Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Proses Pemakzulan Presiden Brazil Masuki Tahap Kritis

Proses Pemakzulan Presiden Brazil Masuki Tahap Kritis - Aksi.co

Penulis Aksi | Tuesday 23 August 2016

Proses Pemakzulan Presiden Brazil Masuki Tahap Kritis Proses pemakzulan terhadap Presiden Brazil Dilma Rousseff, yang diskors dari jabatan presiden, memasuki tahap kritis pekan ini, saat pemeriksaan terhadapnya dimulai di Senat.

Proses peristiwa tersebut diumumkan pekan lalu oleh Ketua Mahkamah Agung Ricardo Lewandowski, yang akan mengawasi proses itu.

Rousseff dituduh berusaha menyembunyikan defisit anggaran publik melalui penyimpangan fiskal, seperti menunda pembayaran pinjaman ke bank publik dan memerintahkan pinjaman tambahan tanpa persetujuan Kongres.

Rousseff untuk sementara diskors selama 180 hari pada 12 Mei dan Wakil Presidennya Michel Temer mengambil-alih jabatan presiden untuk sementara.

Mayoritas dua-pertiga, 54 dari 81 senator, diperlukan untuk sepenuhnya mencopot wanita presiden itu dari jabatannya.

Kalau sampai Rousseff dimakzulkan, Temer akan menyelesaikan mandat Rousseff sampai akhir 2018 dan wanita presiden tersebut takkan memenuhi syarat untuk mencalonkan diri memangku jabatan publik selama delapan tahun.

Jika tidak, Rousseff akan kembali memangku jabatan presiden secepatnya dan proses terhadap dia akan berakhir.

Bagian pertama dari proses itu pada 25-26 Agustus akan dimulai dengan keterangan saksi yang dipanggil oleh jaksa, Miguel Reale Junior, Janaian Paschoal dan Helio Bicudo, dan tim pembela Rousseff –yang dipimpin oleh mantan hakim Jose Eduardo Cardozo.

Jaksa penuntut akan memanggil dua saksi, Julio Marcelo de Oliveira –pejabat publik dari Kantor Pertanggung-Jawaban Federal (TCU), yang mengajukan kasus terhadap Rousseff, dan Antonio Carlos Costa DAvila, Kepala Auditor di TCU.

Tim pembelanya telah mengajukan enam saksi, jumlah maksimal yang diizinkan. Saksi tersebut meliputi mantan menteri perencanaan di bawah Rousseff Nelson Barbosa, mantan sekretaris anggarannya Esther Dweck, ahli ekonomi terkemuka Gonzaga Belluzo, mantan sekretaris penanaman modal politik Gilson Bettencourt, mantan sekretaris pelaksana di Kementerian Pendidikan Luiz Claudio Costa, dan profesor hukum dari Federal University of Rio de Janeiro Geraldo Prado.

Pernyataan masing-masing saksi akan didengarkan secara individu, lalu diikuti oleh tiga menit yang disediakan buat pertanyaan dari setiap Senator dan tiga menit untuk jawaban.

Pada 29 Agustus, Rousseff akan dihadirkan untuk melakukan pembelaan. Ia akan diberita waktu 30 menit untuk menyampaikan pembelaan, sebelum diinterogasi oleh Ketua Mahkamah Agung, senator dan pengacara dari kejaksaan dan pembela.

Masing-masing senator akan memiliki waktu lima menit untuk mengajukan pertanyaan sedangkan waktu Rousseff tak dibatasi untuk memberi jawaban. Wanita presiden itu juga diperkenankan untuk tidak menjawab pertanyaan.

Setelah Rousseff memberi pernyataan, jaksa penuntut dan pengacara pembela akan memiliki waktu 90 menit untuk menyampaikan pernyataan penutup dan akan diperkenankan mengajukan bantahan.

Pada 30 Agustus, masing-masing senator akan diberi waktu 10 menit untuk berbicara mengenai seluruh proses tersebut. Setelah itu, Lewandowski akan membacakan ringkasan proses pemeriksaan tersebut, dengan argumentasi utama dari jaksa penuntut dan pengacara pembela.

Dua senator yang mendukung pemakzulan terhadap Rousseff dan dua senator yang menentangnya, masing-masing, lalu akan memiliki waktu lima menit untuk memberikan rekomendasi mereka bagi pemungutan suara akhir.

Jika masih ada waktu, pemungutan suara akan dilakukan pada 30 Agustus dan jika tidak, maka proses tersebut dilakukan pada 31 Agustus.

Blok yang mendukung pemakzulan yakin akan memperoleh 54 suara yang diperlukan, sebab pemungutan suara yang dilakukan dua pekan sebelumnya mengenai apakah ada cukup bukti untuk mengadili Rousseff meraih 59 suara dukungan.

Dalam pidato di Brasilia pada 16 Agustus, Rousseff menyampaikan kembali pernyataannya bahwa ia secara resmi telah dituduh melakukan kejahatan yang tidak dilakukannya dan pencopotannya dari jabatan akan menjadi “kudeta”.

“Kembalinya saya ke kursi presiden, berdasarkan keputusan Senat, akan memperlihatkan negara yang demokratis dan berdasarkan hukum dan akan memberi sumbangan penting bagi kenyataan politik baru yang menjanjikan,” katanya.

Menurut Rousseff, negaranya memerlukan bentuk kelembagaan baru politik yang mengatasi “perpecahan partai, membuat kampanye moral keuangan … dan memberi lebih banyak kekuasaan pada pemilih”.

Ia diperkirakan kembali menyampaikan pernyataan itu selama proses pemeriksaan untuk meyakinkan senator yang belum membuat keputusan untuk memberi suara yang menentang pemakzulan, demikian Xinhua melaporkan.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

www.aksi.co @Copyright 2018