Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Ini Penyebab Bunuh Diri Vokalis Soundgarden Chris Cornell

Ini Penyebab Bunuh Diri Vokalis Soundgarden Chris Cornell - Aksi.co

Penulis Aksi | Wednesday 24 May 2017

Ini Penyebab Bunuh Diri Vokalis Soundgarden Chris CornellVokalis band grunge Soundgarden, Chris Cornell (52), meninggal dunia gantung diri pada Rabu malam (17/5) di kamar salah satu hotel Kota Detroit, Amerika Serikat (AS).

Menurut sang istri, Vicky Cornell, Chris diduga overdosis obat Ativan yang dipakai untuk meredakan rasa cemas.

Pada percakapan telepon terakhir mereka, Vicky mengatakan Chris tampak berbeda dan kata-katanya kurang jelas.

“Sepertinya, dia minum lebih dari satu atau dua butir Ativan,” kata Vicky.

Ia pun kemudian memanggil petugas keamanan untuk melakukan pengecekan lantaran khawatir atas kondisi Chris.

“Apa yang terjadi tak dapat dijelaskan, dan saya berharap laporan medis lanjutan akan memberikan rincian tambahan. Saya tahu dia mencintai anak-anak kami, dan tak akan sengaja menyakiti mereka melalui bunuh diri,” kata Vicky.

Hasil lengkap otopsi dan laporan kandungan racun dalam tubuh (toksikologi) Chris Cornell diperkirakan keluar beberapa hari lagi. Dengan kata lain, semua pihak masih menunggu adakah peran Ativan dalam kasus bunuh dirinya.

Lantas, apakah Ativan ada hubungannya dengan bunuh diri? Apakah obat itu bisa berkontribusi pada kematian seseorang?

Apakah Ativan?

Ativan adalah nama merek dari lorazepam, sejenis obat benzodiazepine yang digunakan untuk mengobati kecemasan dan panik parah seseorang dalam waktu yang singkat.

Benzodiazepines alias benzos adalah obat penenang yang juga berdampak kecanduan tingkat tinggi walau memiliki “beberapa kegunaan medis yang efektif,” kata Dr. Joseph Lee, direktur medis Hazelden Betty Ford Foundation Youth Continuum.

Ativan dan benzodiazepines lain, seperti Xanax atau Valium bisa digunakan untuk mengobati kejang-kejang dan menenangkan orang.

Petugas medis umum tak merekomendasikan obat tersebut pada orang yang punya penyakit kecanduan, depresi, psikosis atau masalah pernafasan.

Dampak Ativan di otak?

Benzodiazepines adalah obat depresan yang memperlambat kerja sistem saraf sehingga membuat pengasupnya merasa tenang.

Ativan biasa diresepkan dalam dosis rendah selama beberapa minggu sekali. Kalau digunakan sesuai resep dokter, maka obat itu dapat bekerja ampuh bagi penderita kecemasan atau serangan panik, kata Dr Stuart Gitlow, direktur eksekutif Annenberg Physician Training Program bagian Penyakit Kecanduan.

Contohnya, Ativan bisa digunakan pada orang yang mengalami serangan panik sebelum naik pesawat. Jika disalahgunakan, maka efeknya sama seperti alkohol.

Penyalahgunaan obat atau penggunaan obat dalam jangka waktu lama dapat “meningkatkan toleransi terhadap obat” sampai obat tak lagi bekerja, kata Gitlow kepada media Rolling Stone.

Pasien, menurut dia, harus mengonsumsi dalam dosis yang semakin banyak agar mencapai efek aslinya karena otak melawan pengaruh zat buatan dari luar.

Ia mengemukakan, “Ketika otak menolak, artinya ketika obat habis, maka Anda akan lebih cemas, lebih lekas marah, lebih tertekan dari sebelumnya.”

Ciri orang yang kelebihan dosis Ativan, badannya bergetar, bermasalah dalam bicara atau bicaranya tak jelas.

Ativan dan bunuh diri?

Riset menunjukkan bahwa efek samping Ativan mirip dengan alkohol, karena benzodiazepines bisa menyebabkan anterograde amnesia alias lupa diri jika seseorang mengonsumsinya secara berlebihan (overdosis).

Anterograde amnesia atau juga dikenal dengan sebutan blackouts atau lupa diri dapat memicu kemampuan menciptakan memori baru. Artinya otak tidak mampu merekam kejadian-kejadian di masa depan dalam waktu yang tepat. Dalam kata lain: Seseorang akan kehilangan banyak waktu.

Mirip kelebihan alkohol, orang yang kebanyakan konsumsi Ativan akan mengalami perilaku yang berbahaya, termasuk berkendara sambil mabuk-mabukan, melakukan kejahatan, bahkan bunuh diri.

“Jika seseorang bunuh diri menggunakan Ativan, maka kemungkinan mereka mengalami masalah kesehatan mental,” kata Dr. Jeffrey Lieberman kepala psikolog dari New York-Presbyterian/Columbia University Medical Center.

Ia mengungkapkan, “Ativan akan jadi faktor yang paling kecil.”

Meski tak selalu, orang yang punya niat bunuh diri biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti mengatakan tak punya tujuan hidup, ia pun merasa menjadi beban bagi orang lain.

Selain itu, ia tampak tertekan secara mental atau depresi dan cenderung marah. Mereka bertindak ceroboh, berlebihan mengonsumsi obat dan atau mengucapkan selamat tinggal tanpa sebab.

 

Mochammad Gun

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply