Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Taman Budaya Gelar Aneka Ragam Seni Jabar Tari Wayang

Taman Budaya Gelar Aneka Ragam Seni Jabar Tari Wayang - Aksi.co

Penulis Aksi | Sunday 15 May 2016

kepala%20Taman%20Budaya%20Jawa%20BaratTaman Budaya Jawa Barat kembali menggelar aneka ragam seni, Sabtu (14/5/2016) mulau pukul 19.30 WIB. Kali ini mengampilkan aneka Tari Wayang “Guesan Ulun Ngadeg Nalendra” dari Padepokan Sekar Pusaka Kabupaten Sumedang, pimpinan Widawati Lesmana.

Sinopsis :
” Geusan Ulun Nyakrawati Mandala Ning Pajajaran Kang Mas Pralaya, Va Ta Sirna, Ing Bhumi, Parahyangan, I Kang Kadatwan Ratu Sumedang Haneng Kuta Mayari Sumedang Mandala”

Geusan Ulun Nyakrawati Wewengkon Pajajaran Nu geus Runtuh, Nyaeta Sirna, Di Bumi Parahyangan Keraton Raja Sumedang aya di
Kutamaya. (Pustaka Kertha Bumi)

Diketahui bahwa pada hari Selasa tanggal 19 Safar tahun Jim Akhir atau tahun 986 Hijrah dan bertepatan tanggal 22 April 1578, Kadipatian Sumedang Larang menerima kepercayaan untuk melanjutkan kekuasaan Pajajaran membawahi 14 Kadipatian seluruh wilayah Pasundan kecuali wilayah Banten dan Cirebon, dengan menerima Mahkota Binokasih yang merupakan Lambang Kekuasaan.

Acara dibuka dengan Tari Suraning Pati yang menggambarkan Putri yang sedang berlatih olah kanuragan. Tarian ini dibawakan oleh Anyeu Jihan Fahira, Sa’adatun Saniah, Sevila M, dan Dewi Nurjanah.

Kemudian tari Jakasoma yang menggambarkan seorang pemuda pengelana dan biasa hidup mandiri yang penuh dedikasi tetapi mengalami kekecewaan dalam bercinta. Ide cerita dari legenda Sangkuriang. Dibawakan Attha Diffi, Allya, lzmi, Naya, dan Putri.

Lalu Tari Gawil yang merupakan tarian ibing keurseus yang berkarakter ladak. Dibawakan Nana Warna, Asep Achmad, Asep Gunawan, Agus Sudirman, dan Sopian H.

Tari Jayengrana yang menggambarkan Amir Hamzah sangat bersukacita ketika mengetahui bahwa yang membantu dalam peperangannya adalah dua orang putri Kajiman yang cantik Jelita dan mendambakan untuk diperistrinya yaitu Dewi Sirtupulaeli dari Kursinah dan Dewi Sudarawerti dari Parang-Akik.

Tarian ini diciptakan tahun 1942 ketika masyarakat Indonesia sedang mempersiapkan Revolusi yaitu menggambarkan potensi kekuatan wanita dalam berjuang jika bersatu akan membuahkan kekuatan yang besar, karena pada waktu itu masih banyak wanita-wanita yang dipingit. Penari R. Widawati Noer Lesmana. Dan ditutup dengan tarian Gandamanah  Seluruh tarian hasil koreografer R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply