Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Nabi Muhammad Sebagai Teladan

Nabi Muhammad Sebagai Teladan - Aksi.co

Penulis Mochammad Gungun | Friday 25 March 2016

Pendidikan yang diberikan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. menjadikan beliau sebagai manusia yang paling layak untuk menjadi “teladan yang baik” bagi umat Islam yang menginginkan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Pertanyaannya kemudian adalah “Apakah Rasulullah Muhammad SAW. harus diteladani dalam semua kehidupan beliau, ataukah ada hal-hal yang harus diteladani dan lainnya boleh diteladani dan boleh tidak?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada pendapat beberapa ulama yang bisa menjelaskan permasalahan tersebut. Al-Zamahsyari menafsirkan “uswah hasanah” dalam ayat di atas dengan 2 (dua) makna: (1) kepribadian beliau secara totalitas adalah teladan, dan (2) dalam kepribadian beliau ada hal-hal yang patut diteladani, yang menurut mafhum mukhalafahnya “juga ada yang tidak harus diteladani”. Sedang al-Qurthubi berpendapat bahwa “dalam hal-hal yang merupakan urusan agama, maka harus diteladani dan wajib dilaksanakan, tetapi dalam urusan duniawi, hal itu hanya merupakan anjuran yang boleh atau tidak diteladani. Sebab dalam urusan duniawi, beliau menyerahkan sepenuhnya kepada para ahli atau pakar di bidangnya masing-masing, sebagaimana dinyatakan dalam sabda beliau, “Apa yang kusampaikan menyangkut ajaran agama, maka terimalah; sedangkan kamu lebih tahu persoalan duniamu.”

Pendapat yang lebih komprehensif disampaikan oleh Imam al-Qarafi yang memilah-milah ucapan atau perbuatan beliau dalam peran beliau sebagai: (1) rasul, maka segala ucapan maupun perbuatan beliau pasti benar karena beliau adalah hamba yang terjaga dari kesalahan (ma’shum) yang oleh karenanya wajib diteladani, (2) mufti (pemberi fatwa), semua fatwa yang beliau sampaikan berdasarkan pada pemahaman beliau terhadap teks keagamaan yang beliau diberi wewenang untuk menjelaskannya. Karena itu, fatwa yang beliau berikan pasti benar dan wajib diteladani/dilaksanakan sebagaimana pada peran pertama, (3) hakim, keputusan beliau secara formal pasti benar, tetapi secara material ada kalanya keliru, sebab orang yang berperkara bisa saja menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan dengan kemampuannya bisa mengajukan bukti-bukti palsu. Berkaitan dengan hal ini, beliau bersabda, “نحن نحكم بالظواهر و الله يتولى السرائر” )kami memutus perkara berdasarkan bukti-bukti konkrit (nyata), sedangkan masalah yang tersembunyi/disembunyikan adalah urusan Allah), (4) pemimpin, beliau selalu menyesuaikan pola kepemimpinannya dengan kondisi masyarakat yang dipimpinnya, sehingga memungkinkan terjadinya pola kepemimpinan yang berbeda-beda. Dalam hal ini, beliau patut diteladani dalam hal-hal yang sesuai dengan sikon yang kita hadapi, dan (5) pribadi, dalam hal ini bisa dilihat dari 2 (dua) perspektif: (a) kekhususan-kekhususan beliau yang tidak boleh dan tidak harus ditetadani, misalnya: perkawinan beliau dengan lebih dari 4 (orang) wanita, kewajiban salat malam, dhuha, menyembelih qurban, dan tidak boleh menerima zakat, dan (b) sebagai manusia biasa, jika perbuatan yang beliau lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. maka termasuk yang diteladani, tetapi jika merupakan rutinitas kemanusiaan maka boleh ditetadani dan boleh tidak. Misalnya: model pakaian yang beliau kenakan, karena hal itu disesuaikan dengan budaya masyarakat di mana beliau tinggal. Dalam hal ini, pakaian Rasulullah SAW. tak berbeda dengan pakaian Abu Jahal dan Abu Lahab serta orang-orang Arab lainnya, dan itu bukan urusan agama tetapi urusan manusia sepenuhnya. Dalam hal pakaian, yang menjadi urusan agama bukan model pakaiannya tetapi batasan-batasan aurat baik laki-laki maupun perempuan yang harus ditutup dengan pakaian yang sekiranya tidak menonjolkan lekuk-liku tubuhnya. Selain itu,masih ada selera beliau tentang warna sepatu/sandal, warna kain yang dikenakan sebagai baju, dan lain sebagainya yang semuanya tidak harus diteladani tetapi mubah untuk diteladani.
Kesimpulan

Dari uraian di atas maka masalah Rasulullah SAW. sebagai teladan bisa disimpulkan sebagai berikut:

1. Sebagai seorang rasul, maka semua risalah agama beliau adalah berdasarkan pada wahyu sehingga apa yang beliau bawa pasti benar dan wajib diteladani.

2. Sebagai manusia biasa, maka Rasulullah SAW. seperti halnya kita semua memiliki selera dalam hal cara berpakaian atau model pakaian, makanan yang disukai, warna sepatu atau sandal, yang semuanya adalah urusan duniawi yang urusannya diserahkan sepenuhnya kepada kebebasan manusia untuk memilih, sehingga beliau boleh diteladani dan boleh juga tidak.

3. Ada kekhususan yang dianugerahkan Allah SWT. kepada beliau dan tidak kepada manusia lainnya, misalnya: menikah dengan banyak wanita (lebih dari empat orang), kewajiban salat malam, salat dhuha, qurban di hari raya Idul Adha, dan larangan menerima zakat serta tidak mewarisi dan diwarisi. Semua itu tidak harus diteladani karena hal itu merupakan syariat khusus untuk beliau tidak untuk umatnya.

Wa Allah a’lam bi al-shawab

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

www.aksi.co @Copyright 2018