Username

Password

Remember me

Register

Recover password

“Jugala Raya Pukau Penonton”

"Jugala Raya Pukau Penonton" - Aksi.co

Penulis Aksi | Saturday 23 May 2015

RitaTilaEstetika Seni Sunda dalam Tari dan Lagu”Old soldier never die”. Ungkapan dalam dunia militer itu berlaku juga di kancah seni. Dalam usia 70 tahun, Gugum Gumbira, yang dikenal sebagai kreator Jaipongan, masih mampu berkarya, dan menyuguhkannya kepada publik. Bahkan mendemonstrasikan kepiawaiannya berjaipong ria dengan enerjik.

Dikemas dalam acara bertitel “Jalak Ngejat Jugala Raya” yang digelar Jumat malam (22/5/15) di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jalan Peta, Bandung, Gugum menyuguhkan sederet kreasi tarian baru yang memukau. Yang menjadi pembuka adalah tarian “Jalak Ngejat”. Sang seniman sepuh ini bahkan menantang hadirin untuk mengkritisi kreasi-kreasi barunya.

Pagelaran yang menandai milangkala atau ulang tahun ke-35 Padepokan Seni Jugala pimpinan Gugum Gumbira, juga bisa diartikan sebagai sebuah upaya seorang Gugum mengemas estetika Seni Sunda dalam bentuk tari dan lagu.Acara apresiatif ini dihadiri puluhan seniman Sunda terkemuka. Dari birokrat nampak hadir Kadisbudpar Jabar Nunung Sobari. Tarian tak hanya disuguhkan oleh para penari tapi juga oleh sejumlah sosok yg dikenal sebagai sinden dan penyanyi pop. Diantaranya Mamah Iis, Rika Rafika, dan Rita Tila.

Diiringi musik gamelan orkestral yang dimainkan grup Samba Sunda, Rita Tila, sosok yang disebut-sebut sebagai salah seorang diva pop Sunda masa kini, menyuguhkan sederet tarian, diantaranya tari “Rawayan”. Artis cantik yang kerap manggung di luar negeri ini juga menyuguhkan lagu-lagu kepesindenan, diantaranya “Enggalkeun”. Dari sederet lagu popnya, Rita juga menyuguhkan hitnya yang bertajuk “Teuteup Jeung Imut”.

Para seniman merespon acara ini dengan positif. Diantaranya Ismet Ruchimat. Doktor bidang Seni Pertunjukan lulusan ISI Yogyakarta ini mengatakan “Progresivitas kekuatan estetika pertunjukan Rakyat Jawa Barat selalu berada pada garda depan. Tema Jalak Ngejat karya Gugum Gumbira kembali membuktikan, bahwa kreatifitas folklorik selalu berpotensi memiliki sifat mendahului kecenderungan umum,”. (yosiewijaya)***

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

© Copyright 2018 Aksi.co