Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Ditemukan Pemukiman Prasejarah di Jayapura

Ditemukan Pemukiman Prasejarah di Jayapura

Penulis Aksi | Tuesday 20 May 2014

Pemukiman Neolitikum dan Megalitikum di jayapura (620 x 350)Balai Arkeologi Jayapura, menemukan pemukiman jaman neolitikum dan megalitikum seluas 15.000 meter per segi di Bukit Srobu, di antara Kelurahan Abepantai dan Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua.

Kepala Balai Arkeologi (Bakar) Jayapura, Muhammad Irfan, mengatakan penemuan pemukiman pra sejarah itu berdasarkan laporan warga masyarakat kepada pihaknya, sejak awal Februari lalu.

“Jadi setelah dilaporkan kepada Balar Jayapura, kami langsung melakukan survey dan eskavasi di lapangan. Dan hari ini adalah hari ke-10 penelitian dan eskavasi,” katanya di Jayapura, Senin (19/5).

Menurut dia, dalam survey penelitian dan eskavasi yang dilakukan oleh tim yang beranggotakan enam orang itu, paling banyak menemukan cangkang kerang yang diperkirakan dalam jumlah ribuan hingga jutaan yang tersebar di bukit Srobu yang juga dikenal sebagai bukit Kerang oleh penduduk setempat.

Lalu, ada fragmen-fragmen gerabah yang bermotif, alat serpih, dan kapak. Yang mana penemuan itu merupakan periodik Neolitikum, sementara periodik Megalitikum itu ditemukan menhir, meja batu dan tangga teras batu serta bekas pemukiman. “Ini menandakan penemuan di bukit yang tak jauh dari permukaan laut itu cukup komplit dan kompleks, karena ada bekas rumah,” katanya.

Sementara itu Erlin NJ Djami, ketua eskavasi yang ditemui di bukit Srobu mengatakan, pihaknya menemukan fragmen gerabah, menhir, meja batu, ada juga batu dakon, dan tulang-tulang manusia.

“Menurut pernyataan warga setempat, di bukit ini juga pernah jadi tempat bersembunyi tentara Jepang semasa Perang Dunia Ke II. Lalu ada tulang-tulang manusia, tapi belum bisa dipastikan apakah itu milik penduduk setempat atau tentara Jepang,” katanya.

Hal itu karena, Balar Jayapura belum mempunyai laboraturium untuk mengetahui penanggalan yang pasti terkait benda-benda Neolitikum dan Megalitikum atau pun tulang-tulang yang ada di bukit ini. “Yang kami sedang kejar adalah penemuan arang, atau sisa-sisa dapur memasak untuk bisa diketahui lewat pengukuran karbon,” katanya.

Dari hasil penelitian dan eskavasi yang akan berakhir pada 23 Mei 2014 itu, kata Erlin, pihaknya akan segera membuat laporan kepada pimpinan serta akan mengusulkan kepada pihak terkait agar bukit Srobu menjadi situs atau tempat penelitian atau laboraturium alam bagi pelajar dan mahasiswa di Jayapura dan Papua pada umumnya.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

© Copyright 2018 Aksi.co