Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Menyeruput Kopi Letefoho di Negeri Lorosa’e

Menyeruput Kopi Letefoho di Negeri Lorosa'e - Aksi.co

Penulis Aksi | Wednesday 23 September 2015

kopiSang surya terbit lebih cepat pagi itu. Perbedaan jarak tak kurang 2.000 kilometer dari Jakarta nyatanya membuat sinar di ufuk Timur Kota DIli lebih dulu benderang.

Wajar saja, sesuai dengan sebutannya “Lorosae” yang berarti matahari terbit, bukan hanya Jepang, kehangatan lebih dahulu menyapa dan mengawali perjumpaan antara pagi dan kopi di Timor Leste ini.

Kopi dan pagi umumnya dianggap sebagai dua entitas yang sulit dipisahkan. Bak bahan bakar yang menyulut api, kopi juga dipercaya bisa menstimulus semangat di pagi hari.

Sama seperti halnya di Dili, Ibu Kota Timor Leste, minum kopi juga menjadi ritual pagi sebelum memulai aktivitas hingga senja menjelang.

Pemandu Wisata Platao Lebre menuturkan kopi bagi orang Timor adalah lambang persaudaraan yang lebih nikmat apabila dinikmati bersama di rumah.

“Kalau di sini jarang sekali orang-orang menikmati kopi di warung-warung atau coffee shop karena lebih enak dengan keluarga,” katanya.

Tak heran apabila mendengar kata-kata Bahasa Inggris yang keluar dari mulut Platau, selain karena memang ia adalah pemandu wisata, ia juga pernah mengenyam pendidikan tinggi di Melbourne, Australia.

Kemampuan Bahasa Indonesianya pun sangat baik terlepas dari sejak kecil yang memang belajar Bahasa Indonesia sebelum Timor Leste merdeka, Platau pun lulusan salah satu sekolah tinggi pariwisata di Solo, Jawa Tengah.

Meskipun bahasa nasional di Timor Leste saat ini Bahasa Portugis, pemandu wisata berkulit hitam manis itu mengaku kesulitan mempelajarainya.

“Bahasa Portugis saya hanya bisa beberapa, sulit sekali kata-katanya,” katanya.

Kembali ke kopi, Platau mengungkapkan kurangnya masyarakat lokal yang pergi ke kedai untuk menyeruput secangkir kopi karena mereka beranggapan apabila makan atau minum di warung, tak ada makanan di rumah.

“Secara psikologis mereka menganggap kalau laki-laki itu minum kopi atau makan di warung, berarti istrinya malas masak,” ujarnya.

Kendatipun, ia menunjukkan salah satu kedai kopi terbaik di kota itu yang menjajakan kopi terbaiknya yang dinamakan Kopi Letefoho.

Kopi Letefoho merupakan kopi yang berasal dari Distrik Ermera dan dikembangkan oleh masyarakat yang tergabung dalam semacam usaha kecil menengah.

Platao mengatakan Letefoho bisa dibilang sebagai kopi terbaik di dunia setelah Brazil.

“Tiga bulan yang lalu, kita mengikuti kompetisi kopi di Italia dan barista (peracik kopi) kita menang,” katanya.

Meskipun kopi tersebut tidak diekspor ke Indonesia, tapi negara-negara tetangga lainnya, seperti Australia sangat meminati kopi tersebut, pasalnya salah satu kedai kopi yang sudah tersebar dan terkenal di dunia, menggunakan kopi tersebut sebagai bahan racikannya.

“Di Melbourne pakai kopi ini, di Jerman juga,” katanya.

Lebih Pekat
Memang betul ucapan Platao, di kedai kopi Letefoho itu tidak ditemukan orang-orang lokal, kecuali pelayan dan kasir, sisanya “bule” yang bersantai sore sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari nyiur melambai.

Di kedai dua lantai itu, kopi Letefoho dijajakan. Baru beberapa langkah memasuki kedai, aroma khas kopi langsung menyeruak.

Ada mesin kopi yang besar di dekat pintu, tulisan tentang kopi Timor Leste di dinding samping dan papan yang sudah dicorat-coret dengan kapur tulis untuk menunjukkan daftar harga kopi.

Seperti di kedai kopi pada umumnya, biji-biji kopi diolah menjadi menjadi minuman sesuai dengan selera penikmatnya.

Bagi pecinta kopi, tentu tidak asing dengan “espresso”, “machiato”, “capuccino” atau pun “cafe latte”. Pembeli bisa memilih di antara menu favorit tersebut baik disajikan dingin maupun panas.

Tak seperti di kedai kopi pada umumnya, di kedai kopi yang bernama “Cafe Brisa Serena Unipessoal Lda” tidak menyajikan “cappucino” dingin atau “iced capucciono” serta minuman teh.

Minuman yang sarat dengan campuran kopi dan krim itu hanya disuguhkan dalam sajian panas.

Satu cangkir atau segelas kopi dibanderol 1,5 dolar AS hingga 4 dolar AS atau sekitar Rp21.000-Rp56.000. Sejak lepas dari Indonesia, alat pembayaran di Timor Leste tidak lagi menggunakan rupiah, tetapi dolar AS.

Dengan posisi kedai yang langsung menghadap ke bibir pantai nan biru, ditemani dengan camilan khas Portugis “Bolinhos de Natas” atau sejenis tar telur yang legit, tentu menciptakan suasana senja yang tak terlupakan.

“Sebagian masakan dan camilan Timor memang diadopsi dari kuliner Portugis,” kata Platao.

Tak hanya kue Porto, sebutan untuk segala sesuatu yang berasal dari Portugis, kopi Letefoho juga bisa dinikmati dengan kue pisang, roti ubi dan “cookies” berbahan dasar gandum yang kaya akan serat.

Bagi yang tidak suka camilan manis, pembeli bisa memesan kentang goreng dengan ukuran besar-besar yang rasa gurihnya menyatu dengan saus manis a la Timor.

Platao mengatakan ada roti tradisional khas Timor yang terbuat dari tepung, minyak dan telur yang biasa dimakan dengan teh untuk sarapan, namanya roti paung.

“Rotinya sangat keras, bisa buat lempar kepala orang sakitnya minta ampun,” katanya.

Sayangnya, roti paung berbentuk bulat seharga 10 sen atau Rp1.000 itu tidak dijual di kedai kopi Letefoho.

Tak ada sambungan internet atau “wifi” dan jajaran stop kontak di kedai itu, yang seringkali menjadi alasan kaum urban “ngopi-ngopi cantik”, tapi pengunjung setuju bahwa pemandangan di sekitar kedai itu jauh lebih cantik.

Edo Kusuma, pengunjung asal Indonesia yang baru pertama kali menjejakkan kakinya ke Negeri Lorosae itu mengaku terbuai dengan suasana minum kopi yang tidak ia dapatkan di Jakarta.

Sesekali matanya tertuju pada orang yang berlalu lalang, “jogging” di bibir pantai sembari menyeruput “Cafe Mocha” pesanannya.

Di Dili, tak aneh bila menemukan banyak sekali muda-mudi bahkan kaum lansia yang berolahraga pada sore hari di sepanjang garis pantai yang melingkari kota tersebut. Ada yang sendirian, bersama teman atau hewan kesayangannya.

“Kopinya lebih pekat, aromanya lebih kuat dan ampasnya cepat turun, mungkin itu ciri khasnya,” katanya.

Menurut Edo, sebagai pecinta kopi, dari segi rasa tidak jauh berbeda dengan kopi Toraja, hanya saja sedikit lebih kuat aromanya.

Salah satu pengunjung, Hadijah Alaydrus juga setuju kopi Letefoho memang nikmat, namun sebaliknya, ia justeru suka kopi itu karena tidak terlalu keras dan aromanya yang manis.

Lain lagi dengan Gloria Samantha, penikmat kopi yang satu ini merasa beruntung bisa mencicipi kopi terbaik khas Timor nan harum di kedai yang sederhana dan harganya terjangkau.

“Pengalaman yang terlalu sayang untuk dilewatkan,” ujarnya.

Jangan khawatir, bagi yang masih ingin menikmati pekatnya kopi Letefoho di rumah masing-masing, kedai tersebut juga menjual baik dalam bentuk bubuk atapun biji kopi yang dibanderol antara Rp40.000-Rp114.000 tergantung kemasan.

Namun, akan lebih terjangkau tentunya jika membeli langsung di koperasi yang tidak jauh dari supermarket atau kedai pinggir jalan itu.

Komoditas Utama
Kopi merupakan salah satu komoditas utama Timor Leste dari sektor perkebunan, selain rempah-rempah, seperti kemiri dan kelapa.

Menteri Luar Negeri Timor Leste Hernani Coelho mengatakan potensi kopi di negeri yang sempat menjadi provinsi ke-27 Indonesia tersebut sangat besar, yakni baru dimanfaatkan sekitar 25 persen dari 75 persen.

“Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor di negara kita dan potensinya sangat besar, di setiap daerah hampir pasti dtanami kopi,” katanya.

Dia mengatakan jenis kopi yang diproduksi juga beragam, yakni Letefoho dan Maubisi yang masuk dalam jenis kopi terbaik.

Hernani mengatakan pihaknya membuka kebebasan seluas-luasnya bagi asing untuk berinvestasi di Timor Leste agar perekonomian negara tersebut membaik.

Berdasarkan data Dunia Bank 2014, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Timor Leste 6,7 persen, PDB 1,5 miliar dolar AS dengan jumlah penduduk 1,2 juta jiwa.

“Untuk beras sendiri, kami masih impor sekitar 10.000 sampai 70.000 ton, tapi untuk kebutuhan nasional sendiri cukup,” katanya.

Hernani mengatakan untuk lebih mengenalkan kopi khas Timor kepada dunia luas, salah satu upayanya adalah mendatangkan wisatawan mancanegara ke dalam negeri.

Namun, faktor penunjang untuk menumbuhkan sektor pariwisata masih sangat kurang, seperti penginapan, ketersediaan angkutan umum, infrastruktur bandara dan lainnya.

“Masalah infrastruktur, keamanan, kesehatan kemudian produk yang bisa dijual di bidang pariwisata serta pendidikan, ini yang menjadi fokus pemerintah,” katanya.

Untuk itu, Timor Leste melalui perusahaan penerbangan carter berjadwal satu-satunya, Air Timor bekerja sama dengan salah satu maskapai berbiaya murah Citilink Indonesia untuk membuka rute Denpasar Dili agar lebih mendatangkan banyak wisatawan mancanegara.

“Sedikit banyak Indonesia dan Timor Leste, masih sangat erat hubungannya dari segala sektor,” katanya.

Seperti kopi, hubungan baik Indonesia-Timor Leste dari segi ekonomi, pendidikan dan kesehatan bisa dibilang sisi manisnya, namun dapat menjadi pahit apabila menengok kembali kepada sejarah masa lampau.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

© Copyright 2018 Aksi.co