Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Pria Ini Mandiri di Tengah Keterbatasan Fisik

Pria Ini Mandiri di Tengah Keterbatasan Fisik - Aksi.co

Penulis Aksi | Wednesday 22 June 2016

Pria Ini Mandiri di Tengah Keterbatasan FisikPenyandang disabilitas kerap dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak, pada zaman serba bersaing seperti sekarang ini, orang-orang mesti selalu berinovasi dan jeli dalam melihat peluang serta potensi diri guna meraup pundi-pundi Rupiah.

Dewasa ini, orang-orang dengan fisik normal pun dipaksa banting tulang untuk menghidupi diri, bahkan tak jarang yang menganggur.

Pandangan tersebut ditepis oleh seorang Abdul Manan. Pria kelahiran 1981 itu membuktikan bahwa kaum difabel pun mampu bersaing di tengah zaman yang semakin keras. Bahkan, Manan mampu menghidupi dua pekerja yang memiliki tubuh normal dengan usaha bengkel las miliknya.

Tak hanya itu, Manan pun tak mau ketinggalan dalam aksi sosial. Selain mengajarkan ilmu las kepada anak-anak sekolah sekitar rumahnya, manan turut membantu penyembuhan anak bibir sumbing. Manan tidak pernah absen membantu aktivitas sosial yang berkaitan dengan masyarakat seperti membantu logistic pembangunan jembatan yang roboh dan membetulkan pipa saluran air warga.

Meski dengan keadaan fisik yang terbatas, Manan juga mampu membantu memasang genting atap masjid tanpa bantuan dan peralatan khusus.

Kendai tidak sempat mengenyam pendidikan formal seperti anak pada umumnya, bapak satu anak itu membuktikan ia punya potensi yang dapat terus digali. Tak hanya bengkel las, Manan juga bisa menjahit pakaian untuk anak-anak.

Bukan tanpa perjuangan, pada masa lalu, Manan harus berjibaku dengan rasa malu yang mendera setiap bertemu dengan orang lain, “Saya lebih milih jalan jauh memutari sawah biar tidak bertemu orang di jalan. Kalau adaakegiatan hiburan juga saya Cuma bisa memandang dari jauh sendirian karena malu dilihat orang,” tuturnya.

Sebelum membuka bengkel las di Kampung Babakan, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Manan sempat menjadi pengembala bebek dan pedagang sayuran. Manan enggan berpangku tangan kepada siapa pun.

Kepercayaan diri ia dapatkan tahun 2007 saat seseorang dari Yayasan Peduli Disabilitas Ar Rafah mengunjungi rumahnya dan memberikan penyuluhan dengan pendekatan personal secara intens. Hal tersebut berhasil menumbuhkan rasa percaya diri dan mampu menggali potensi dirinya.

Di tahun yang sama, Manan mulai memperdalam usaha bengkel las dan semakin berkembang sejak tahun 2009. Dari usaha tersebut, Manan dapat membangun rumah, membeli sepeda motor, membeli mobil, serta menikahi wanita pujaannya.

Manan berpesan, kaum difabel harus percaya diri. Setiap orang memiliki potensi dan kelebihan masing-masing yang dapat terus digali. Sekarang, waktunya kaum difabel berani muncul ke hadapan public dan menginspirasi banyak orang.***

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply