Username

Password

Remember me

Register

Recover password

HNSI Buru Pembuang Limbah B3 ke Muara

HNSI Buru Pembuang Limbah B3 ke Muara - Aksi.co

Penulis Aksi | Monday 26 December 2016

HNSI Buru Pembuang Limbah B3 ke MuaraEkses pembuangan limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) ke sungai yang kemudian bermuara ke laut utara, sudah terbukti menelan korban. Di Desa Suranenggala dua nelayan dikabarkan meninggal dunia dan 12 lainnya sempat dirawat di rumahsakit pemerintah Cirebon. Mereka menjadi korban keracunan kerang hijau alias kerang ijoan. Sampel kerang ijoan sedang diperiksa polisi untuk penyelidikan lebih mendalam.

Analisa sementara dari pihak Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Barat, kerang tersebut beracun akibat memakan plankton yang terkontaminasi B3 yang dibuang pabrik. Laporan dari HNSI Kab. Cirebon, pabrik yang paling dekat dengan pantai di kawasan pantura adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan bahan bakar batubara. Limbah proses produksinya langsung dibuang ke sungai yang mengalir ke muara pantai utara.

Dalam diskusi yang dilakukan HNSI Kab Cirebon dengan DPD HNSI Jawa Barat di Dago Pakar Bandung, kemarin, terungkap adanya temuan tempat budidaya ikan termasuk kerang ijoan sangat memprihatinkan. Selain kotor, air yang menggenangi tempat budidaya kerang ijoan itu kumuh dan berbau menyengat.

Beberapa potret menunjukan kondisi tempat budidaya kerang di Gebang, Suranenggala, Cirebon Utara, begitu pula di pelabuhan ikan Bondet terjadi pendangkalan. Kondisi air sangat keruh, kotor, dan berbau tidak sedap. Nelayan dan warga di sekitar muara sungai mengklaim itu limbah yang dibuang pabrik.

“Sedikitnya 90 persen kerang hijau yang dibudidaya di kawasan pantai utara mati. Yang di Gebang sudah jelas akibat limbah yang dibuang dua pabrik PLTU yang berkekuatan masing-masing 5000 MW,” ungkap H. Suherman, SH, MBA, Ketua DPC HNSI Kab. Cirebon. Tidak hanya itu, belasan ribu nelayan yang mengandalkan kerang hijau juga hampir kehilangan pekerjaan, karena produksi kerang hijau menurun drastis. Apalagi setelah ada ekses keracunan kerang ijoan, masyarakat enggan mengonsumsi kerang hijau.

Suherman menyebutkan, selain karena PLTU limbah yang bermuara ke laut utara itu hasil buangan pabrik lain seperti Indofood, pabrik gula, pabrik Indocement, dan limbah pertanian. “Kalau diukur ada sekitar 5 mil dari pantai itu airnya sudah terkontaminasi limbah. Kami mengajak para pemerhati lingkungan, pemerintah bersama HNSI untuk melakukan pengecekan dan penelitian,” tandas Suherman.

HNSI Kabupaten Cirebon pernah merilis temuan buangan limbah pabrik, ditemukan racun yang tidak hanya berdampak pada kerang hijau, tetapi juga pada udang, kepiting, rajungan, dan jenis ikan lainnya di laut utara.

“Kondisi ini benar-benar menyusahkan nelayan tangkap dan budidaya laut. Produksi kerang hijau pun menurun hingga 80 persen,” kata Suherman sambil menambahkan, saat ini sudah ada larangan pemerintah daerah untuk tidak mengonsumsi kerang hijau.

Ranah Hukum

Mendapatkan laporan dari HNSI Kab Cirebon, Ketua DPD HNSI Jawa Barat H. Nandang A Permana langsung angkat bicara. Pihaknya akan membawa kasus ini ke ranah hukum. “Jika terbukti bahwa racun itu berasal dari limbah pabrik A, B, atau C, maka kami akan membawa masalah ini ke ranah hukum. Kami juga sudah siap mengerahkan massa jika itu diperlukan,” tandas Nandang.

Pencemaran lingkungan di perairan utara, menurut Nandang, saat ini sudah tidak bisa ditolelir. Korban semakin banyak berjatuhan akibat keracunan mengonsumsi ikan budidaya laut maupun hasil tangkapan. Pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat diminta untuk segera turun tangan. “Ini bukan masalah sepele, ini serius dan harus segera disikapi,” ungkap Nandang.

Dalam waktu dekat, HNSI Jawa Barat akan mengambil sampel air dan sejumlah ikan yang diduga terkontaminasi limbah beracun. Sampel itu akan dibawa ke laboratorium di Bandung maupun Jakarta. Hasil penelitian laboratorium akan dijadikan bahan rujukan bahan berbahaya apa saja yang mencemari biota laut dan kemungkinan pabrik mana yang membuang limbah ke laut. (isur)

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply