Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Rektor ISBI Harapkan Peneliti Budaya Mempublish Karyanya

Rektor ISBI Harapkan Peneliti Budaya Mempublish Karyanya - Aksi.co

Penulis Aksi | Tuesday 2 June 2015

wayang modernRektor Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung DR. HJ. Een Herdiani, S.SEN., M. HUM mengharapkan peneliti budaya sering mempublish hasil karyanya.

“Meskipun pekerjaan berat, namun untuk mengembangkan dan menularkan hasil-hasil penelitian tersebut harus tetap tersosialisasi,” katanya.

Menurut Een Pemerintah melalui Dinas Pendidikan, unsur Perguruan Tinggi, masyarakat sampai pada keluarga memiliki tanggung jawab untuk pengembangan budaya tersebut.

Een mengakui banyaknya kelemahan, karena selama ini dari hasil penelitian, seminar dan yang lainnya terkadang hanya disimpan di rak lemari dan tidak di publish ke masyarakat luas. Dicontohkan Een banyak nilai-nilai pendidikan di dalam gamelan, tari dan yang  lainnya yang belum diketahui masyarakat banyak.

Een menjelaskan dirinya kerapkali berdiskusi dengan rekan-rekannya di jurusan animasi agar dapat membuat film-film pendek berdurasi 1 jam untuk dapat ditonton anak-anak, sehingga nilai-nilai budaya lokal tidak dilupakan.”Animasi itu bisa ditonton para pengunjung cafe dengan berisi budaya lokal,” imbuhnya.

Menurut Een pihaknya juga menerapkan kewajiban bagi prodi televisi dan film, ujiannya membuat film dokumenter seni budaya. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk meminimalisir perkembangan teknologi yang begitu canggih saat ini.”Saya ingin agar anak-anak kita kembali mencintai nilai-nilai budaya,” tegasnya.

Seorang keluarga dapat membawa anak berapresiasi, dibawakan cerita yang bernilai budaya lokal, pantun, wayang dsb yang menarik bagi anak-anak.”Seperti yang dikembangkan wayang Tafif, wayang ajen sehingga membuat ketertarikan dimata anak-anak,” ucapnya.

Een menyayangkan sudah tidak ada lagi dogeng pengantar tidur, tidak lagi menggunakan bahasa turunan, seharusnya orangtua lebih mengenalkan pendidikan lokal daerahnya kepada anak-anak mereka dari pada anak dibiarkan melihat dunia maya.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply