Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Sasikirana Dance Camp 2018 “Pulang Kandang”

Sasikirana Dance Camp 2018 “Pulang Kandang” - Aksi.co

Penulis Aksi | Wednesday 5 September 2018

Sasikirana Dance Camp 2018 “Pulang Kandang”Program Sasikirana Dance Camp sudah berlangsung sebanyak empat kali sejak 2015 dan melaluinya telah direkrut setidaknya 100 pelaku seni pertunjukan muda khususnya dari bidang seni tari. Kegiatan yang berlangsung di NuArt Sculpture Park – Bandung ini merupakan sebuah inisiatif untuk mengembangkan pemikiran seni kontemporer dengan menggunakan media seni tari, di mana seluruh peserta dan sukarelawan menjalani dasar program berupa latihan/training, pengayaan skill, pembentukan jaringan, dan bertambahnya wawasan berkesenian secara keseluruhan.

Setelah tiga kali penyelenggaraan program, jaringan para alumni SDC tidak pernah padam bahkan semakin kuat dan semakin terlihat jejak langkahnya. Para alumni terus bergerak mendorong kemampuannya, berkarya dengan kapasitasnya masing-masing, melebarkan sayap jaringan sambil terus menjaga jaringan yang telah terbentuk sebelumnya. Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua alumni SDC berkonsentrasi pada unsur kepenarian saja, namun mulai terlihat berbagai potensi yang melengkapi infrastruktur di medan sosial seni pertunjukan, antara lain munculnya para produser muda, penulis, pelaku manajemen seni, pengajar, arsiparis, dan lainnya.

Melihat perkembangan yang begitu pesat dari setiap alumni dan sukarelawan yang pernah terlibat di dalam program SDC, maka kegiatan tahun ini dikonsentrasikan untuk mengumpulkan para peserta lama SDC untuk mengenali lebih dalam perkembangan dan  dan potensi-potensinya, sambil terus melakukan berbagai sesi diskusi dan kuliah umum yang bermaksud untuk menajamkan kemampuan berpikir kritis para peserta. Bagaimana pun, seni pertunjukan tidak semata-mata bicara soal produk. Seni pertunjukan adalah riset, data, perilaku, ekspresi, preservasi, reaksi; sebuah laboratori yang hidup, yang membutuhkan kolektifitas dalam menjaga keberlangsungannya.

Dengan dukungan dari Insitut Francais Indonesia – Bandung, SDC 2018 dapat menghadirkan koreografer asal Perancis -Aberdzak Houmi dari Compagnie X-press yang melakukan workshop residensi selama 10 hari di NuArt Park Bandung untuk karya berjudul “Face à Face”. Bersama dengan karya “Paralleles” (ditampilkan oleh penari Julia Flot dan Sophie Lozzi), Aberdzak akan menampilkan hasil workshop ini pada pertunjukan akhir camp pada tanggal 5 September 2018. Ada pun peserta residendi ini adalah Siska Aprisia (Pariaman, Sumbar), I Nyoman Krisna Satya (Bali), Irfwan Setiawan (Bangka Belitung), Tazkia Hariny (Bandung), dan Erwin Mardiansyah (Solok, Sumbar). Selain koreografer, para peserta juga mendapatkan berbagai materi yang diberika oleh Lim How Ngean (Malaysia) tentang dramaturgi dalam seni pertunjukan, Amna W. Kusumo tentang jejaring dan kemitraan, Hartati dan Renee Sari Wulan tentang gagasan berkarya, Miranda Risang Ayu mengenai pengenalan Hak Kekayaan Intelektual dalam karya seni musik dan tari. Ria Papermoon dan kawan-kawan Papermoon Puppet Theatre juga berkesempatan untuk berbagi pengalaman mereka mengenai bagaimana membangun kelompok teater boneka ini dari mulai gerbang rumah hingga kini bisa menembus gerbang dunia.

Peserta Sasikirana Dance Camp 2018 ini terdiri dari Ervin Nurina (Surabaya), Heidy Dwiyanti Utami (Bekasi), Ruki Daryudi (Kepri), Chahara Juniar (Bogor), Junaida Nasution (Mandailing), Tyoba Armey (Bandung), Wan Harun (Pekanbaru), Sherlinda Maharani (Bandung), Tulus (Malang), Febri Veronika Kristi (Banyuwangi), I Komang Adi Astawa (Bali), Agni Ekayanti (Bandung), Hasna Febrianuringtyas (Bandung), Iman Budi Santosa (Bandung), Kennya Rinonce (Bandung), Ayu Ridho Saraswati (Blitar) Uus Yusuf Rizal (Garut), Galuh Pangestri Larasati (Bandung).

Berbagai topik yang diangkat dalam sesi diskusi dan kuliah umum yang terjadi antara para pemateri dan peserta SDC 2018 antara lain mengenai pentingnya pemahaman yang mendalam dalam gagasan yang ingin diangkat dalam karya seni tari yang diciptakannya, yang dengan kata lain mesti diawali dengan pemahaman terhadap diri sendiri. Kelas dramaturgi yang diberikan oleh Lim How Ngean mengajarkan para koreografer muda ini untuk selalu melatih diri untuk bertanya secara kritis pada diri sendiri ketika membangun karya seni. Hal ini tentu berlaku pula pada kehidupan sehari-hari, sehingga berbagai perbuatan kita dapat dipertanggungjawabkan. Dalam ekosistem seni, seringkali seniman menempatkan dirinya di tengah, di pusat konstelasi. Padahal seharusnya yang ditempatkan di tengah adalah seni itu sendiri, sementara seniman adalah salah satu saja dari elemen pembentuk ekosistem yang harus mampu bekerja sama dengan berbagai pelaku lain agar pesan yang ingin disampaikannya dapat diterima oleh masyarakat.  “Pada akhirnya, tujuan kita berkarya adalah untuk memberikan perubahan pada masyarakat”, tandas How Ngean.

Kehidupan seniman pertunjukan memang bukan sebuah perjalanan yang mudah, ditambah dengan kenyataan bahwa kebijakan kesenian dan kebudaayaan yang berkembang di Indonesia juga belum memadai. Sesi diskusi yang diberikan oleh Amna W. Kusumo bersama Hartati dan Renee Sari Wulan mengupas persoalan jaringan yang perlu dibentuk untuk mendukung keberlangsungan hidup seniman pertunjukan. Dalam sesi nya, pendiri Yayasan Kelola ini menegaskan pentingnya kemampuan seniman untuk mempresentasikan diri dengan baik. Para seniman muda juga mesti menyadari bahwa eksistensi di dunia seni perlu stamina yang tinggi. “Kita ini pelari marathon bukan sprinter,” demikian analogi Amna, “perlu ketahanan tinggi dan hasrat yang besar untuk bisa terus berkarya.”

Direktur Program Keni Soeriaatmadja menyampaikan bahwa program Sasikirana memang menggunakan judul ‘Dance Camp’, namun tujuan utamanya adalah membangun perubahan pada masyarakat ke arah yang lebih baik dan menggunakan media seni tari kontemporer. Di dalam situasi politik, kebudayaan dan teknologi seperti saat ini, generasi muda dalam berbagai bidang perlu membangun landasan yang kuat agar mampu muncul sebagai intelektual publik yang kritis. How Ngean menambahkan, bahwa zaman dahulu di kebudayaan masyarakat tradisional, seniman dianggap sebagai tokoh masyarakat yang penting dan dianggap intelek. Seiring dengan perjalanan zaman, makna itu bergeser, dan saat ini seharusnya seniman perlu bangkit dengan menunjukan tingkat intelektualitas yang tinggi agar dapat memberikan arti yang positif. di masyarakat.

Wakil Direktur Institute Francais Indonesia (IFI), Melanie Martini-Mareel, mengatakan bahwa IFI mendukung diadakannya program seni yang memberikan proses pengayaan kompetensi pada para pelakunya. Menjadi seniman tari tentu tidak dapat hanya bergantung pada ketubuhannya saja, tapi juga dari berbagai kapasitas lain yang dapat membantu mendongkrak seorang seniman ke tingkat produktifitas yang lebih baik.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply