Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Alam Santosa, Mimpi Eka yang Jadi Kenyataan

Alam Santosa, Mimpi Eka yang Jadi Kenyataan - Aksi.co

Penulis Aksi | Wednesday 8 March 2017

Alam Santosa, Mimpi Eka Santosa yang Jadi KenyataanSebuah tag line kerap Ketua Gerakan Hejo Eka Santosa ungkapkan “Nyoreang alam ka tukang, nyawang alam nu bakal datang” (Menelaah masa lalu, demi menyambut alam yang akan datang). “Nah, ini ungkapan dari masyarakat adat di Tatar Sunda, artinya kita tidak boleh meninggalkan purwadaksi masa lalu. Tak beda jauh dengan istilah politik Jas Merah!,” ungkapnya dengan nada terkekeh-kekeh, sambil memunculkan rasa humornya yang memang ia miliki sejak lama.

Soal impian Eka lainnya, ia menginginkan apa yang dilakukannya, ditiru pula oleh pemerintah. Bukan sebaliknya membabat hutan di Jawa Barat. Bukan tanpa alasan Eka menyentil sedikitnya peran pemerintah dalam penghijauan. Menurut amatannya, hutan di Jabar disinyalir tinggal kurang dari 20%. “Lihat saja, hutan, sungai pesisir dan RTH di perkotaan, semuanya kritis. Berada lebih kecil dari semesrinya. Tak heran bencana banjir, longsor, dan kekeringan akut di musim kemarau, sering terjadi,” paparnya yang diketahui kini ia bersama sesepuh Jabar Mang Ihin atau Solihin GP (91) menjadi Ketua Gerakan Hejo, disamping sebagai Ketua Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum sejak tahun 2011.

Satu lagi Eka yang multi facet dalam aktivitas lingkungan dan kemasyarakatan, bergiat sejak masih di legislatif, yakni kini sebagai Sekjen BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar. “Nah, bangunan jurang ngapak, saung jangkung, saung rangon, bumi alit, leuit, dan rencananya rumah Baduy, yang ada di Alam Santosa , dibuat bersama dengan para olot (tetua adat) dari BOMA Jabar,”.

Mahfumnya, segala isi mulai dari hutan dan aneka bangunan tradisional Sunda, adalah hasil rekayasa masyarakat adat dan penduduk setempat di Pasir Impun. “Ini bedanya saya, orang lain membuat resort dengan membabat hutan. Saya justru bikin hutan duluan, baru mengisinya”, singkat Eka yang hari itu tamunya sudah mengantri dari berbagai daerah, dengan berbagai kepentingan.

Mau tahu, siapa tamu Eka hari itu? Ternyata ada yang hadir itu, di antaranya dari Langkap Lancar dan Cigugur di Kabupaten Pangandaran. “Masih ada pembabatan hutan ratusan hektar di sana. Ya saya kontak sana-sini untuk menghentikannya”, ujar Eka sambil menunjuk pada sekumpulan tamu dari rombongan tenaga honorer penyuluh pertanian se Indonesia. “Sama, para penyuluh ini perlu direspon. Nasibnya bertahun-tahun tak menentu. Padahal, peran mereka kan sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan”.

Tatakala ditanya, mengapa mereka masih datang ke Eka mengadukan masalahnya, padahal ia sudah tak menjabat bauk dilegiskatif apalagi di eksekutif? “Nah, ini pertanyaan salah sasaran jika ke saya. Tanya saja sama mereka?”, tuturnya sambil menunjuk rombongan tamu lainnya yang datang belakangan. Yang datang belakangan ini , datang dari daerah Karawang. “Duh, galian C dan pabrik di sana sudah habis merusak lingkungan. Paking ke Kang Eka kami mengadu, biasanya ada solusinya” jawab Teguh (43), tamunya dari Karawang.

Alhasil, kehadiiran Alam Santosa di Bandung Timur, kini seakan menjadi oase baru di tengah gerusan dan rambahan pemukiman di Kawasan Bandung Utara yang sudah kritis. Sebaliknya, Eka dengan konsepnya yang apa adanya, menimbulkan kekaguman bagi para konservationis dan arsitek lingkungan – “Bisa-bisanya Eka membuat hutan seperti ini. Yang lain biasanya hanya bisa bicara pentingnya menanam pohon, padahal kesehariannya mereka tak pernah menanam pohon”, itu rata-rata komentar yang bernada kekaguman.
Alhasil lagi, kini Alam Santosa yang telah menjadi destinasi wisata dan budaya, bila Anda ke Bandung — Jangan lupakan untuk menjenguknya–

“Kapan pun Anda berminat, silahkan hadir di Alam Santosa. Yang adatang dari luar pulau Jawa pun, memang akhir-akhir ini kerap datang. Ternyata, mereka mau belajar dari kearifan lokal masyarakat adat. Ini membanggakan saya,” tutup Eka yang kebetulan hari itu ia menghadapi tamu-tamunya – cukup bersarung saja.

Rupanya, kunjungan ke Alam Santosa kali ini, baru sedikit yang terungkap. Maknanya, setiap sudut dari luas lahan konservasi hutan ini, setiap sudutnya bisa bercerita banyak. “Sayang ya, waktunya baru hari ini. Nanti datang lagi ya, kita berbincang lebih dalam”, tutupnya disertai himbauan. “jangan sekali ini hadir di sini. Ingat ya, saya bukan siapa-siapa, walaupun sering disebut pejuang lingkungan. Justru masyarakat adat dan warga setempat di sini, merekalah pejuang lingkungan itu”. (hs/gun)

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply