbuh. Sebagai remaja, usia-usia seperti itu sedang labil-labilnya. Tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Emosinya belum matang. Sepenggal lirik lagu Rhoma Irama, mungkin cocok untuk menggambarkan remaja seusia Sonya: “Darah muda, darahnya para remaja, yang maunya menang sendiri. Salah tak perduli.”

Untuk itu perlu lebih bijak juga, apakah perlu ‘menghukum’ Sonya dengan cara menggugah peristiwa tersebut ke dunia maya untuk kemudian menjadi viral dan terus di bully? Coba berpikir dengan akal sehat, apa untungnya mempublikasikan video itu?

Apakah tidak bisa dan tidak cukup dengan menasehati remaja itu baik-baik? Perlakuan tidak pantas terhadap remaja seperti Sonya adalah kesalahan orang dewasa. Bayangkan apa jadinya negeri ini jika semua remaja mengaku anak jenderal lalu diunggap di video. Lalu kemudian saling hujat di dunia maya. Dimana letak peranan manusia dewasa untuk mengarahkan mereka? Semoga kita semua bisa belajar dari kejadian ini. (Ramayanti Alfian Rusid, sarjana psikologi dan sedang menyelesaikan magister management communikasi di Universitas Trisakti).

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply