Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Sekjen HNSI: Dosa Besar Meninggalkan Maritim!

Sekjen HNSI: Dosa Besar Meninggalkan Maritim! - Aksi.co

Penulis Aksi | Wednesday 28 December 2016

Sekjen HNSI: Dosa Besar Meninggalkan Maritim!Sekretaris Jenderal DPP HNSI Dr. Ir. Anton Leonard SP, M.M., menyambangi Sekertariat DPD HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Jawa Barat Jl. Dago Pakar Barat No. 9 b yang diterima oleh Ketua DPD HNSI Jawa Barat H. Nandang Permana, beserta jajarannya. Hadir di antara jajaran pengurus DPD HNSI Jawa Barat: Hj. Liya Marahayu, Peranan Wanita; H. Idat Mustari, Urusan Kelembagaan; H. Agus Warsito, Bendahara; dan Dadan, Sekjen Koneli (Koperasi Nelayan Indonesia).

“Kehadiran Pak Anton, semoga bisa memperluas wawasan demi implementasi sejumlah program,” kata Liya yang mempunyai beberapa paket rencana untuk pemberdayaan keluarga nelayan.

Anton Leonard, mengingatkan, bangsa Indonesia hidup di negara maritim atau kepulauan. Dua pertiga luas negara terdiri atas laut. “Namun yang terjadi, lita masih berpikir seperti negara daratan. Ini fatal, dosa besar kita,” ucapnya.

Anton Leonard mengilustrasikan ada yang a historis dalam perjalanan sejarah bangsa. Era pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1966/67, kala itu konsep kemaritiman sempat tersenggal. Lalu era 32 tahun ada Orde Baru. Nasib kelautan kita dilupakan. Baru pada era Jokowi, diingatkan kembali soal poros maritim dunia.

HNSI sebagai Jembatan

Anton Leonard memaparkan bahwa eksistensi HNSI sejak 1973 di negeri ini, bisa dikatakan sebagai jembatan bagi pembangunan bangsa Indonesia yang harus berorientasi ke kelautan. Basisnya bottom up jangan top down seperti sekarang ini.

Dengan hal tersebut, Nandang Permana seakan diingatkan tentang pentingnya HNSI berperan lebih membumi di Jawa Barat. “Budaya pesisir harus kita pertajam. Lainnya, program penyebaran nelayan Pantura dan Jabar Selatan untuk dikembangkan di Natuna dan Maluku, jangan sekedar wacana. Masalahnya, pemerintah harus menjamin keberlangsungan program ini secara serius,” ucapnya.

Pada hal lainnya, ambisi Nadang Permana ini yang didukung jajarannya dalam konteks mengembangkan 157 ribu nelayannya yang 70% berada di Pantura Jabar: ”Ke depan ingin sekali nelayan ditingkatkan kualitasnya dalam banyak hal, mulai kelengkapan infrastruktur, alat dan teknik tangkap, sistem ekonomi dan perkoperasian, kepelabuhanan (TPI), termasuk penerapan teknologi budi daya dan tangkap ikan. Bila perlu mulai menggunakan fish finder”.

Tak kalah pentingnya dalam diskusi ringan ini kembali Anton Leonard, memungkas bahwa selama republik ini mengayomi rakyatnya yang sekitar 17 juta populasinya bergerak di kenelayanan: ”Belum pernah ada sensus nelayan dilakukan. Ini penting untuk pembuatan keputusan dalam pembangunan”.

Sementara itu Eka Santosa, Ketua Umum Gerakan Hejo yang selama ini banyak bersentuhan aktivitasnya di antara nelayan Pantura dan Selatan Jabar, mengetahui bahasan diskusi ini, menyatakan: ”Sesungguhnya, nelayan di Jabar masih perlu perkuatan dalam banyak segi. Peranan Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat, masih bisa ditingkatkan dari segi anggaran maupun keberpihakannya. Ini sejalan dengan visi dan misi Gerakan Hejo dalam hal memakmurkan penduduk melalui budaya dan perbaikan lingkungan hidup. Benar, kita berdosa bila melupakan peranan nelayan”.(HS/SA/dtn)

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply