Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Solihin GP: OTT Pungli DPMPTSP Bandung, Sakiti Rakyat

Solihin GP: OTT Pungli DPMPTSP Bandung, Sakiti Rakyat - Aksi.co

Penulis Aksi | Monday 30 January 2017

Solihin GP: OTT Pungli DPMPTSP Bandung, Sakiti Rakyat Terkuaknya fenomena OTT (Operasi Tangkap Tangan) yang ditangani Tim Saber Pungli di Kantor Dinas Penananman Modal dan Pelayanan terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandung pada Jumat (27/01/2017), mengagetkan banyak kalangan. Tak terkecuali tokoh Jabar Solihin GP (91). Mang Ihin demikian panggilan akrab mantan Gubernur Jabar era 1970 – 1974, serta Sekertaris Pengendalian dan Operasi Pembangunan (Sekdalopbang) pada era Orde Baru. Ditemui di rumahnya di Cisitu Indah Bandung (29/1/2017), Ia tampak terperangah atas fenomena ini.

”Masih ada di Bandung seperti ini? Prihatin sekali. Jadi ingat jaman di Sekdalopbang. Hukum berat semua penyeleweng Bimas waktu itu. Koruptor sekarang, itu tak sayang sama rakyat. Pemimpin yang clean and capable itu makin jauh saja…”.

Mang Ihin dalam perbincangan santai di rumahnya itu, kala itu ditemani Eka Santosa Ketua Umum DPP Gerakan Hejo, dan salah satu putranya “Mamay” Satria Kamal, serta Shahadat Akbar dari Gerakan Hejo. “Siapa dan berapa jumlah uang yang mereka ambil, dari biaya apa?”, tanyanya kepada ketiga lawan bicaranya.

Serta merta lawan bicara Mang Ihin menjelaskan seperti sudah tersebar di berbagai mass media.”Waduh, hampir satu milyar rupiah setiap minggu, dana liar perijinan terkumpul. Makin sakitlah, rakyat …”, mengomentari paparan kronologi kejadian hingga jumlah tangkapan OTT kala itu.

Siapa dan Mengapa

Menurut Kapolrestabes Bandung, Jawa Barat, Kombes Pol Hendro Pandowo yang didampingi personel Tim Saber Pungli, kala menggelar press release barang bukti OTT di Aula Mapolrestabes Bandung (28/1/2017) – Uang Rp 364.900.000,- $ 34.000 – £ 120. Buku tabungan atas nama DRW dengan saldo akhir Rp. 500.105.069.00, 1 unit mobil merek Toyota Kijang Innova D 1060 DI.

Lainnya, ada 11 orang yang diamankan, 6 di antaranya dijadikan tersangka. Inisialnya AS (Kabid), WK, MPH, NS dan DD, juga Kepala Dinas DPMPTSP yakni DRW . Lima lainnya, masih berstatus saksi.

“Makin sedih, setelah tahu siapa Kepala Dinas DPMPTSP. Itu kan putranya mantan Walikota Bandung Ateng Wahyudi”, seru Mang Ihin menyesalkan para pemimpin di Jabar yang tak sayang ke rakyatnya –“Juga, jelas mereka juga rata-rata tak sadar lingkungan. Buktinya sagala ruksak lingkungan di Jabar. Tingali bae (lihatlah) hutan, gunung, sungai, danau, semua ruksak. Tak ada yang bisa kita banggakan. Semua gara-gara uang”.

Menariknya, usai perbincangan mendadak dengan Mang Ihin setelah sebelumnya membahas topik berbeda bersama praktisi lingkungan DPKLTS (Dewan Pemerhati dan Lingkungan Tatar Sunda) Supardiono Sobirin, Eka Santosa memberikan apresiasi tinggi atas atensi Mang Ihin untuk peristiwa ter-update: “Itulah tajamnya Mang Ihin. Tak putus-putusnya untuk personal seusianya, sangat peduli pada nasib rakyatnya. Ini patut kita contoh”.

Lebih jauh menurut Eka Santosa, terjadinya OTT yang Ia sebut sebagai penggeladahan di dinas yang mengurus puluhan perijinan, mengingatkan atas nasib dirinya beberapa hari lalu – mengurus pengajuan HO atas kantornya di Alam Santosa Pasir Impun Kabupaten Bandung.”Permohonan HO kantor Diskimrum Jabar dan BPMPT (Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu) Jabar, yang dilakukan murni dari bawah selama berbulan-bulan, mentok hingga kini. Jadi curiga saya?!”.

Marak Spanduk

Melengkapi reportase ini, redaksi satu hari setelah kejadian (28/1/2017) sempat mengamati situasi kantor yang mendadak jadi pusat perhatian warga. ”Anda ketinggalan, saat kejadian Jumat hingga Sabtu pagi, di sini penuh polisi. Sekarang malah ramai, banyak spanduk anti pungli. Aneh, buat apa banyak pasang spanduk? Padahal pungli jalan terus di dalamnya”, kata Firman (43) juru parkir di sepanjang Jl. Cianjur, kota Bandung.

Menurut Ade (41) penjual makanan, juga rekan Firman, ramalan bakal terjadinya penggeledahan ini sudah dirasakan sebelumnya:”Beberapa minggu sebelumnya, banyak orang tak dikenal nongkrong-nongkrong. Mereka berbaur seperti pemohon ijin. Terkadang bersatu dengan biro jasa, yang calo itu. Aneh, tahu-tahu waktu penggeledahan mereka pada muncul juga”.

Menutup reportase ini, secanggih apa pun kata Mang Ihin dalam mengatasi pungli sebagai penyakit bangsa ini:”Urang kudu jujur ka diri sorangan jeung ka warga – Kita harus jujur kepada diri sendiri dan juga ke warga sekitar. Sistem on line, kalau manusia-nya brengsek, tak menjamin pungli dan korupsi hilang. Bukti, di Bandung dan Jabar masih ada?!”.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply