Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Kilas Balik Abah Landoeng di Pulau Kalimantan

Kilas Balik Abah Landoeng di Pulau Kalimantan - Aksi.co

Penulis Aksi | Friday 14 April 2017

Kilas Balik Abah Landoeng di Pulau KalimantanCukup singkat jawaban pria gaek berusia 91 tahun yang banyak dilansir kalangan media massa sebagai “pria terkuat di dunia”. Bayangkan saja, pensiunan guru SMP Negeri 2 dan 5 kota Bandung, pada era 1994 -1994 usai bersepeda berkeliling Nusantara – wuisss ..langsung ngibrit bersepeda-ria ke Tanah Suci Mekah, Arab Saudi, sekaligus naik haji di sana. Barulah, hampir 4 bulan kemudian pulangke tanah air.

Predikatnya, pria gaek ini selain sebagai Pak Haji sebagaimana biasanya, justru oleh pejabat di Mekah sana diberi gelar “Bicycle Haj” – “Malah mau diberi uang ribuan real oleh pejabat di sana sewaktu membersihkan patung sepeda di salah satu kota. Namun saya tolak, karena niatnya semata membersihkan sepeda,” papar Abah Landoeng dengan kalem kala ia ditemui (12/4/2017) di kantornya di DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda) Jl. Riau kota Bandung.

Tualang di Kalimantan Barat

Kembali ke jawaban singkat Abah Landoeng di permulaan tulisan ini, pertanyaan utuhnya: Kemana saja Abah Landoeng selama Sembilan hari (1 – 9 April 2017 – red.) tidak terlihat di kota Bandung? Jawaban Abah Landoeng:”Hanya, sebentar ke Kalimantan Barat diundang seseorang.”

Selisik punya selisik, Abah Landoeng memang ke Kalimantan Barat selama 9 hari itu – Yang dilakukannya apa saja? Tanpa dinyana, Abah Landoeng yang kondang kini sebagai pegiat lingkungan dan pegiat anti korupsi, serta dikenal pula sebagai penjelmaan Oemar Bakri dari balada nasib guru yang malang. Terbukti, penyanyi kondang genre balad Iwan Fals adalah muridnya kala di SMPN 5 kota Bandung era 1970-an.

“Di Kalimantan itu Abah diundang Yayan, yakni cucu dari salah satu penduduk di Entikong. Kakeknya teman seperjuangan Abah kala Abah bertugas menumpas PGRS Paraku pada tahun 1964”, itu penjelasan awal Abah Landoeng sambil menunjukkan sejumlah dokumentasi foto selama di Kalimantan.

Apakah ini semacam kilas balik Abah Landoeng selama tahun 1964 di Kalimantan Utara? “Benar sekali, setelah dari Jakarta Abah ke Sanggau, Sintang, Putusibau, Senaning, Singkawang, dan kembali ke Pontianak. Semua dilakukan dengan jalan darat dan sebagian dengan perahu menyusuri sejumlah sungai di pedalaman sana”, demikian ujarnya dengan cukup rinci ia dedarkan tualangnya.

“Banyak juga yang Abah kerjakan selain bersosialisasi dengan anak-anak, juga mengobati warga seperti biasa melalui trauma healing. Hampir seperti Abah lakukan kala bencana tsunami Aceh tahun 2004, dan tsunami Pangandaran 2006 Jawa Barat, serta bencana lainnya,” urai Abah Landoeng dengan nada merendah seperti biasanya – “Nih, lihat ada yang kakinya bengkak selama ini selalu sakit, katanya setelah diobati Abah sudah berkurang sakitnya,” tuturnya lagi sambil memperlihatkan gambar di gawainya yang memuat foto penderita yang kakinya kini berkurang bengkaknya.

Saksikan Penyerahan Tas Sekolah

Salah satu yang paling berkesan selama di Kalimantan menurut Abah Landoeng, pada 7 April 2017 menyaksikan langsung, puluhan prajurit TNI dari Kodam Xll/Tanjungpura menyusun dan mengepak 650 paket perlengkapan sekolah, yang akan dikirim ke pedalaman di Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang, Kalbar.

Menurutnya, permintaan tas sekolah ini muncul setelah ramai diperbincangkan dari akun gossip di Instagram @Lambe_turah. Akun ini memposting foto para siswa siswa yang membutuhkan perlengkapan sekolah.

“Yang membanggakan Abah, kiriman Pak Presiden Jokowi untuk anak-anak SD di pelosok Kalimantan, begitu sigap dikirim para prajurit Tanjungpura. Dan sampai di tujuan, diterima anak-anak SD. Buktinya, banyak kita saksikan di media massa,” jelas Abah Landoeng dengan wajah gembira.

Nah, pembaca budiman menghilangnya Abah Landoeng selama 9 hari ke Kalimantan, yang katanya kini sudah jauh lebih maju dibanding ketika ia berada di sana era 1964, terjawab sudah.

”Hanya sedikit yang Abah lakukan, kalau bisa mah jangan banyak orang tahulah. Saya ini hanya, seorang kakek renta”, pungkasnya yang sejak awal pada tahun 2000-an mendukung berdirinya lembaga KPK – Komite Pemberantasan Korupsi!

Diketahui, Abah Landoeng dalam kegiatan sehari-harinya, kini selain sebagai pejuang lingkungan di DPKLTS bersama sesepuh Jabar Solihin GP (92), juga bersama Gerakan Hejo yang dipimpin tokoh Jabar Eka Santosa. Di dua LSM ini, ia bergiat juga sebagai pendidik dan pencegah terjadinya korupsi di berbagai level.”Abah suka sedih kalau yang terlibat korupsi itu orang yang dikenal secara pribadi. Apalagi kalau ada pejabat yang ternyata, dulu ia murid Abah ….” (HS/SA/dtn).

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply