Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Memahami Mayoritas dan Minoritas dalam membangun Sikap, Etika dan Kerukunan Beragama

Memahami Mayoritas dan Minoritas dalam membangun Sikap, Etika dan Kerukunan Beragama - Aksi.co

Penulis Aksi | Friday 9 December 2016

Memahami Mayoritas dan Minoritas dalam membangun Sikap, Etika dan Kerukunan BeragamaRefleksi Kehidupan Dalam Kebhinekaan Beragama
Oleh : Kurnelius Eko Ismadi

Kejadian pengentian dan pembubabaran Ibadah KKR Natal Kristiani di Gedung Sabuga Bandung Jawa Barat. Sebenarnya tidak perlu terjadi kalau saja umat Kristen memahami cultur budaya dan trades sunda dalam kemasyarakatan di Kota Bandung dan Jawa Barat. Apapun masalahnya dan apapun yang terjadi peristiwa ini tidak akan terjadi mana kalau Umat Kristen memahami Mayoritas dan minoritas, hubungan emosional, dan membangun komunikasi dengan semua pihak yang berada dilingkungan dimana kegiatan itu akan dilaksakan.

Perlu diketahui oleh Umat Kristen Di Kota Bandung Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dan Walikota Bandung itu sudah sangat sangat tepat dan menjamin kehidupan umat Kristen di Kota Bandung. Apa itu ? Tidak mungkin bentuk kebijakan itu disampaikan dalam ulasan ini karena keberadaan kebijaksanaan tersebut bersifat tersirat tidak tersurat. Dan ini hanya dipahami oleh mereka Umat Kristen yang mau bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat dilingkungan sekitar.

Sudah 15 Tahun Kehidupan Umat Kristen aman tenang dan damai dari semenjaka Gubernur sebelum Bapak Ahmad Haryawan dan Bapak Walikota Ridwan Kamil. Karena kecerdasan dan kecerdikan Umat Kristenlah kehidupan damai dan harmonisasi itu didapatkan. Karena dengan sikap cerdik kita akan menumbuhkan saling pengertian dan kerjasama dan saling menghormati, serta paham akan tanggung jawab masing masing terutama saling menjaga perasaan. Dengan adanya peristiwa di Sabuga seakan umat Kristen terlena dengan fenomena politik yang ada dan terbawa arus perubahan yang kemudian justru menghasilkan sikap yang kontra produktif. Inilah uniknya kehidupan beragama di Indonesia.

AGAMA YANG BERAGAM

Beragam agama bukan berarti tidak ada kesamaan atau dicari kesamaannya, tetapi bila kita umat Kristen ada satu alat yang dapat mempertemukan kesamaan dalam kehidupan beragama yaitu PANCASILA tanpa Pancasila tidak mungkin ditemukan kesamaan. Oleh Karena itu perbedaan bukan untuk menumbuhkan perbedaan tetapi justru menambah wawasan dan pengalaman serta variatif sikap hidup.

Bersatu dalam perbedaan itu indah, moto ini yang perlu dipahami oleh semua umat beragama. Dapat dibayakan kalau semua warna di dunia ini semua sama, perkerjasaan sama, budaya sama, lampu sama wattnya. Tentu akan mebuat kita jenuh dan monoton. Yang berujung pada sikap yang apatis dan tidak peduli.

HUBUNGAN MAYORITAS DAN MINORITAS

Sebagaimana yang judul yang tertulis maka tulisan ini dimaksudkan untuk mengembalikan permasalahan tersebut kepada Umat Kristen sebagaimana yang diajarkan dalam ajaran Kristen Jangan Menghakimi Tetapi Semua Serahkan Padan Nya. Biar Tuhan yang berperkara. Oleh karena peristiwa itu menjadi bahan Interopeksi dan koreksi diri saja. Sebab bila segala sesuatu dimulai dari diri sendiri maka semua masalah akan selesai dan akan tercipta keadilan. Tidak ada yang disakita tetapi justru semua diberkati.

Hubungan Minoritas Dan Mayoritas Dengan Etika Kerukunan Hidup Beragama

Yang penting adalah bagaimana kita dapat hidup damai dengan kenyataan adanya berbagai golongan dalam masyarakat kita, mayoritas maupun minoritas. Lebih penting lagi, bagaimana kita menjalin hubungan serta kerjasama secara damai, saling menerima, saling menghormati, dan saling membantu, antara berbagai golongan itu dalam masyarakat sebagai suatu bangsa.

Tujuan utama menjalin hubungan demikian itu adalah menghilangkan prasangka dan kebencian. Hanya dengan itu kita dapat bersama-sama mengusahakan kesejahteraan bersama. Jalan ke arah tujuan itu amat jauh, berliku-liku, dan banyak sandungannya.

Mencerminkan manusia Indonesia memiliki berbagai ragam karakter dan kepribadian. namun dapat diterima dalam keberagaman itu. Tanpa diterima dan dapat diakomodir dalam keberagaman mustahil suatu upaya akan berhasil. Maka perilaku Mayoritas dan Minoritas Dalam Keadilan akan dapat menyentuh tiga dimensi yakni pribadi, umat beragama, dan warga Negara. Tercermin dalam Pancasila. yang keimanan dan ketakwaan. Keimanan dan ketakwaan prima terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mensyukuri nikmat yang dianugerahkanNya serta sabar dalam menerima segala ujianNya, membangun individu yang mampu mengendalikan diri, membangun individu yang tidak inklusif, dan mengembangkan sikap umat yang memahami hak, kewajiban.

Tidak Ada Dominasi. Tidak Memaksakan Kehendak.Orang kristen di wilayah Aceh akan bisa menahan diri untuk tidak membangun terlalu banyak gereja di Aceh. Karena kalau itu dilakukan maka akan mengurangi nilai sakral dari peran mayoritas muslim di Aceh. Toleransi yang lain adalah orang kristen dan penganut agama lain selama tinggal di Aceh juga sedapat mungkin bersedia menggunakan jilbab agar tidak mengganggu kesamaan pandang dan tumbuh rasa penghormatan terhadap mayoritas muslim di Aceh.

Kebersamaan. Ciri khas dari kehidupan bangsa Indonesia adalah kebersamaan. Tanpa kebersamaan akan terasa ada yang hilang dalam hidup gerak dan laku dari kehidupan bangsa Indonesia. Secara tanpa sadar terkadang kita sudah jauh berpikir dari kenyataan hidup hanya karena dipengaruhi oleh rasa bangga, rasa keyakinan, dan rasa tahu serta rasa mampu sendiri. Kemudian kita membangun rasa egois kita dengan tanpa mempedulikan orang lain dan mengesampingkan kebersamaan. Padahal kita tahu segala sesuatu kalau dihadapi bersama itu ringan dan pasti bisa. Segala hambatan dan kendala apabila dipikirkan bersama maka akan mudah ditemukan jalan keluar dan penyelesaian.

Tidak Saling Menguasai. Zaman sekarang bukan lagi zaman kerajaan atau zaman prasejarah, dimana manusia masih percaya animisme dan tidak mengerti adanya Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Maka perlu dipelajari keimanan dan keagamaan. Tetapi sekarang permasalahan sudah lain, seluruh warga Negara Indonesia sudah memiliki agama dan kepercayaan. Status di wilayah juga sudah terbentuk turun-temurun. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti saat ini harus saling menjaga perasaan agar tidak timbul rasa curiga untuk saling menguasai atau mengambil alih peran minoritas atau mayoritas juga merubah mayoritas dan minoritas.

Minoritas dan Mayoritas Adalah Takdir. Pendapat para ahli ada yang mengatakan bahwa adanya kelompok mayoritas dan minoritas dalam tatanan sosial kemasyarakatan dan keagamaan merupakan keniscayaan. Sebab, hal itu sebagai takdir Tuhan, sehingga di dunia mana pun, tak terkecuali di Indonesia, kedua kelompok tersebut akan selalu ada. Hal itu dikatakan Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Lembaga dan Kerja Sama UIN Jakarta, Dr Jamhari, pada seminar bertema “Konflik Minoritas Agama dan Peran Lembaga Pendidikan Tinggi Islam,” di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Sabtu (5/3).

Tidak Cuku Hanya Aturan Dan Hukum. Dalam hubungan Mayoritas tidak cukup hanya memegang hukum sebagai dasar untuk melaksakan kegiatan keagamaan
Kristen, tetapi perlu dukungan dan bantuan dari lingkungan sekitar dimana kegiatan Kekristena dilakukan. Jangan setelah kenal pejabat tinggi polisi dan pemerintah kewibaan tokoh masyarakat dan komunitasnya dilingkungan sekitanrnya diabaikan dan disepelekan ini juga akan menjadi habatan bagi umat Kristen untuk melaksanakan kegiatan. Mengapa demikian karena sudah menjadi budaya Indonesia WALIKOTA BERANI SAMA POLISI, POLISI BERANI SAMA RAKYAT, RAKYAT BERANI SAMA WALIKOTA TERUS SIAPA YANG DITAKUTI ? Jawabnya adalah tergantung keadaan.

PENUTUP

Peristiwa disabuga oleh Umat Kristen mari kita jadikan pengalaman yang berharga untuk perlunya menyadari bahwa dalam kehidupan ini selain hukum diperlukan pula saling pengertia dan kerjasama dengan lingkungan. Hubungan dengan pemerintan dan kekuasan jangan dijadi sarana utama tetapi menjadi penopang yang kuat untuk membangun kebersamaan.

Dalam tradisi bangsa Indonesia diperlukan yang namanya hubungan dan komunikasi atau pembicaraan. Tidaka aka nada masalah kalau semua kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan dibicarakan lebih dulu dikomunikasikan lebih dulu, dan dijalin salaing pengertian lebih dulu. Tidak usah salaing menyalahkan tetapi mari interopeksi diri bagi diri kita agar bias menjalani hidup yang lebih baik.

Wajib bagi kita untuk mau belajar dari masa lalu. Karena kehidupan beragama di bandung sudah berjalan selam 15 Tahun dengan Harmonis dan damai, kenapa harus muncul masalah di Sabuga ? Maka dari itu Umat Kristen juga semaksimal mungkin dapat memanfaat kan Fasital FKUB untuk mengembangkan kehidupan beragama yang damai dan tenang.

Salah satu upaya yang mudah untuk dilakukan adalah dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka kita memiliki sebuah pedoman hidup yang sejalan dengan dengan keimanan namun dapat menerima perbedaan dan juga dapat menumbuhkan rasa tenang, aman dan damai. Karena hanya dengan rasa syukur kita dapat belajar, mengerti, memahami, serta mengambil hikmah dari semua kehidupan. Sehingga peristiwa yang terjadi di beberapa daerah yang bernuansa perbedaan agama tidak terjadi lagi, sebaliknya akan tumbuh dengan kokoh dan kuat serta disertai sikap yang bijak.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply