Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Eka Santosa: Aparat Jangan Saling Tuding Soal Kerang Hijau

Eka Santosa: Aparat Jangan Saling Tuding Soal Kerang Hijau - Aksi.co

Penulis Aksi | Monday 26 December 2016

Ketua Umum Gerakan Hejo, Eka Santosa yang selama ini bergandengan-tangan dengan sesepuh Jabar Solihin GP, menerima laporan dari nelayan Desa Suranenggala Kapetakan Kabupaten Cirebon bahwa telah terjadi keracunan diduga mengkomsumsi kerang “beracun”, dampak dari limbah B-3 Industri yang mengakibatkan dua nelayan meninggal dunia pada hari Minggu (11/12).

“Dua belas nelayan lainnya sempat dirawat di rumah sakit, juga ya?” tanggap Eka sambil menyesalkan di Sekertariat Gerakan Hejo di Pasir Impun Kabupaten Bandung, Senin (26/12).

“Pada bulan Oktober 2016 saya bertemu langsung dengan pihak KKP membahas kondisi pesisir di pantai selatan dan utara Jabar. Termasuk kondisi lingkungan di Cirebon,” tambah Eka.

“Mencermati silang pendapat musabab kasus limbah B3 di Desa Suranenggala Kabupaten Cirebon, Saling lempar tanggung-jawab dari pejabat setempat di Kabupaten Cirebon, lalu dilempar ke Provinsi Jabar, sangatlah mengecewakan,” urai Eka menanggapi pemberitaan penanganan kasus lingkungan pada hari Senin (16/12).

Sementara Kepala Sub Bidang Pengendalian dan Pengawasan Pencemaran BLHD (Badan Lingkungan Hidup Daerah) Kabupaten Cirebon Iman Hidayat, mengatkan kasus ini bukan wilayah kewenangannya. Alasannya, wilayah perairan pesisir utara Cirebon merupakan ranah BLHD Provinsi Jawa Barat.

Dengan pernyataan Imam tersebut Eka Santosa sangat menyayangkanya. seharusnya, lanjut Eka, sebagai Instansi terkait harus ikut menyelesaikan masalah tersebut jangan saling melempar.

“Korban sudah terlanjur jatuh, masih pula ribut soal kewenangan. Ini bikin sesak dada saya. Padahal limbah di sana sudah kasat mata dari sejumlah industri di sekitarnya. Tindakan hukum, beku di sini dan harus ditindaklanjuti”, ujar Eka disela-sela menerima tamu di Pasir Impun.

Kerang Mati

Pantauan redaksi tentang kasus ini, analisa sementara (24/12/2016) menurut Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Barat, kerang beracun ini akibat memakan plankton yang terkontaminasi B3 buangan pabrik. Laporan HNSI Kab. Cirebon, pabrik terdekat dengan pantai di kawasan pantura adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara. Diketahui limbah proses produksinya langsung dibuang ke sungai yang mengalir ke muara pantai utara.

Terpantau dalam diskusi antara HNSI Kab Cirebon dengan DPD HNSI Jawa Barat di Dago Pakar Bandung (24/12/2016), terungkap temuan tempat budidaya ikan termasuk kerang hijau ini sangat memprihatinkan. Di lapangan, selain kotor, air yang menggenangi tempat budidaya kerang itu, tampak kumuh dan berbau menyengat.

Kondisi di lokasi budidaya kerang di Gebang, Suranenggala, Cirebon Utara, pun di pelabuhan ikan Bondet, kini mendangkal. Kondisi air setempat sangat keruh, kotor, juga berbau tidak sedap. Nelayan dan warga di sekitar muara sungai, mengklaim limbah itu buangan pabrik.

“Sedikitnya 90 persen kerang hijau yang dibudidaya di kawasan pantai utara mati. Jelasnya, di Gebang akibat limbah yang dibuang dua pabrik PLTU yang berkekuatan masing-masing 5000 MW,” ungkap H. Suherman, SH, MBA, Ketua DPC HNSI Kab. Cirebon.

Tidak hanya itu, belasan ribu nelayan yang mengandalkan kerang hijau juga hampir kehilangan pekerjaan, karena produksi kerang hijau menurun drastis. Kini setelah ekpose kejadian keracunan kerang hijau merebak, masyarakat tidak mau mengonsumsinya.

Suherman menguraikan, selain limbah PLTU yang bermuara ke laut utara itu juga bercampur buangan pabrik Indofood, pabrik gula, pabrik Indocement, limbah pertanian, dan domestik. “Jaraknya sekitar 5 mil dari pantai, airnya sudah terkontaminasi limbah. Kami ajak pemerhati lingkungan, pemerintah bersama HNSI, lakukanlah pengecekan dan penelitian di lapangan,” ujar Suherman yang tampak geram.

Lebih jauh pengurus HNSI Kabupaten Cirebon, dalam rilisnya temuan buangan limbah pabrik berindikasikan racun yang tidak hanya berdampak pada kerang hijau, pun pada udang, kepiting, rajungan, dan jenis ikan lainnya.

“Situasi ini benar-benar menyusahkan nelayan tangkap dan budidaya laut. Produksi kerang hijau pun menurun 80 persen,” papar Suherman sembari mengungkapkan – “Beruntung, sekarang sudah ada larangan pemerintah daerah untuk tidak mengonsumsi kerang hijau.”

Uji Laboratorium

Di Bandung (24/12/2016) laporan ini bagi Ketua DPD HNSI Jawa Barat berinisiatif membawa kasus ini lebih lanjut. “Jika terbukti racun itu berasal dari limbah pabrik A, B, atau C, kami akan bawa masalah ini ke ranah hukum. Massa pun siap dikerahkan, jika perlu,” ujar H. Nandang A Permana yang dalam waktu dekat akan mengambil sampel air untuk uji laboratorium.

Kembali ke Pasir Impun Kabupaten Bandung, memungkas repotase ini Eka mewanti-wanti:”Ke depan persoalan yang sudah lama didiamkan oleh penegak lingkungan di daerah setempat, segera diungkap, temukan solusinya di lapangan. Gerakan Hejo, siap membantu menjernihkan persoalan ini dengan pendekatan budaya dan lingkungan”.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply