Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Eka Santosa, Citarum Nu Kuring

Eka Santosa, Citarum Nu Kuring - Aksi.co

Penulis Aksi | Thursday 6 April 2017

Eka SantosaPengurus dan aktivis forum DAS (Daerah Aliran Sungai) citarum, melihat dan mendengar apa yang terjadi di Bogor dalam rapat koordinasi, teman-teman pasti kecewa dan tidak puas atas hasil rapat tersebut. Tapi menurut saya kita tidak usah berkecil hati apalagi putus asa, karena masalah Citarum yang sudah begitu sangat parah adalah milik kita dan ada kewajiban kita untuk terus berjuang dengan segala cara dan upaya Citarum bisa pulih kembali dan berfungsi sebagi sumber kehidupan.

Bersukur masih ada kemauan dari instansi terkait yang masih peduli dan semua itu kita hargai. Tetapi tentu kita tidak bisa menyalahkan apalagi mencaci meski mereka yang hanya sekedar sebagai petugas yang tidak memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan strategis sebagaimana yang kita harapkan. Kita tahu semua berbagai persoalan mengenai kesusakan dan penyebabnya, termasuk prilaku masyarakat kita sendiri. Tapi apakah kita bijak jika rakyat yang di salahkan dan dari sejarah perjalanan peradaban masyarakat kita pada dasarnya masyarakat kita baik dan menurut kepada pemerintah.

Apapun alasannya sebenarnya tidak ada alasan pemerintah untuk tidak bisa dan tidak mampu apalagi dibantu oleh masyarakat. Tetapi aparat pemerintah bisa bergerak cepat dan tegas kalau ada perintah dan keteladanan serta kemauan politik dari atasan atau pimpinannya. Jadi kesimpulan saya tentang masalah sungai Citarum yang mendapat julukan sungai terkotor di dunia, pada dasarnya adalah masalah kepemimpinan pemerintahan terutama pimpinan pemerintahsn provinsi Jawa Barat. Bukan hanya kurang ada kepedulian atau tidak mengerti masalah lingkungan, tapi yang pasti tidak punya rasa malu memiliki predikat seperti itu dan tidak tersentuh hati nuraninya bahwa sungai citarum berbahaya bagi kehidupan dan bisa mengancam kebodohan generasi yang akan datang.

Kalau Citarum ingin berubah sebagaimana kemauan kita bersama, maka mutlak gubernur sekarang harus berhenti dan dinastinya untuk tidak diberi kesempatan lagi memimpin rakyat jawa barat. Mari kita bekerja keras untuk Citarum dan mari kita mempersiapkan dan pilih pemimpin pemerintahan Jawa Barat ke depan yang mengerti dan mencintai lingkungan dan budaya masyarakatnya serta bersih dan berwibawa.

Program penanaman bambu di sepanjang DAS Citarum yang memungkinkan 100.000 ha dari bentangan panjang sungai Citarum dari hulu sampai hilir kurang lebih 240 km sebelah kiri dan kanan, sangat dimungkinkan. Ada pun nilai ekonomis dari penanaman bambu seluas itu tanpa ada rekayasa pengelolaan dan industri nilainya bisa mencapai Rp 16 triliun dengan hitungan per batang Rp30.000 rupiah. Adapun dimana letak penanamannya di setiap Korwil dan bagaimana penanamannya, bibit dari mana, biayanya dari mana serta siapa yang mengelolanya, itu lah di antara pokok masalah yang harus segera kita bahas bersama dalam rapat koordinasi seluruh Korwil dengan pengurus DAS Citarum Jawa Barat yang oleh gubernur Jabar sekarang disebut Satgas.

Untuk percepatan penyelesaian Citarum, tidak mungkin tanpa melibatkan masyarakat dan pendekatannya harus melalui pendekatan budaya, sehingga perlu kita menumbuhkan kesadaran kembali tentang pentingnya memelihara sungai sebagai sumber kehidupan, maka bagaimana tumbuh sikap panatisme masyarakat terhadap sungai Citarum dan rasa memilikinya. Dengan bahasa sederhana slogannya citarum nu kuring.

Tentang Kelembagaan tidak perlu lagi untuk memperdebatkan perlu tidak-nya pengakuan administratif dari pemerintah daerah kabupaten atau kota dimana teman-teman berada. kewajiban kita sebagai masyarakat memberitahu dan berkoordinasi dengan aparat terkait, jadi stop tentang SK Gubernur atau SK Bupati atau Wali Kota. Legalitas pengurus Korwill kabupaten atau kota cukup dengan SK Das Citarum Jabar dan korwil bisa merekomendasikan pengurus Sub Das untuk di SK-an oleh forum Das Jabar. Sub Das bisa merekomendasikan kelompok kerja masyarakat dan di SK-an oleh korwil kabupaetn atau kota.

Semua itu di koordinasikan dan dilaporkan kepada DAS Citarum Ciliwung dan Pemda setempat melalui dinas terkait. Dalam melangkah atau opprasional organisasi, mutlak teman-teman harus melibatkan berbagai elemen dan ketokohan masyarakat setempat dan ciptakan sebagai lembaga yang dinamis inopatif dengan penekananan kepada program konservasi rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat dan bila diperlukan advokasi terhadap perusak lingkungan, pola pendekatannya ekologi, edukasi dan ekonomi.

 

Oleh: Ketua Forum DAS Citarum, Eka Santosa

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply