Username

Password

Remember me

Register

Recover password

PM Moldova Mundur Karena Skandal Ijazah Palsu

PM Moldova Mundur Karena Skandal Ijazah Palsu - Aksi.co

Penulis Aksi | Friday 12 June 2015

(FILES) -- A file photo taken on March 16, 2015 shows Moldova's Prime Minister Chiril Gaburici arriving at the European Commission in Brussels. Moldovan Prime Minister Chiril Gaburici announced his resignation on June 12, 2015, just four months into the job, after being accused of faking his education credentials. "I have decided to announce my resignation. I can't stay in this position any longer," Gaburici said in a statement posted on the government's website.  AFP PHOTO / EMMANUEL DUNANDPerdana Menteri Moldova Chiril Gaburici pada Jumat mengundurkan diri dari jabatan yang baru didudukinya selama empat bulan setelah dituduh memalsukan gelar pendidikan.

“Saya telah memutuskan untuk mengumumkan pengunduran diri saya. Saya tidak bisa duduk di posisi ini lebih lama lagi,” kata Gaburici dalam pernyataan tertulis yang diunggah di laman resmi pemerintah Moldova.

“Saya bukan merupakan politisi, saya hanya seorang manajer. Saya tidak ingin ambil bagian dalam permainan politik,” kata tokoh berusia 38 tahun itu.

Pada Kamis lalu, Gaburici sempat menjalani sesi penyelidikan bersama sejumlah jaksa terkait tuduhan bahwa dia telah memalsukan ijazah sekolah menengah atas. Dia mengaku mengundurkan diri untuk menghindar dari sorotan politik sekaligus memastikan kestabilan negara.

“Saya tidak ingin pertanyaan soal latar belakang pendidikan saya menjadi topik utama nasional,” kata dia.

Gaburici menjabat sebagai perdana menteri pada 18 Februari lalu setelah Partai Liberal Demokrat berhasil membentuk koalisi dengan sejumlah partai pro-Uni Eropa lain.

Sebelumnya, dia bekerja di perusahaan telekomunikasi Moldcell dan Azarcell.

Moldova adalah pecahan Uni Soviet dengan jumlah populasi sekitar 3,5 juta jiwa. Negara yang terletak di antara Ukraina dan Romania itu adalah salah satu negara paling miskin di Eropa.

Pada tahun lalu, pemerintah Moldova menandatangani penggabungan diri dengan Uni Eropa meski mendapat tentangan besar dari Rusia.

Menanggapi langkah pro-Barat tersebut, Moskow kemudian merespon tindakan tersebut dengan menerapkan larangan impor buah dari Moldova.

Rusia kini masih terus menempatkan pasukan di wilayah Moldova yang telah menyatakan diri merdeka, Transdniestr. Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia menyediakan bantuan bagi wilayah berpenduduk 500.000 jiwa itu –sebanyak 180.000 di antaranya berkewarga-negaraan Rusia.

Pemilihan umum daerah rencananya diselenggarakan pada 14 Juni untuk membentuk parlemen dan koalisi baru, demikian AFP.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply