Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Saladin Belhacel Jabat Duta Masyarakat Adat Jawa Barat di Eropa

Saladin Belhacel Jabat Duta Masyarakat Adat Jawa Barat di Eropa - Aksi.co

Penulis Aksi | Saturday 7 May 2016

Saladin BelhacelDalam Gempungan (Rapat Kerja) BOMA Jabar (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jawa Barat di Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa di Pasir Impun Kabupaten Bandung, belum lama ini, Saladin Belhacel, warga negara Perancis diangkat sebagai Duta Masyarakat Adat Jawa Barat di Eropa/Pentahbisan.

Pentahbisan semacam ini melengkapi Duta Masyarakat Adat Jawa Barat di Eropa untuk Didier Carre (16/2/2014). Kala itu Didier Carre yang di kalangan BOMA Jabar kerap disapa Kang Didi Masagi, hingga kini kerap mengunjungi Pasir Impun bila berkunjung dalam konteks bisnis di Indonesia. Disela-sela itu, Ia melakukan kontak dengan masyarakat adat di pelosok Jabar. Setelahnya ada Kareem Hussein, Diplomat Mesir. Menurut pengakuannya, Ia jatuh cinta pada kehidupan dan filosofi warga adat Jawa Barat.

Saladin Belhacel sendiri yang sudah dua kali tinggal di Alam Santosa, Pasir Impun dalam rentang masing-masing lebih dari dua bulan lamanya sejak 2015 hingga 2016, hari itu tampak merasa lega:” An honor for me to be appointed as an ambassador for BOMA Jabar in Europe in particular. I was touched and this will be my mandate entailed until whenever. (Sim kuring ngaraos reureus ditunjuk janten duta BOMA Jabar di Eropa. Miharep kuring tiasa nandangan ieu amanah anu sakitu agungna kangge kamaslahatan urang sarerea).

Gerakan Hejo dan Baduy

Saladin Belhacel bersama Eka Santosa yang merintis Gerakan Hejo sejak September 2015 dan juga didukung oleh sesepuh Jawa Barat Solihin GP. Ia selain aktif memberikan sumbang saran demi memajukan Gerakan Hejo yang punya visi dan misi menghijaukan Jawa Barat, juga sangat berniat menempatkan masyarakat Baduy – Kanekes di Leuwi Damar Kabupaten Lebak dalam tentative list world heritage menurut UNESCO.

Upayanya tak tanggung-taggung ketika pulang ke Paris, Perancis (September 2015), Ia telah menemui Wakil Tetap RI untuk UNESCO, Dubes Fauzi Sulaeman. Kala itu Ia ungkapkan keperihatinan, terhadap masyarakat baduy, diperkirakan dalam waktu dekat akan musnah budaya dan lingkungannya – “Betapa tidak berdayanya mereka, kala menghadapi intrusi kebudayaan modern yang mengancamnya. Ini harus dilindungi UNESCO yang sedikitnya punya anggota sekitar 195 negara!”

Keprihatinan atas warga Baduy, banyak Ia ketahui sebelumnya dari literatur para antropolog kelas dunia yang telah berkunjung kesana pada era 1960-an dan sebelumnya. Diperkuat pula berupa keprihatinan serupa dari Eka Santosa, plus persahabatan pribadi dengan Olot Sahari “Duta Besar” keliling dari warga Baduy, klop lah, jadinya! Selanjutnya, pada Februari 2016, Ia mengunjungi “baduy dalam” dan bertemu tetua adat ‘puun’ secara khusus. Ini pimpinan tertinggi dari 7 jaro di Baduy- Kanekes. Sepulang dari Baduy – Kanekes, bersama Gerakan Hejo dan Eka Santosa, menggelar semacam loka karya tentang hal ini bersama beberapa akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Rabu, 23 Maret 2016 di Alam Santosa. Hadir dari Unpad, antara lain Prof. Dede Mariaa, Prof, Emeritus Judistira Garna, Ade Makmur K, Ph. D, Dr. Nuryah Asri, Dr. Feliza, Ari Ganjar Ph. D, dan Dr, Denny.

Upaya terakhir Saladin Belhacel, pada akhir April 2016 Ia telah bertemu pakar “world heritage untuk UNESCO”, Purwanto dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) di Bogor. Menurutnya, banyak masukan, dalam bahasa Indonesia, kira-kira Ia berujar – “Pertemuan dengan Pak Purwanto memberikan banyak informasi penting bagaimana menempatkan Baduy dalam tentative list world heritage UNESCO. Kuncinya ada di pihak kita-kita ini sebagai warga biasa atau swasta. Ini sedang kita tindak lanjuti, nanti akan bertemu lagi dengan Dubes Fauzi Sulaeman di Paris”.

Nah, demikianlah sedikit kiprah Saladin Belhacel yang sangat peduli terhadap masyarakat adat di Jawa Barat dan Bantenm serta Nusantara. Di mata Mama Uluk, Tetua Kampung Adat Dukuh asal Garut Selatan yang hari itu ikut mentahbiskan:”Bersyukur kita punya Kang Saladin. Orang ini walaupun tak ada hubungan apa-apa dengan kita, begitu peduli terhadap kita. Tantangannya pun pasti besar. Sebagai warga adat sangatlah mendukung, bila warga Baduy dilindungi UNESCO”.

Bagi Agus Warsito, Sekjen Gerakan Hejo, kehadiran Saladin Belhacel dirasakan sangat membantu penyebaran pergerakannya baik di Jawa Barat, Indonesia, maupun Eropa sana. “Melaluinya, sudah banyak kalangan media dan perorangan mengenal apa dan siapa serta mengapa Gerakan Hejo dan BOMA Jabar, termasuk keberadaan masyarakat Baduy di Banten. Memang banyak hal yang kami garap saat ini. Berkat uluran Mr. Saladin, bertahap mulai terbantu. Pantaslah Ia memperoleh kehormatan sebagai duta dari Boma Jabar dan Gerakan Hejo”.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply