Username

Password

Remember me

Register

Recover password

Kadispudpar Bandung: Kaulinan Lembur Mempunyai Edukasi yang Tinggi

Kadispudpar Bandung: Kaulinan Lembur Mempunyai Edukasi yang Tinggi - Aksi.co

Penulis Mochammad Gungun | Monday 25 April 2016

Kadispudpar Bandung: Kaulinan Lembur Mempunyai Edukasi yang TinggiTembang “Cing Ciripit” merupakan salah satu lagu yang dinyanyikan anak-anak saat melakukan permainan tradisional. Biasanya lagu ini dinyanyikan saat bermain permainan kucing-kucingan. Ada lagi permainan perepet jengkol dengan tembangnya “Perepet Jengkol”. Anak-anak saling menyilangkan kaki dengan kaki temanya sambil melakukan gerakan jinjit dan berputar. Permainan berhenti manakala ada yang terjatuh.

Sejumlah kaulinan lembur atau kaulinan barudak seperti cing ciripit , paciwit-ciwit lutung, oray-orayan, perepet jengkol, congklak, dan lainya ini secara riang ditampilkan pada malam Gelar Aneka Ragam Seni di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, baru-baru ini.

Mereka tergabung dalam. Kelompok Seni Padepokan Kararange dan Padepokan Giri Mukti Kabupaten Bandung Barat.

“Permainan tradisional Sunda atau kaulinan barudak lembur saat ini kembali bergairah dan disukai anak-anak. Hanya disayangkan karena dalam beberapa kegiatan yang lebih ditonjolkan adalah lomba, akhirnya mengesampingkan nilai-nilai yang sebenarnya diciptakan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bandung, H. Herlan Joerliawan Soemardi, SP, M.Si,. saat ditemui di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bandung.

Sesuai dengan sifat permainan dan kebiasaan anak-anak, Herlan Joerliawan Soemardi permainan dilakukan hanya sebatas menghibur diri sendiri di saat senggang.

“Namun, permainan tradisional pada umumnya berisikan nilai-nilai edukatif positif berupa pelajaran hidup,” ujar Herlan Joerliawan Soemardi.

Selain itu banyak pelajaran hidup yang diajarkan dalam permainan tradisional. Selain pelajaran toleransi saling menghargai pendapat, kejujuran, kerjasama, juga kreativitas, ketangkasan, kepintaran dan kecerdikan dalam bersikap dan mengambil tindakan.

“Pelajaran-pelajaran hidup yang kaya akan nilai sosial di masyarakat tersebut, nyaris tidak ada dalam permainan modern. Permainan modern cenderung menonjolkan sifat individual dan mencari upaya untuk menjadi pemenang,” terang Herlan Joerliawan Soemardi.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan kondisi yang belakangan dikembangkan sejumlah kelompok atau komunitas serta pemerintah.

“Saat ini permainan tradisional lebih menonjolkan olah raga dan juga prestasi. Padahal permainan tradisional sebagaimana umumnya dan sifatnya hanya berupa permainan,” demikian Herlan Joerliawan Soemardi. (Adv)

Facebook Comments

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply