Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Pengalaman Membuat Secangkir Kopi di BBRC 2016

Pengalaman Membuat Secangkir Kopi di BBRC 2016 - Aksi.co

Penulis Aksi | Sunday 11 December 2016

Pengalaman Membuat Secangkir Kopi di BBRC 2016Di balik secangkir gelas kopi, ada beragam cerita yang tersembunyi. Bisa jadi cerita itu berkaitan dengan latar belakang biji kopi, atau pengalaman sang penyeduh kopi itu sendiri. Terlebih jika kopi yang disiapkan tidak sekadar ada, tapi harus bersaing dalam sebuah kompetisi.

“Ada perasaan gugup dan panik juga, karena harus dipresentasikan di depan juri,” ujar Nick Claysius, seorang brewer atau penyeduh kopi ditemui di Noah’s Barn Jalan Dayangsumbi Kota Bandung, Jumat 9 Desember 2016 malam.

Dia merupakan salah satu dari 64 penyeduh kopi yang bersaing dalam Bandung Brewers Cup (BBRC) 2016. Kegiatan rutin tahunan ini diperuntukkan bagi masyarakat umum pegiat kopi, baik mereka yang sekadar hobi atau pun yang sehari-hari berprofesi sebagai pembuat dan penyaji kopi. Kopi yang digunakan dalam kompetisi ini berasal dari tanah Jawa Barat.

Sebelum kompetisi dimulai, panitia sudah terlebih dahulu membuka pendaftaran secara daring (online). Lewat media tersebut, peserta bisa mendaftarkan diri. Pendaftaran telah dibuka pada 10 November 2016 melalui registrasi online, dan ditutup pada hari yang sama karena kuota 64 peserta telah terisi dengan cepat. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kuota pada kompetisi tahun ini sebenarnya sudah bertambah. Tahun lalu, kuota hanya dibatasi hingga 48 peserta.

Pada BBRC 2016, sebanyak 64 peserta ini akan mengikuti tahap awal hingga diseleksi menjadi 12 peserta untuk mengikuti tahap berikutnya. Kemudian, perlombaan dilanjutkan dengan babak tiga besar hingga menemukan pemenang perlombaan. Perlombaan melibatkan 12 orang yang tergabung dalam tim juri, terdiri dari kalangan Q-Grader, roaster, serta pakar kopi lainnya. Seluruh kopi yang digunakan dalam perlombaan merupakan kopi dari Jawa Barat.

Nick merupakan salah satu peserta yang lolos ke babak 12 besar. Sebagai pembeda, pada babak awal peserta hanya menyeduh kopi. Sementara pada babak 12 besar, selain menyajikan mereka juga harus mempresentasikan di bagian depan dewan juri. “Ini menjadi pengalaman berbeda, karena meskipun saya tiap hari berhadapan dengan customer, beda saat berhadapan dengan dewan juri,” kata Nick, yang bekerja sebagai barista di salah satu kedai kopi di Kota Bandung ini.

Lain halnya dengan Rifqi Hawari (23) salah seorang peserta yang tidak menggeluti profesi sebagai penyeduh kopi. Dia mengaku mulai tertarik dengan penyeduhan kopi sejak Februari 2016 silam. Hingga saat ini, menyeduh kopi ditekuni sebagai sebuah kegemaran. Namun itu tidak berarti bahwa dia kalah bersaing dengan penyeduh profesional. Nyatanya, dia berhasil masuk ke babak tiga besar. “Saya memang latihan dulu sekitar dua sampai empat minggu. Buat saya, menang kalah itu belakangan, yang penting punya keyakinan dan percaya diri dulu,” ujarnya.

Pada akhir kompetisi, dia memang tidak menempati peringkat teratas. Sylvie, perwakilan panitia BBRC 2016 menuturkan, dari hasil penilaian dewan juri, poin terbesar diraih oleh Bambang Wahyu Hidayat, yang sekaligus menempatkan dia sebagai juara pada kompetisi ini. Peringkat berikutnya ditempati oleh Prayudha Adikuasa, dan Rifqi Hawari.

Namun terlepas dari peringkat yang diperoleh setiap peserta, menang kalah sepertinya bukan persoalan utama. Setidaknya bagi diri sendiri, mereka telah mencatatkan pengalaman tentang pembuatan secangkir kopi.***

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply