Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Warga Kertawangi Keluhkan Minimnya Pasokan Air

Warga Kertawangi Keluhkan Minimnya Pasokan Air - Aksi.co

Penulis Aksi | Tuesday 7 February 2017

Warga Kertawangi Keluhkan Minimnya Pasokan AirSejumlah warga Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mengeluhkan minimnya pasokan air di daerah mereka. Hal itu diduga akibat adanya oknum yang menggunakan pipa air dari sumber air di Cijangel di luar kebutuhan rumah tangga.

Diketahui, pasokan air ke Desa Kertawangi dialirkan melalui pipa air Badan Usaha Milik Daerah PT Perdana Multiguna Sarana. Sejumlah warga ini meminta aparat desa untuk memfasilitasi pertemuan dengan direksi PT PMGS. “Tadi ada ratusan warga datang ke kantor desa menyampaikan hal ini. Warga minta keluhan ini disampaikan ke BUMD agar bisa ditemukan solusinya,” ujar Iman Mulyadi, Ketua RT 4 RW 4 Desa Kertawangi, Selasa 7 Februari 2017.

Iman mengungkapkan, sudah tiga bulan terakhir debit air yang mengalir ke rumah-rumah warga kecil. Padahal, debit air dari sumber mata air di Cijangel cukup besar. Mata air Cijangel pun lokasinya tak jauh dari permukiman warga.

Ia menjelaskan, saat PT PMGS pertama kali membangun pipa induk penyaluran air bersih, BUMD tersebut meminjampakaikan pipa miliknya untuk menyalurkan air bersih ke rumah-rumah warga. Namun belakangan ini ada warga yang malah memanfaatkan air dari pipa ini bukan untuk kebutuhan rumah tangga saja.

“Atas kesepakatan warga desa dan PMGS, satu pipa induk digunakan kebutuhan rumah tangga warga. Tapi ada warga yang malah menjual dan memakainya untuk kolam pancing,” katanya.

Tak tahan dengan keadaan itu, lanjut dia, warga empat RW mendatangi kantor desa mengadukan krisis air bersih ini. Mereka meminta aparat kewilayahan memanggil PT PMGS agar memberi penjelasan peruntukan air bersih ini.

Saat dikonfirmasi, Direktur PT PMGS Edi Mukhlas mengaku baru mengetahui kondisi krisis air warga Kertawangi. Padahal menurut dia, PT PMGS sudah membantu penyaluran air bersih bagi warga sekitar dengan meminjampakai kan aset pipa induk miliknya.

“Karena menurut aturan, kami hanya boleh memanfaatkan 30 persen debit air Cijanggel. Itu sudah kami taati. Bahkan, kami meminjampakaikan pipa induk agar saluran ke warga sekitar mata air tetap terpenuhi,” katanya.

Edi juga mengaku siap membantu meluruskan permasalahan ini jika memang diminta warga dan pemerintahan setempat. Menurut dia, sebaiknya masalah ini diselesaikan secara musyawarah agar kebutuhan pokok masyarakat segera normal. “Kami terbuka untuk berkomunikasi dengan warga. Silakan datang jika ingin penjelasan langsung dari kami,” katanya.

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply