Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Standar Tinggi Bisa Hancurkan Pernikahan

Standar Tinggi Bisa Hancurkan Pernikahan - Aksi.co

Penulis Mochammad Gungun | Saturday 26 March 2016

pernikahanKebanyakan orang memiliki standar ataupun kriteria tertentu mengenai pasangan hidup yang diinginkan. Bahkan kadang standar tersebut terbawa hingga ke taraf rumah tangga, seperti tindakan yang seharusnya dilakukan pasangan atau semacamnya.

Namun hasil sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap, ternyata standar atau harapan tersebut tidaklah baik bagi kebahagiaan seseorang. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam the Personality and Social Psychology Bulletin.

“Ada batas untuk apa yang dapat diraih oleh seseorang dalam hidup dan pernikahan,” kata James McNulty, seorang profesor di Florida State University, dilansir Time.

Penelitian yang dilakukan McNulty menemukan bahwa memiliki standar tinggi hanya akan membuat bahagia hanya jika memiliki perkawinan yang kuat, sedangkan memiliki standar lebih rendah itu lebih baik untuk pernikahan yang rawan.

“Biasanya orang tidak pernah ingin bertahan untuk sesuatu yang kurang dari apa yang bisa diraih, tapi kadang orang terpaksa untuk melakukan hal tersebut, dan itu lebih baik untuk meneruskan apa yang bisa diperbuat,” katanya.

Dalam penelitian sebelumnya, hasil tentang memiliki kriteria tinggi ini sangat beragam. Beberapa penelitian menemukan bahwa berharap lebih terhadap pasangan akan mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu yang lebih.

Tetapi beberapa penelitian lainnya menemukan bahwa standar tidak terlalu tinggi lebih mudah digapai dan membuat orang merasa lebih puas akan bahagia.

McNulty menggunakan data yang ia kumpulkan dari 135 pasangan baru di Tennessee. Masing-masing diwawancara untuk mengetahui sejauh apa standar mereka dan kaitannya dengan kebahagiaan selama pernikahan.

Peneliti juga merekam diskusi antar pasangan utnuk memastikan tingkat perselisihan tidak langsung yang terjadi pada mereka. Perselisihan tidak langsung ini datang saat seseorang tidak langsung mengatasi masalah yang terjadi atau tidak langsung menyalahkan pasangan mereka.

Selain wawancara dan merekam pola diskusi, peneliti juga meminta pasangan untuk melaporkan kebahagiaan mereka selama perkawinan. Sesi pelaporannya dua kali dalam setahun, selama empat tahun penelitian.

Hasil menunjukkan bahwa pasangan sudah cukup bahagia dengan perkawinan mereka, juga standar yang tinggi. Namun standar yang lebih tinggi ternyata adalah hal yang buruk bagi pasangan yang tidak bersama-sama dan lebih banyak perselisihan tidak langsung.

Sebaliknya, orang dengan standar yang lebih rendah merasa lebih bahagia dengan pernikahan mereka.

“Orang yang memiliki kemampuan lebih rendah, baik karena mereka memiliki komunikasi yang buruk, hambatan eksternal, kondisi keuangan yang menekan pernikahan, atau rasa tidak percaya diri akan melakukan lebih bila mereka tidak banyak menuntut, karena mereka akan berisiko mengalami kekecewaan bila tetap menuntut,” kata McNulty.

Menurut McNulty, sulit untuk mengetahui cara mempertahankan paling baik untuk perkawinan. Baginya, kondisi inilah yang menantang bagi para pasangan untuk menemukan cara dan mengatasi permasalahan dalam perkawinan.

Catatan dari McNulty adalah perkawinan merupakan sebuah pekerjaan, dan bagi yang tidak memiliki keinginan untuk bekerja atau waktu untuk hal tersebut lebih baik tidak terlalu menuntut terhadap pasangan.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mendorong para pasangan menghadapi masalah mereka dan dapat memecahkannya. Mungkin bagi sebagian pihak, mempertahankan pernikahan dengan standar yang tinggi dapat memotivasi mereka untuk menggapai hal tersebut.

“Bila Anda dapat memperbaiki hubungan, maka lakukanlah. Tapi bila Anda tahu bahwa Anda tidak dapat, maka lebih baik terima apa adanya.” katanya.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

www.aksi.co @Copyright 2018